<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744</id><updated>2012-01-29T22:59:10.645-08:00</updated><category term='kepala sekolah'/><category term='ipa'/><category term='download'/><category term='Kuliah'/><category term='Materi Kuliah'/><category term='sekolah'/><category term='Pendidikan Karakter'/><category term='Model Pembelajaran'/><category term='Materi Pelajaran'/><category term='administrasi'/><category term='manajerial'/><category term='Pendidikan'/><category term='donasi'/><category term='PTK'/><category term='tokoh pendidikan'/><category term='kurikulum'/><category term='SUPERVISI'/><category term='teori belajar'/><category term='Matematika'/><category term='Pembelajaran dan metode'/><category term='EDS'/><category term='Bahasa'/><title type='text'>EDUCATION BLOG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>181</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5637029650844811794</id><published>2012-01-29T22:59:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T22:59:10.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Pelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajerial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN</title><content type='html'>A. MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN&lt;br /&gt;Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.&lt;br /&gt;Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa.   Sebelum berbicara, siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SINTAK MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS&lt;br /&gt;Adapun sintak dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.&lt;br /&gt;2.      Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.&lt;br /&gt;3.      Guru memberi tugas pada siswa.&lt;br /&gt;4.      Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa.  &lt;br /&gt;5.      Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.&lt;br /&gt;6.      Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa&lt;br /&gt;(Pada RPP ini, tiap siswa maju ke depan untuk membacakan puisi secara bergiliran dan siswa yang lain mengomentari puisi yang dibaca siswa dengan menggunakan kupon berbicara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS&lt;br /&gt;       Kelebihan Model Time Token Arends&lt;br /&gt;-          Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.&lt;br /&gt;-          Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali&lt;br /&gt;-          Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;-          Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)&lt;br /&gt;-          Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.&lt;br /&gt;-          Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik&lt;br /&gt;-          Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain. &lt;br /&gt;-          Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.&lt;br /&gt;-          Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.&lt;br /&gt;       Kekurangan Model Time Token Arends&lt;br /&gt;-          Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.&lt;br /&gt;-          Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.&lt;br /&gt;-          Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.&lt;br /&gt;-          Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Pembelajaran Time Token sangat tepat untuk pembelajaran struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali.&lt;br /&gt;Model pembelajaran time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa aktif berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token digunakan agar siswa aktif bertanya dalam berdiskusi. Dengan membatasi waktu berbicara misalnya 30 detik, diharapkan siswa secara adil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Time Token&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.&lt;br /&gt;2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL).&lt;br /&gt;3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.&lt;br /&gt;4. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya.&lt;br /&gt;5. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.&lt;br /&gt;6. Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-time-token-arends1998/&lt;br /&gt;http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-time-token-arends.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5637029650844811794?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5637029650844811794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-time-token.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5637029650844811794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5637029650844811794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-time-token.html' title='MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7826065480216324156</id><published>2012-01-26T22:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T22:27:02.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Kuliah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Model Pembelajaran Pair Check</title><content type='html'>A. Pengertian&lt;br /&gt;Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993.  Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Banyak kelebihan maupun kelemahan.&lt;br /&gt;Satu lagi Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. Model pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan kemampuan memberi  penilaian.&lt;br /&gt;B. Sintaks model pembelajaran Pair Cheks  &lt;br /&gt;Sintaknya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Siswa berkelompok berpasangan sebangku,&lt;br /&gt;2. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan,&lt;br /&gt;3. pengecekan kebenaran jawaban,&lt;br /&gt;4. bertukar peran,&lt;br /&gt;4. penyimpulan,&lt;br /&gt;5. evaluasi&lt;br /&gt;6. refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sintak dari model pair check&lt;br /&gt;1.      Guru menjelaskan  konsep&lt;br /&gt;2.      Siswa dibagi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam satu ti ada 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan ada yang patner.&lt;br /&gt;3.      Guru membagikan soal kepada si patner&lt;br /&gt;4.      Patner menjawab soal  , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.&lt;br /&gt;5.      Bertukar peran. Si pelatih menjadi patner dan si patner menjadi pelatih&lt;br /&gt;6.      Guru membagikan soal kepada si patner&lt;br /&gt;7.      Patner menjawab soal  , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.&lt;br /&gt;8.      Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.&lt;br /&gt;9.      Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaaban dari berbagai soal dan tim mengecek jawabannya.&lt;br /&gt;10.  Tim yang paling banyak mendapat kupon diberi hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Langkah-langkah Pembelajarannya, sebagai berikut : &lt;br /&gt;1). Bekerja Berpasangan&lt;br /&gt;Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan  mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa dalam menilai.&lt;br /&gt;2). Pelatih Mengecek&lt;br /&gt;Apabila patner benar pelatih memberi kupon.&lt;br /&gt;3). Bertukar Peran&lt;br /&gt;Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 – 3.&lt;br /&gt;4). Pasangan Mengecek&lt;br /&gt;Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.&lt;br /&gt;5). Penegasan Guru&lt;br /&gt;Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.&lt;br /&gt;Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.&lt;br /&gt;D. Kelebihan dan Kekurangan&lt;br /&gt;Kelebihannya&lt;br /&gt;1.      Dipandu belajar  melalui bantuan rekan &lt;br /&gt;2.      Menciptakan saling kerjasama di antara siswa &lt;br /&gt;3.      Increases comprehension of concepts and/or processesMeningkatkan pemahaman konsep dan / atau proses&lt;br /&gt;4.      menmemenimelatih berkomunikasi&lt;br /&gt;             Kekurangannya&lt;br /&gt;1.      memerlukan banyak waktu&lt;br /&gt;2.      memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari :&lt;br /&gt;http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-pair-checks-spencer-kagen1993/&lt;br /&gt;http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-pair-check.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7826065480216324156?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7826065480216324156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-pair-check.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7826065480216324156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7826065480216324156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-pair-check.html' title='Model Pembelajaran Pair Check'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2376093520982797935</id><published>2011-12-28T05:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T05:56:10.829-08:00</updated><title type='text'>KONSEP DAN IMPLEMENTASI PKB</title><content type='html'>A. Pengertian PKB&lt;br /&gt;PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa perubahan yang diinginkan berkaitan dengan keberhasilan siswa. Dengan demikian semua siswa diharapkan dapat mempunyai pengetahuan lebih, mempunyai keterampilan lebih baik, dan menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang materi ajar serta mampu memperlihatkan apa yang mereka ketahui dan mampu melakukannya. PKB mencakup berbagai cara dan/atau pendekatan dimana guru secara berkesinambungan belajar setelah memperoleh pendidikan dan/atau pelatihan awal sebagai guru. PKB mendorong guru untuk memelihara dan meningkatkan standar mereka secara keseluruhan mencakup bidang-bidang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai profesi. Dengan demikian, guru dapat memelihara, meningkatkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilannya serta membangun kualitas pribadi yang dibutuhkan di dalam kehidupan profesionalnya.&lt;br /&gt;Melalui kesadaran untuk memenuhi standar kompetensi profesinya serta upaya untuk memperbaharui dan meningkatkan kompetensi profesional selama periode bekerja sebagai guru, PKB dilakukan dengan komitmen secara holistik terhadap struktur keterampilan dan kompetensi pribadi atau bagian penting dari kompetensi profesional. Dalam hal ini adalah suatu komitmen untuk menjadi profesional dengan memenuhi standar kompetensi profesinya, selalu memperbaharuimya, dan secara berkelanjutan untuk terus&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;berkembang. PKB merupakan kunci untuk mengoptimalkan kesempatan pengembangan karir baik saat ini maupun ke depan. Untuk itu, PKB harus mendorong dan mendukung perubahan khususnya di dalam praktik-praktik dan pengembangan karir guru. Pada prinsipnya, PKB mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi yang didesain untuk meningkatkan karakteristik, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan sebagaimana digambarkan pada diagram berikut ini (diadopsi dari Center for Continuous Professional Development (CPD). University of Cincinnati Academic Health Center. http://webcentral.uc.edu/-cpd_online2). Dengan perencanaan dan refleksi pada pengalaman belajar guru dan/atau praktisi pendidikan akan mempercepat pengembangan pengetahuan dan keterampilan guru serta kemajuan karir guru dan/atau praktisi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKB adalah bagian penting dari proses pengembangan keprofesionalan guru. PKB tidak terjadi secara ad-hoc tetapi dilakukan melalui pendekatan yang diawali dengan perencanaan untuk mencapai standar kompetensi profesi (khususnya bagi guru yang belum mencapai standar kompetensi sesuai dengan hasil penilaian kinerja, atau dengan kata lain berkinerja rendah), mempertahankan/menjaga dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perolehan pengetahuan dan keterampilan baru. PKB dalam rangka pengembangan pengetahuan dan keterampilan merupakan tanggung-jawab guru secara individu sesuai dengan masyarakat pembelajar, jadi sangat penting bagi guru yang berada di ujung paling depan pendidikan. Oleh karena itu, agar PKB dapat mendukung kebutuhan individu dan meningkatkan praktik-praktik keprofesianalan maka kegiatan PKB harus:&lt;br /&gt;1. menjamin kedalaman pengetahuan terkait dengan materi ajar yang diampu;&lt;br /&gt;2. menyajikan landasan yang kuat tentang metodologi pembelaran (pedagogik) untuk mata pelajaran tertentu;&lt;br /&gt;3. menyediakan pengetahuan yang lebih umum tentang proses pembelajaran dan sekolah sebagai institusi di samping pengetahuan terkait dengan materi ajar yang diampu dan metodologi pembelaran (pedagogik) untuk mata pelajaran tertentu;&lt;br /&gt;4. mengakar dan merefleksikan penelitian terbaik yang ada dalam bidang pendidikan;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;5. berkontribusi terhadap pengukuran peningkatan keberhasilan peserta didik dalam belajarnya;&lt;br /&gt;6. membuat guru secara intelektual terhubung dengan ide-ide dan sumberdaya yang ada;&lt;br /&gt;7. menyediakan waktu yang cukup, dukungan dan sumberdaya bagi guru agar mampu menguasai isi materi belajadan pedagogi serta mengintegrasikan dalam praktik-praktik pembelajaran sehari-hari;&lt;br /&gt;8. didesain oleh perwakilan dari mereka-mereka yang akan berpartisipasi dalam kegiatan PKB bekerjasama dengan para ahli dalam bidangnya;&lt;br /&gt;9. mencakup berbagai bentuk kegiatan termasuk beberapa kegiatan yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Hasil Diklat PK Guru LPMP Kalsel&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2376093520982797935?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2376093520982797935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/12/konsep-dan-implementasi-pkb.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2376093520982797935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2376093520982797935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/12/konsep-dan-implementasi-pkb.html' title='KONSEP DAN IMPLEMENTASI PKB'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6829387672056137705</id><published>2011-12-01T05:53:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T05:53:34.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Contoh PTK Lomba Keberhasilan Guru Dalama Pembelajaran 2011</title><content type='html'>MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CIRI-CIRI KHUSUS PADA HEWAN MELALUI MODEL  PEMBELAJARAN NHT( NUMBERED HEAD TOGETHER ) DI KELAS VI SDN TAMBAK SIRANG BARU KECAMATAN GAMBUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH : SAHRUDIN, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidikan dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.&lt;br /&gt;Pendidikan menurut undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara ( Depdiknas, 2007 : 3 ).&lt;br /&gt;Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Depdiknas, 2007 : 8).&lt;br /&gt;Berbicara tentang pendidikan memiliki jangkauan dan kajian yang sangat luas, terutama menyangkut pembelajaran di sekolah. Sekolah dasar sebagai satuan pendidikan dasar memiliki fungsi dan peranan yang cukup penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan ke jenjang berikutnya, karena materi yang diterima di sekolah dasar merupakan dasar-dasar pengetahuan, sikap keterampilan bagi jenjang pendidikan menengah. Materi tersebut diterima oleh anak didik melalui proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;Hamalik (2008 : 36) mengemukakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan.&lt;br /&gt;Menurut Djamarah (2000 : 15), belajar adalah perubahan dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil belajar. &lt;br /&gt;Moh. Surya dalam Akhmad Sudrajat (2008) menyatakan bahwa  belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya” (Sudrajat, 2008). &lt;br /&gt;Menurut Djamarah (2006 : 37) kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Guru lah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik.&lt;br /&gt;Perkembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang semakin maju berbagai permasalahan banyak yang muncul. Di sinilah guru sebagai ujung tombak pendidikan. Strategi pembelajaran seperti apa yang harus dilakukan guru. Bagaimana mengembangkan pembelajaran di sekolah dasar yang benar-benar mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal sesuai dengan yang diharapkan. Mampukah guru mewujudkan pelajaran sebagai pelajaran yang tidak membuat siswa bosan tetapi menyenangkan bagi siswa. Guru memerlukan sarana dan prasarana yang konkret bagaimana sebaiknya mengelola kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar lebih bermakna.&lt;br /&gt;Kenyataan yang ada di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut pada materi ciri-ciri khusus pada hewan masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut. Hal ini dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut yang hanya memperoleh 47,50 pada tahun ajaran 2010 / 2011. Nilai ini masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 60,00.&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa ini adalah : guru,  proses belajar yang monoton dan tidak menarik minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Siswa merasa bosan dan jenuh dalam proses belajar mengajar. Beberapa penyebab lainnnya adalah pembelajaran di sekolah khususnya, IPA lebih menekankan pada aspek kognitif saja dengan menggunakan hafalan dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan, bukan mengembangkan keterampilan berpikir siswa, mengembangkan aktualisasi konsep dengan diimbangi pengalaman konkret dan aktivitas bereksperimen. &lt;br /&gt;Hal demikian tidak bisa dibiarkan terus menerus, karena apabila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut menurun, jika hasil belajar siswa menurun maka akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan di SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut.&lt;br /&gt;Melihat hal tersebut maka peneliti berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together). Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik, sehingga diharapkan dapat membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran serta proses belajar mengajar tidak membosankan, dengan menggunakan model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Menurut Slavin dalam Solihatin (2007 : 4) Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama dalam bekerja atau membantu diantara sesama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian tindakan kelas ini diberi judul :“Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada materi ciri-ciri khusus pada hewan  melalui Model  Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)  di Kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Ruang lingkup Penelitian Tindakan Kelas ini adalah penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar tahun pelajaran 2011 – 2012, dengan batasan-batasan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Mengacu pada Standar Kompetensi (SK) yang tertulis dala silabus yaitu :             (1.) Memahami hubungan antara ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan tempat hidupnya&lt;br /&gt;2. Hanya dibatasi satu Kompetensi Dasar (KD) yaitu : (1.1) Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah diatas dalam penelitian ini masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.&lt;br /&gt;2. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.&lt;br /&gt;3. Bagaimana penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Berdasarkan pada hal tersebut diatas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk mengetahui :&lt;br /&gt;1. Hasil belajar siswa setelah selesai mempelajari materi pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran  NHT.&lt;br /&gt;2. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran  NHT. &lt;br /&gt;3. Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat :&lt;br /&gt;1. Bagi peserta didik, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai motivasi dalam meningkatkan minat dan kemampuan siswa.&lt;br /&gt;2. Bagi guru, menambah   kreativitas   guru   untuk   menerapkan   pembelajaran   yang   bervariasi dan menambah wawasan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan   menggunakan berbagai model pembelajaran.&lt;br /&gt;3. Bagi sekolah, memberi sumbangan pemikiran terhadap proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa dan kualitas sekolah semakin baik.&lt;br /&gt;4. Bagi KKG/MGMP, menambah wawasan tentang model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dan dapat memberikan masukan pada forum KKG / MGMP.&lt;br /&gt;5. &lt;br /&gt;F. Sajian Definisi&lt;br /&gt;1. Hasil belajar  adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;2. Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik&lt;br /&gt;3. Ciri-ciri khusus pada hewan, Setiap makhluk hidup mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan makhluk lain. Ciri-ciri khusus tersebut ada pada makhluk hidup untuk mempertahankan hidup di dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk Bab Selanjutnya masih dalam tahap upload...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6829387672056137705?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6829387672056137705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/12/contoh-ptk-lomba-keberhasilan-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6829387672056137705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6829387672056137705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/12/contoh-ptk-lomba-keberhasilan-guru.html' title='Contoh PTK Lomba Keberhasilan Guru Dalama Pembelajaran 2011'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6080800673747816044</id><published>2011-11-26T03:47:00.000-08:00</published><updated>2011-11-26T05:51:45.871-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='donasi'/><title type='text'>DONASI UNTUK EDUCATION BLOG</title><content type='html'>Kami ucapkan terima kasih atas kunjungan anda di &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZbtnRPLc_Lc/TtDSb9OLtJI/AAAAAAAAApM/9OS3S2JT5os/s1600/donasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZbtnRPLc_Lc/TtDSb9OLtJI/AAAAAAAAApM/9OS3S2JT5os/s320/donasi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk peningkatan dan pengembangan kedepannya, Saya menerima sumbangan /donasi bersifat tidak mengikat dari para dermawan yang dengan keihklasan hati memberikan bantuan demi kemajuan &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG“&lt;/a&gt; Khususnya bagi dunia pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;Kami bersyukur berkat donasi dari para pengunjunglah kami dapat memperbaiki Weblog ini yang semula hanya menggunakan domain gratisan &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;(www.s1pgsd.blogspot.com)&lt;/a&gt; dengan donasi pengunjung, baik donasi secara langsung maupun lewat pembelian CD Perangkat Pembelajaran Berkarakter sehingga kami dapat membeli domain berbayar &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;(www.sriudin.com)&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;Untuk pengembangan lebih lanjut dari &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt;  kami atas nama ADMIN EDUCATION BLOG  mengharapkan keikhlasan dari para pengunjung setia       &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt; baik dari kalangan pendidik, mahasiswa, tenaga pengajar, praktisi pedidikan maupun para Dermawan yang ingin memberikan donasi nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donasi berupa uang bisa ditransfer melalui rekening dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-j9OVHEthvbs/TtDRunroxpI/AAAAAAAAApA/OxssbDJY910/s1600/bank%2Bmandiri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="145" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-j9OVHEthvbs/TtDRunroxpI/AAAAAAAAApA/OxssbDJY910/s320/bank%2Bmandiri.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANK MANDIRI KCP. BANJARBARU &lt;br /&gt;No. Rek . 031-00-0737473-2 &lt;br /&gt;a/n SAHRUDIN, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sumbangan dari Anda (para dermawan) melebihi dari cukup untuk pengembangan &lt;br /&gt;&lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt;, maka kami akan gunakan untuk kepentingan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan adanya bantuan / donasi dari para dermawan semua dapat membantu pengembangan &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt; agar dapat lebih baik lagi dalam memberikan artikel pendidikan demi kemajuan pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Donatur yang memberikan sumbangan untuk &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG ”&lt;/a&gt; akan di publikasikan di artikel“ DONASI EDUCATION BLOG “ ini sebagai tanda ucapan terima kasih dari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sudah mentransfer bisa mengirimkan info ke saya melalui email di sriudin@gmail.com atau melalui komentar di Blog &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt; atau bisa SMS kami langsung ke 0511 7319633&lt;br /&gt;Besar-kecil nya Donasi Anda sudah sangat membantu perkembangan &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;“ EDUCATION BLOG “&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut para Donatur yang telah berpartisipasi untuk EDUCATION BLOG &lt;br /&gt;1. Tanggal 14 September 2011&lt;br /&gt;ZAINAL ( Surabaya) Transfer Bank  Rp.  50.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tanggal 01 November 2011&lt;br /&gt;M. RIDWAN (Bekasi) Transfer Bank Rp.  20.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanggal 01 November 2011&lt;br /&gt;DJAFRIN HAMZAH (Gorontalo) pembelian CD Rp.  150.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tanggal 22 November 2011&lt;br /&gt;EKA ATIKA EDBIANI ( Kotabaru) pembelian CD Rp.  150.000,-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6080800673747816044?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6080800673747816044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/11/donasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6080800673747816044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6080800673747816044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/11/donasi.html' title='DONASI UNTUK EDUCATION BLOG'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZbtnRPLc_Lc/TtDSb9OLtJI/AAAAAAAAApM/9OS3S2JT5os/s72-c/donasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6223291271971766217</id><published>2011-11-10T08:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T08:45:51.318-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepala sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUPERVISI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajerial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>4 Standar Kompetensi yang harus dimiliki Kepala Sekolah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kompetensi Manajerial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.&lt;br /&gt;2. Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;3. Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.&lt;br /&gt;4. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.&lt;br /&gt;5. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.&lt;br /&gt;6. Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.&lt;br /&gt;7. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.&lt;br /&gt;8. Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;9. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.&lt;br /&gt;10. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;11. Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.&lt;br /&gt;12. Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah.&lt;br /&gt;13. Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di ekolah/madrasah.&lt;br /&gt;14. Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;15. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;16. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kompetensi Kewirausahaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.&lt;br /&gt;3. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;5. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi Supervisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.&lt;br /&gt;2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.&lt;br /&gt;3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kompetensi Kepribadian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;2. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;3. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;4. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.&lt;br /&gt;5. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;6. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah&lt;br /&gt;2. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;3. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6223291271971766217?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6223291271971766217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/11/4-standar-kompetensi-yang-harus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6223291271971766217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6223291271971766217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/11/4-standar-kompetensi-yang-harus.html' title='4 Standar Kompetensi yang harus dimiliki Kepala Sekolah'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3704421920012828062</id><published>2011-10-30T04:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T04:50:53.520-07:00</updated><title type='text'>Konsep Supervisi Akademik</title><content type='html'>Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja  guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan dan fungsi supervisi akademik&lt;br /&gt;Tujuan supervisi akademik adalah: &lt;br /&gt;a. membantu guru mengembangkan kompetensinya,&lt;br /&gt;b. mengembangkan kurikulum,&lt;br /&gt;c. mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987). &lt;br /&gt;Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-816VT6EwnxI/Tq06BqHRxYI/AAAAAAAAAkY/H1TVRbGme5c/s1600/untitled.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="235" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-816VT6EwnxI/Tq06BqHRxYI/AAAAAAAAAkY/H1TVRbGme5c/s320/untitled.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.  Tiga tujuan supervisi akademik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar (essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prinsip-prinsip supervisi akademik&lt;br /&gt;a. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.&lt;br /&gt;b. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.&lt;br /&gt;d. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.     &lt;br /&gt;e. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.&lt;br /&gt;f. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;g. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.&lt;br /&gt;h. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.&lt;br /&gt;i. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.&lt;br /&gt;j. Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.&lt;br /&gt;k. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor &lt;br /&gt;l. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).&lt;br /&gt;m. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan. &lt;br /&gt;n. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd, 1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dimensi-dimensi subtansi supervisi akademik&lt;br /&gt;a. Kompetensi kepribadian.&lt;br /&gt;b. Kompetensi pedagogik.&lt;br /&gt;c. Kompotensi profesional.&lt;br /&gt;d. Kompetensi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Contoh &lt;br /&gt;Sering dijumpai adanya kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik hanya datang ke sekolah dengan membawa instrumen pengukuran kinerja. Kemudian masuk ke kelas melakukan pengukuran terhadap kinerja guru yang sedang mengajar. Setelah itu, selesailah tugasnya, seakan-akan supervisi akademik sama dengan pengukuran kinerja guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Perilaku supervisi akademik sebagaimana diuraikan di atas merupakan salah satu contoh perilaku supervisi akademik belum baik. Perilaku supervisi akademik yang demikian tidak akan memberikan banyak pengaruh terhadap tujuan dan fungsi supervisi akademik. Seandainya memberikan pengaruh, pengaruhnya relatif sangat kecil artinya bagi peningkatan mutu  guru dalam mengelola proses pembelajaran. Supervisi akademik sama sekali bukan penilaian unjuk kerja guru. Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka.&lt;br /&gt;Hal ini sangat berbeda dengan konsep supervisi akademik. Secara konseptual, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu  kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Agar supervisi akademik dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3704421920012828062?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3704421920012828062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/konsep-supervisi-akademik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3704421920012828062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3704421920012828062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/konsep-supervisi-akademik.html' title='Konsep Supervisi Akademik'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-816VT6EwnxI/Tq06BqHRxYI/AAAAAAAAAkY/H1TVRbGme5c/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1778201099796305724</id><published>2011-10-30T04:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T04:44:38.698-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EDS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>PEDOMAN PENGGUNAAN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)</title><content type='html'>Evaluasi Diri Sekolah (EDS)  di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah  (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang  untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian  kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional PendidikanStandar Pelayanan Minimum (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan  (SNP) yang hasilnya menjadi  masukan dan dasar penyusunan  Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah.  EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan  untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional PendidikanStandar Pelayanan Minimum (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan  (SNP).&lt;br /&gt;• Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.&lt;br /&gt;• Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS. &lt;br /&gt;• TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua  pendidik dan tenaga kependidikan di  sekolah  untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.  &lt;br /&gt;• EDS juga akan melihat  visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka  diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai  kinerja sekolah yang diinginkan.&lt;br /&gt;• Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek  yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.&lt;br /&gt;• Laporan hasil EDS dikirim ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag sebagai informasi kinerja sekolah terkait pencapaian SPM dan SNP dan sebagai dasar penyusunan perencanaan pada tingkat kabupaten/kota dan propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.&lt;br /&gt;• Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.&lt;br /&gt;• Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana  pengembangan lebih lanjut.&lt;br /&gt;• Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan,  menilai keberhasilan  upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.&lt;br /&gt;• Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.&lt;br /&gt;• Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan SPM dan SNP.&lt;br /&gt;• Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.&lt;br /&gt;5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai  dengan SPM dan SNP. Setiap bagian terdiri atas :&lt;br /&gt;• Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya  yang bersifat kualitatif.&lt;br /&gt;• Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek  yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .&lt;br /&gt;• Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik. &lt;br /&gt;• Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.&lt;br /&gt;• Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.&lt;br /&gt;• Sejumlah pertanyaan terkait dengan SPM dan SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan  bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.&lt;br /&gt;• Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.&lt;br /&gt;• Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian SPM dan SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di Tingkat ke-4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di Tingkat ke-2.  Ini tidak menjadi masalah.  Tingkat pencapaian  pada setiap standar  menggambarkan keadaan seperti apa kondisi  kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian  terkait dengan pertanyaan tertentu.&lt;br /&gt;• Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.  &lt;br /&gt;• Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).&lt;br /&gt;• Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng)  pada setiap butir dalam Instrumen EDS. &lt;br /&gt;• Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata  aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.&lt;br /&gt;• Dengan menggunakan Instrumen EDS ini,  sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan  dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait. &lt;br /&gt;• Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan. &lt;br /&gt;• Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.&lt;br /&gt;• Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur.  Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.&lt;br /&gt;• Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar  peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Laporan apa yang perlu disiapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga  ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.&lt;br /&gt;• Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.&lt;br /&gt;• Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1778201099796305724?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1778201099796305724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/pedoman-penggunaan-evaluasi-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1778201099796305724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1778201099796305724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/pedoman-penggunaan-evaluasi-diri.html' title='PEDOMAN PENGGUNAAN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2323417170792274485</id><published>2011-10-19T03:24:00.000-07:00</published><updated>2011-10-19T03:24:22.531-07:00</updated><title type='text'>DOWNLOAD FREE PERANGKAT PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Kesempatan bagi anda yang ingin menjadi guru profesional&lt;br /&gt;Kami dari admin “ EDUCATION BLOG “ (www.s1pgsd.blogspot.com), memberikan kepada anda yang berprofesi sebagai tenaga pendidik (guru) SD / MI yaitu  RPP Silabus untuk SD / MI terbaru lengkap dan sudah berkarakter download disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16908320/SILABUSMATEMATIKAKELASIV-VI.doc.html"&gt;DOWNLOAD SILABUS MATEMATIKA SD/MI KELAS IV-VI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16908319/RPPMATEMATIKA.docx.html"&gt;DOWNLOAD RPP MATEMATIKA SD/MI KELAS IV-VI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDA TIDAK PUNYA WAKTU UNTUK DOWNLOAD?&lt;br /&gt;Tidak perlu khawatir “ Education Blog “ menyediakan Produk “ CD Perangkat Pembelajaran “ berkarakter yang memiliki Kaidah Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK) untuk SD / MI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi CD yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas I , Kelas II, Kelas III SD/MI&lt;br /&gt;1. SK &amp; KD Tematik Kelas I, II, dan III&lt;br /&gt;2. Pemetaan SK &amp; KD Tematik&lt;br /&gt;3. Jaring-Jaring Tema&lt;br /&gt;4. Silabus Tematik&lt;br /&gt;5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik semester 1 &amp; 2&lt;br /&gt;6. Program Semester 1 &amp; 2&lt;br /&gt;7. Program Tahunan&lt;br /&gt;8. Perhitungan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas IV , Kelas V, Kelas VI SD/MI&lt;br /&gt;1. SK &amp; KD&lt;br /&gt;2. Pemetaan SK &amp; KD&lt;br /&gt;3. Silabus Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran semester 1 &amp; 2 Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;5. Program Semester 1 &amp; 2 Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;6. Program Tahunan Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;7. Perhitungan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;Berkarakter Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga yang kami tawarkan hanya Rp. 150.000,- Gratis Ongkos Kirim&lt;br /&gt;Pesan sekarang juga !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kami berikan Bonus secara Cuma-Cuma Buku Sekolah Elektronik (BSE) semua mata pelajaran)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2323417170792274485?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2323417170792274485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/download-free-perangkat-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2323417170792274485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2323417170792274485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/download-free-perangkat-pembelajaran.html' title='DOWNLOAD FREE PERANGKAT PEMBELAJARAN'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7050702990169587958</id><published>2011-10-18T22:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T06:19:33.491-07:00</updated><title type='text'>PEMESANAN CD PERANGKAT PEMBELAJARAN (RPP, SILABUS, PROMES, PROTA, KKM)</title><content type='html'>Untuk kenyamanan dalam bertransaksi anda, kami akan selalu melayani anda dengan ramah dan memberikan pelayanan yang super cepat. Bagi anda yang akan memesan produk kami silahkan mengikuti mekanisme pemesanan yang sudah kami buat.&lt;br /&gt;Berikut adalah mekanisme &amp; proses pemesanan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Silahkan kirim pesanan anda melalui SMS&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketik :  RPP (spasi) SD (spasi) (jumlah CD) Kirim ke  05117319633&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH : RPP (spasi) SD (spasi) 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Secepatnya anda akan mendapat SMS untuk konfirmasi permintaan pembayaran dari kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anda transfer ke Bank sesuai dengan konfirmasi rekening Bank yang kami berikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setelah transfer  sejumlah uang KIRIM SMS KONFIRMASI  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketik : KONFIRMASI (SPASI) ( NAMA DAN ALAMAT TUJUAN PENGIRIMAN) ke HP. 05117319633&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. CD akan dikirim lewat paket kilat 2 – 4 hari (Posindo, TIKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SILAHKAN TRANSFER KE:&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cgAAGDY099I/Tq6e1x-s-0I/AAAAAAAAAkk/Pyb-_4cgRT4/s1600/bank-mandiri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="231" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-cgAAGDY099I/Tq6e1x-s-0I/AAAAAAAAAkk/Pyb-_4cgRT4/s320/bank-mandiri.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;BANK MANDIRI KCP. BANJARBARU  No. Rek . 031-00-0737473-2        &lt;br /&gt;a/n SAHRUDIN, S.Pd&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERIMA KASIH SUDAH MEMPERCAYAKANNYA KEPADA KAMI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7050702990169587958?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7050702990169587958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/pemesanan-cd-perangkat-pembelajaran-rpp.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7050702990169587958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7050702990169587958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/pemesanan-cd-perangkat-pembelajaran-rpp.html' title='PEMESANAN CD PERANGKAT PEMBELAJARAN (RPP, SILABUS, PROMES, PROTA, KKM)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cgAAGDY099I/Tq6e1x-s-0I/AAAAAAAAAkk/Pyb-_4cgRT4/s72-c/bank-mandiri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5983758047987938673</id><published>2011-10-18T22:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-08T00:32:27.630-08:00</updated><title type='text'>CD SILABUS, PROMES, PROTA, RPP BERKARAKTER TERBARU</title><content type='html'>Kesempatan bagi anda yang ingin menjadi guru profesional&lt;br /&gt;Kami dari admin “ &lt;a href="http://sriudin.com"&gt;EDUCATION BLOG&lt;/a&gt; “ (www.sriudin.com), menawarkan kepada anda yang berprofesi sebagai tenaga pendidik (guru) SD / MI yaitu CD RPP Silabus untuk SD / MI terbaru lengkap dan sudah berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wvEgyB4zfi4/TrjpDMveZFI/AAAAAAAAAlA/mwbOaFnAX-8/s1600/untitled.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="317" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-wvEgyB4zfi4/TrjpDMveZFI/AAAAAAAAAlA/mwbOaFnAX-8/s320/untitled.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi CD yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelas I , Kelas II, Kelas III SD/MI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. SK &amp; KD Tematik Kelas I, II, dan III&lt;br /&gt;2. Pemetaan SK &amp; KD Tematik&lt;br /&gt;3. Jaring-Jaring  Tema&lt;br /&gt;4. Silabus Tematik&lt;br /&gt;5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik semester 1 &amp; 2&lt;br /&gt;6. Program Semester 1 &amp; 2&lt;br /&gt;7. Program Tahunan&lt;br /&gt;8. Perhitungan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelas IV , Kelas V, Kelas VI SD/MI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. SK &amp; KD &lt;br /&gt;2. Pemetaan SK &amp; KD &lt;br /&gt;3. Silabus  Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  semester 1 &amp; 2 Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;5. Program Semester 1 &amp; 2 Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;6. Program Tahunan Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;7. Perhitungan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Semua Mata Pelajaran&lt;br /&gt;Berkarakter Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga yang kami tawarkan hanya &lt;b&gt;Rp. 150.000,-&lt;/b&gt; Gratis Ongkos Kirim&lt;br /&gt;Pesan sekarang juga !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kami berikan Bonus secara Cuma-Cuma Buku Sekolah Elektronik (BSE) semua mata pelajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pemesanan Klik Disini&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://s1pgsd.blogspot.com/2011/10/pemesanan-cd-perangkat-pembelajaran-rpp.html" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="118" width="250" src="http://1.bp.blogspot.com/-uTWeNXIx2nI/Tp5iksQy6EI/AAAAAAAAAg8/Xq75MCdcjHk/s320/gratis_ongkos_kirim.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANDA TIDAK PUNYA WAKTU UNTUK DOWNLOAD?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu khawatir  “ Education Blog “  menyediakan Produk “ CD Perangkat Pembelajaran “ berkarakter yang memiliki Kaidah Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK) untuk SD / MI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;APA KEUNTUNGAN MEMBELI CD RPP INI?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Waktu dan tenaga anda tidak terbuang untuk download satu per satu tiap pelajaran karena sudah tersedia dalam CD.&lt;br /&gt;• Semua Mata pelajaran dari Kelas I sampai Kelas VI sudah anda dapatkan dalam 1 CD&lt;br /&gt;• File dalam Ms.Word yang memudahkan anda untuk mengedit sesuai kebutuhan sekolah.&lt;br /&gt;• File bisa dijadikan inventaris sekolah&lt;br /&gt;• Bonus yang kami sertakan dalam CD  (Buku BSE Semua Mata pelajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BERAPA HARGA 1 CD?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Harga Normal &lt;strike&gt;Rp. 200.000,-&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berikan diskon 25 % bagi anda pembeli di bulan ini&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hanya  Rp. 150.000 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://s1pgsd.blogspot.com/2011/10/pemesanan-cd-perangkat-pembelajaran-rpp.html" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="142" width="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-SE5uzT6A6dY/Tp5kPfDE68I/AAAAAAAAAhI/rL6Qp-B9OJU/s320/cara-pemesanan-xamthone2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5983758047987938673?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5983758047987938673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/cd-silabus-promes-prota-rpp-berkarakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5983758047987938673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5983758047987938673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/cd-silabus-promes-prota-rpp-berkarakter.html' title='CD SILABUS, PROMES, PROTA, RPP BERKARAKTER TERBARU'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wvEgyB4zfi4/TrjpDMveZFI/AAAAAAAAAlA/mwbOaFnAX-8/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8345106098301547562</id><published>2011-10-18T01:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T15:55:04.316-07:00</updated><title type='text'>Cara Membuat RPP Berkarakter</title><content type='html'>Cara Membuat RPP Berkarakter - Cara Menyusun RPP. Kali ini saya memberikan cara membuat rpp, di mana sebelumnya saya sudah memberikan beberapa contoh rpp berkarakter sd/mi, smp/mts, sma/ma yang bisa anda padukan dengan cara membuat rpp ini  Langsung saja anda melihat cara membuat rpp semoga bermanfaat  &lt;br /&gt;PANDUAN PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)  &lt;br /&gt;I.    Pendahuluan  Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.   Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi  Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran,Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.    Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  Mencantumkan identitas      Nama sekolah     Mata Pelajaran     Kelas/Semester     Alokasi Waktu   Catatan:  RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam  satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Standar Kompetensi  Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar). Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut :      urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD     keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran     keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.    Kompetensi Dasar cara membuat rpp  Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu. Kompetensi Dasar dipilih dari yang tercantum dalam Standar Isi. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :      Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan Kompetensi Dasar     Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran     Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Tujuan Pembelajaran  Tujuan Pembelajaran berisi  penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    Materi Pembelajaran  Materi pembelajaran  adalah  materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.    Metode Pembelajaran/Model Pembelajaran  Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran  Untuk mencapai suatu kompetensi dasar dalam kegiatan pembelajaran harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan dalam setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan :&lt;br /&gt;a. Pendahuluan     &lt;br /&gt;Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Inti     &lt;br /&gt;Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Penutup     &lt;br /&gt;Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.    Sumber Belajar  &lt;br /&gt;Pemilihan  sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan.  Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya,  sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.    Penilaian  &lt;br /&gt;Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat dituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan  teknik  tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) cara membuat rpp  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)  Sekolah                      : ........................... &lt;br /&gt;Mata Pelajaran            : ................................... Kelas/Semester           : ................................... &lt;br /&gt;Alokasi Waktu             : ..... x  40 menit  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    Standar Kompetensi &lt;br /&gt;B.    Kompetensi Dasar &lt;br /&gt;C.   Tujuan Pembelajaran:     &lt;br /&gt;1. Siswa dapat     &lt;br /&gt;2. Siswa dapat     Dst    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  Materi Pembelajaran    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.  Model/Metode Pembelajaran  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.  Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran   &lt;br /&gt;Kegiatan Awal     &lt;br /&gt;Kegitan Inti     &lt;br /&gt;Kegiatan Akhir     dst  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.  Sumber Belajar             &lt;br /&gt;H.  Penilaian                        &lt;br /&gt;Indikator Pencapaian Kompetensi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penilaian Teknik&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bentuk Instrumen&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Instrumen  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah mudahan dengan adanya cara membuat rpp ini anda juga terbantu dalam penyusunan rpp berkarakter anda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8345106098301547562?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8345106098301547562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/cara-membuat-rpp-berkarakter.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8345106098301547562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8345106098301547562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/cara-membuat-rpp-berkarakter.html' title='Cara Membuat RPP Berkarakter'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6424397524920041363</id><published>2011-10-14T23:40:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T23:40:49.719-07:00</updated><title type='text'>Tujuh Peran Kepala Sekolah</title><content type='html'>Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan; Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien. 2. Kepala sekolah sebagai manajerDalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain. 3. Kepala sekolah sebagai administratorKhususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru. 4. Kepala sekolah sebagai supervisorUntuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran. Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik.5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerjaBudaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003). 7. Kepala sekolah sebagai wirausahawanDalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya. Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6424397524920041363?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6424397524920041363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/tujuh-peran-kepala-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6424397524920041363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6424397524920041363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/tujuh-peran-kepala-sekolah.html' title='Tujuh Peran Kepala Sekolah'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1115552841758204891</id><published>2011-10-14T23:38:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T23:38:47.647-07:00</updated><title type='text'>Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar</title><content type='html'>Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams &amp; Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor. Tugas GuruGuru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari "citra" guru di tengah-tengah masyarakat. Peran Seorang Gurua. Dalam Proses Belajar MengajarSebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:1) Demonstrator2) Manajer/pengelola kelas3) Mediator/fasilitator4) Evaluatorb. Dalam PengadministrasianDalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:1) Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan 2) Wakil masyarakat3) Ahli dalam bidang mata pelajaran4) Penegak disiplin5) Pelaksana administrasi pendidikanc. Sebagai PribadiSebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:1) Petugas sosial2) Pelajar dan ilmuwan3) Orang tua4) Teladan5) Pengamand. Secara PsikologisPeran guru secara psikologis adalah:1) Ahli psikologi pendidikan2) Relationship3) Catalytic/pembaharu4) Ahli psikologi perkembangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1115552841758204891?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1115552841758204891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/tugas-dan-peran-guru-dalam-proses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1115552841758204891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1115552841758204891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/10/tugas-dan-peran-guru-dalam-proses.html' title='Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3833118127313262237</id><published>2011-08-27T04:51:00.007-07:00</published><updated>2011-08-29T02:31:03.956-07:00</updated><title type='text'>Archieve04</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fRb97ciIm6Q/Tltb3nmxSRI/AAAAAAAAAgM/yYs8SoqSGX4/s1600/selamat-idul-fitri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-fRb97ciIm6Q/Tltb3nmxSRI/AAAAAAAAAgM/yYs8SoqSGX4/s320/selamat-idul-fitri.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kami Segenap Admin " EDUCATION BLOG " &lt;br /&gt;Mengucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI    1 SYAWAL 1432 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3833118127313262237?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3833118127313262237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3833118127313262237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3833118127313262237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve04.html' title='Archieve04'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fRb97ciIm6Q/Tltb3nmxSRI/AAAAAAAAAgM/yYs8SoqSGX4/s72-c/selamat-idul-fitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3922389599345794427</id><published>2011-08-27T04:51:00.005-07:00</published><updated>2011-11-14T02:27:19.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Pelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepala sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajerial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Kepemimpinan Pembelajaran</title><content type='html'>1. Arti Kepemimpinan Pembelajaran&lt;br /&gt;Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran, tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. Misalnya, Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Definisi ini kurang komprehensif, karena hanya memfokuskan pada guru. Ahli lain, Petterson (1993), mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya, dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya;&lt;br /&gt;b. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku. &lt;br /&gt;c. Kepala sekolah memberikan dukungan  terhadap pembelajaran, misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. &lt;br /&gt;d. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah.&lt;br /&gt;e. Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.&lt;br /&gt;Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. &lt;br /&gt;Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas, berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut, pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran.  &lt;br /&gt;Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup  pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalender. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, pengembangan bahan ajar, pemilihan buku pelajaran, pemilihan metode mengajar dan metode belajar, penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya, pengelolaan kelas, dan pemotivasian siswa. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi, metode evaluasi, dan pelaporan. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinya juga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran, dan tidak kalah penting, kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa serta membangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. Upaya-upaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan, perlengkapan, perbekalan, bahan, dan uang.&lt;br /&gt;2. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran&lt;br /&gt;Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Menurut Slamet PH (2001), kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir, daya hati, dan daya pisik/raga. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif, deduktif, ilmiah, kritis, kreatif, inovatif, lateral, dan berpikir sistem. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang, empati, kesopan santunan, kejujuran, integritas, kedisiplinan, kerjasama, demokrasi, kerendahan hati, perdamaian, repek kepada orang lain, tanggungjawab, toleransi, dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). Daya pisik meliputi kesehatan, kestaminaan, ketahanan, dan keterampilan. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi, politik, ekonomi, pendidikan, antroplogi, dan yang sejenis). Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika, fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Teknologi meliputi teknologi konstruksi, manufaktur, transportasi, telekomunikasi, energi, bio, dan bahan. Seni terdiri dari seni suara, musik, tari, kriya, dan rupa.   &lt;br /&gt;        Dengan kata-kata lain, tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya, meningkat kepuasan belajarnya, meningkat motivasi belajarnya, meningkat keingintahuannya, kreativitasnya, inovasinya, jiwa kewirausahaannya, dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran&lt;br /&gt;Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).&lt;br /&gt;Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa), mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. &lt;br /&gt;Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama, antara lain mencakup educator, manager, administrator, supervisor, motivator, enterpreneur, dan leader. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagai instructional leader, kurang memperoleh porsi yang selayaknya. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. Padahal, ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar, yang pada gilirannya, mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. Untuk itu, sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting, akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran&lt;br /&gt;        Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan:&lt;br /&gt;1).  mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan, &lt;br /&gt;2). menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan  dari pada sebagai penguasa/bos, dan&lt;br /&gt;3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak, dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku.&lt;br /&gt;b. Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel:&lt;br /&gt;1).  membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa,&lt;br /&gt;2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan,&lt;br /&gt;3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa,&lt;br /&gt;4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya, dan&lt;br /&gt;5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan, berpikir dan berperilaku positif untuk maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mengerjakan sesuatu dengan professional:&lt;br /&gt;1).  selalu membaca diri dan melakukan refleksi,&lt;br /&gt;2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri, membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki,&lt;br /&gt;3) merangkul perubahan sebagai teman, dia akan membuat anda tetap aktif, mawas diri dan berkembang,&lt;br /&gt;4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah,&lt;br /&gt;5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran&lt;br /&gt;6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas,&lt;br /&gt;7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan,&lt;br /&gt;8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian, dan&lt;br /&gt;9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran.&lt;br /&gt;d. Selalu mempertahankan:&lt;br /&gt;1). menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah,&lt;br /&gt;2) menjadi pendukung yang jelas,&lt;br /&gt;3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar, dan&lt;br /&gt;4) gembira dalam bekerja.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. Untuk itu, para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut, anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran  dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. &lt;br /&gt;Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya, maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: &lt;br /&gt;a. apa yang harus, seharusnya, dan dapat dipelajari oleh siswa,&lt;br /&gt;b. bagaimana caranya siswa itu belajar,&lt;br /&gt;c. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran,&lt;br /&gt;d. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran,&lt;br /&gt;e. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal),&lt;br /&gt;f. apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar,&lt;br /&gt;g. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa,&lt;br /&gt;h. dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu,&lt;br /&gt;i. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya,&lt;br /&gt;j. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya,&lt;br /&gt;k. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran,&lt;br /&gt;l. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran,&lt;br /&gt;m. bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa, untuk siapa  dan bagaimana cara menilainya,&lt;br /&gt;n.  bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai,&lt;br /&gt;o. kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa, &lt;br /&gt;p. siapa penyelenggara evaluasi guru,&lt;br /&gt;q. apa tujuan utama penelaian guru tersebut,&lt;br /&gt;r. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru, bagaimana pendapat anda,&lt;br /&gt;s. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa, &lt;br /&gt;t. apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah, &lt;br /&gt;u. siapa yang memutuskan penerapan program baru, melaksanakannya, atau memperbaharui dan merevisi program tersebut, dan&lt;br /&gt;v. jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif, maka tentukan apa kebutuhan siswa, apa yang harus diajarkan, bagaimana cara mengajarnya, dengan apa mengajarnya, kapan seharusnya diajarkan, dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001).&lt;br /&gt;        Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas, gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah&lt;br /&gt;b. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah&lt;br /&gt;c. yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah&lt;br /&gt;d. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut&lt;br /&gt;Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa, maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masing-masing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;a. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa, untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis?&lt;br /&gt;b. penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum?&lt;br /&gt;c. strategi, materi, dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut?&lt;br /&gt;d. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud?&lt;br /&gt;Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993), ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. Lima hal penting yang dimaksud meliputi:&lt;br /&gt;a. sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar,&lt;br /&gt;b. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan,&lt;br /&gt;c. peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah,&lt;br /&gt;d. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah, guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya, dan&lt;br /&gt;e. pembelajaran merupakan prioritas utama.&lt;br /&gt;        Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah, perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi:&lt;br /&gt;a. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap  pencapaian hasil belajar siswa,&lt;br /&gt;b. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu, dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah,&lt;br /&gt;c. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah, &lt;br /&gt;d. menilai moral dan komitmen warga sekolah, dan&lt;br /&gt;e. membangun lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan disiplin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar&lt;br /&gt;        Pada tahun 1995, melalui penelitiannya, laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton, 1995). Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah, yang meliputi hal-hal berikut: &lt;br /&gt;a. meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal,&lt;br /&gt;b. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah, termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis,&lt;br /&gt;c. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung, dalam ungkapan yang konkrit, membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir, sikap, dan tindakan warga sekolah, &lt;br /&gt;d. mencari, merekrut, dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya,&lt;br /&gt;e. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik,&lt;br /&gt;f. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain,&lt;br /&gt;g. mengetahui tentang penelitian pendidikan, menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah, urun rembuk, dan menerapkannya dalam pemecahan masalah,&lt;br /&gt;h. mencari program-program yang inovatif, amati, dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut,&lt;br /&gt;i. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjuk-petunjuk yang diberikan, cek secara berkala kesesuaian, kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian, tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan, dan monitor pelaksanaan kurikulum,&lt;br /&gt;j. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada, dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa,&lt;br /&gt;k. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru, lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran, fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran, dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru, dan&lt;br /&gt;l. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana, strategi peningkatan yang sistematis, prioritas kegiatan yang jelas, dan pendekatan-pendekatan baru, harus dilaksanakan dengan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3922389599345794427?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3922389599345794427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve03.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3922389599345794427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3922389599345794427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve03.html' title='Kepemimpinan Pembelajaran'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1899312310316561193</id><published>2011-08-27T04:51:00.003-07:00</published><updated>2011-08-27T04:51:30.658-07:00</updated><title type='text'>Archieve02</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1899312310316561193?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1899312310316561193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1899312310316561193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1899312310316561193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve02.html' title='Archieve02'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4910601901547023237</id><published>2011-08-27T04:51:00.001-07:00</published><updated>2011-10-20T01:32:06.777-07:00</updated><title type='text'>Archieve01</title><content type='html'>Foto-foto Kenang-kenangan Yudisium Tanggal 22 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-FKKnqrf0DWY/Tp_cbmiOQ2I/AAAAAAAAAjE/IifKbhh6abg/s1600/ptk3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="230" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-FKKnqrf0DWY/Tp_cbmiOQ2I/AAAAAAAAAjE/IifKbhh6abg/s320/ptk3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Istri Tercinta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4910601901547023237?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4910601901547023237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4910601901547023237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4910601901547023237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/08/archieve01.html' title='Archieve01'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FKKnqrf0DWY/Tp_cbmiOQ2I/AAAAAAAAAjE/IifKbhh6abg/s72-c/ptk3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4999459834790247007</id><published>2011-07-31T18:10:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T18:10:21.225-07:00</updated><title type='text'>Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa</title><content type='html'>Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik dan diterapkan ke dalam kurikulum melalui hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;1. Program Pengembangan Diri&lt;br /&gt;Dalam program pengembngan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari sekolah yaitu melalui hal-hal berikut.&lt;br /&gt;a. Kegiatan rutin sekolah&lt;br /&gt;Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut, dan lain-lain) setiap hari Senin, beribadah bersama atau shalat bersama setiap dhuhur (bagi yang beragama Islam), berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru, tenaga kependidikan, atau teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kegiatan spontan&lt;br /&gt;Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik itu. Contoh kegiatan itu: membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh.&lt;br /&gt;Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang tidak baik dan yang baik sehingga perlu dipuji, misalnya: memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olah raga atau kesenian, berani menentang atau mengkoreksi perilaku teman yang tidak terpuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 8. Nilai cinta damai&lt;br /&gt;c. Keteladanan&lt;br /&gt;Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai itu. Misalnya, berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 9. Menolong teman yang terluka (nilai kasih sayang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengkondisian&lt;br /&gt;Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang diinginkan. Misalnya, toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi dan alat belajar ditempatkan teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 10. Pengkondisian suasana sekolah yang bersih didukung oleh fasilitas yang memadai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4999459834790247007?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4999459834790247007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/perencanaan-pengembangan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4999459834790247007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4999459834790247007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/perencanaan-pengembangan-pendidikan.html' title='Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7714542320914828452</id><published>2011-07-13T05:59:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T05:59:12.732-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Karakter'/><title type='text'>Tujuan,   Fungsi  dan Media Pendidikan karakter  &amp; Nilai-nilai Pembentuk Karakter</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tujuan,   Fungsi  dan Media Pendidikan karakter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat  dan membangun perilaku bangsa yang multikultur;  (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.&lt;br /&gt;Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nilai-nilai Pembentuk Karakter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai  yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, &amp; (18) Tanggung Jawab (Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya &amp; Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu  tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hardiknas di Istana Negara (Selasa, 11 Mei 2010) mengutarakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”…Saudara-saudara, kalau saya berkunjung ke SD, SMP, Saudara sering mendampingi saya, sebelum saya dipresentasikan sesuatu yang jauh, yang maju, yang membanggakan, Saya lihat kamar mandi dan WC-nya bersih tidak, bau tidak, airnya ada tidak. Ada nggak tumbuhan supaya tidak kerontang di situ. Kebersihan secara umum, ketertiban secara umum. Sebab kalau anak kita TK, SD, SMP selama 10 tahun lebih tiap hari berada dalam lingkungan yang bersih, lingkungan yang tertib, lingkungan yang teratur itu ada values creation. Ada character building dari segi itu. Jadi bisa kita lakukan semuanya itu dengan sebaik-baiknya….”&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7714542320914828452?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Tujuan,   Fungsi  dan Media Pendidikan karakter  &amp; Nilai-nilai Pembentuk Karakter'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7714542320914828452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/tujuan-fungsi-dan-media-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7714542320914828452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7714542320914828452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/tujuan-fungsi-dan-media-pendidikan.html' title='Tujuan,   Fungsi  dan Media Pendidikan karakter  &amp; Nilai-nilai Pembentuk Karakter'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7120795699348093084</id><published>2011-07-13T05:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T05:56:24.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Karakter'/><title type='text'>Hakikat Pendidikan Karakter</title><content type='html'>Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025). Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJPN, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”  (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional --UUSPN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter (2010): pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik &amp; mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik  atau loving good  (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action).  Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IjasGHY9ojU/Th2VtLFxybI/AAAAAAAAAfM/B1F2MYAb1h0/s1600/alur.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="250" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-IjasGHY9ojU/Th2VtLFxybI/AAAAAAAAAfM/B1F2MYAb1h0/s320/alur.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan alur pikir pembangunan karakter bangsa, pendidikan merupakan salah satu strategi dasar dari pembangunan karakter bangsa yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara koheren dengan beberapa strategi lain. Strategi tersebut mencakup, yaitu sosialisasi/penyadaran, pemberdayaan, pembudayaan dan kerjasama seluruh komponen bangsa. Pembangunan karakter dilakukan dengan pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, politik, media massa, dunia usaha, dan dunia industri (Buku Induk Pembangunan Karakter, 2010). Sehingga satuan pendidikan adalah komponen penting dalam pembangunan karakter yang berjalan secara sistemik dan integratif bersama dengan komponen lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Diklat EDS LPMP Kalsel Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7120795699348093084?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Hakikat Pendidikan Karakter'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7120795699348093084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/hakikat-pendidikan-karakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7120795699348093084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7120795699348093084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/hakikat-pendidikan-karakter.html' title='Hakikat Pendidikan Karakter'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-IjasGHY9ojU/Th2VtLFxybI/AAAAAAAAAfM/B1F2MYAb1h0/s72-c/alur.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8033791383337527218</id><published>2011-07-13T05:40:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T05:40:37.969-07:00</updated><title type='text'>Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa</title><content type='html'>Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber  berikut ini :&lt;br /&gt;1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Diklat EDS LPMP Kalsel Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8033791383337527218?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8033791383337527218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/nilai-nilai-dalam-pendidikan-budaya-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8033791383337527218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8033791383337527218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/nilai-nilai-dalam-pendidikan-budaya-dan.html' title='Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3852857788065023281</id><published>2011-07-13T05:36:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T05:38:37.555-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Karakter'/><title type='text'>Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa</title><content type='html'>Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya, yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang, dimulai dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa) berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsa dan budaya universal yang dianut oleh ummat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing dari budaya terdekat maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa dan dia tidak mengenal dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma dan nilai budaya nasionalnya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan (valueing). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsa. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas, “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional  (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa.&lt;br /&gt;Pendidikan adalah suatu proses enkulturasi, berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu  menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta ketrampilan). Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan), bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya, perlu ada upaya  terobosan kurikulum berupa pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi pendidikan budaya dan karakter bangsa. Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:&lt;br /&gt;1. pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa; &lt;br /&gt;2. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan&lt;br /&gt;3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:&lt;br /&gt;1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;&lt;br /&gt;2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; &lt;br /&gt;3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;&lt;br /&gt;4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan&lt;br /&gt;5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Diklat EDS LMPM Kalsel Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3852857788065023281?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3852857788065023281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/landasan-pedagogis-pendidikan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3852857788065023281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3852857788065023281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/landasan-pedagogis-pendidikan-budaya.html' title='Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1583513169954066890</id><published>2011-07-13T05:31:00.001-07:00</published><updated>2011-07-13T05:34:23.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Karakter'/><title type='text'>Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa</title><content type='html'>Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,  “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan. Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam mata pelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan  karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Diklat EDS  LPMP Kalsel Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1583513169954066890?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1583513169954066890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/pengertian-pendidikan-budaya-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1583513169954066890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1583513169954066890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/pengertian-pendidikan-budaya-dan.html' title='Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-9051671415134019382</id><published>2011-07-13T03:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T03:59:10.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Model Pembelajaran Scramble</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UL-yzoU9reo/Th16aR4ULlI/AAAAAAAAAdY/04V5KaQtBSg/s1600/bu-guru.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="201" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-UL-yzoU9reo/Th16aR4ULlI/AAAAAAAAAdY/04V5KaQtBSg/s320/bu-guru.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Model Pembelajaran Scramble tampak seperti Model Pembelajaran Word Square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan namun dengan susunan yang acak, nah siswa nanti bertugas mengkoreksi ( membolak-balik huruf ) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat/benar.&lt;br /&gt;Model pembelajaran scramble tampak seperti model pembelajaran word square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat / benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelebihan Model pembelajaran Scramble :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Memudahkan mencari jawaban&lt;br /&gt;2. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut&lt;br /&gt;3. Semua siswa terlibat&lt;br /&gt;4. Kegiatan tersw dapat mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran&lt;br /&gt;5. Melatih untuk disiplin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kekurangan model pembelajaran scramble&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Siswa kurang berfikir kritis&lt;br /&gt;2. Bisa saja mencontek jawaban teman lainnya&lt;br /&gt;3. Mematikan kreatifitas siswa&lt;br /&gt;4. Siswa tinggal menerima bahan mentah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah-langkah Model pembelajaran scramble :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Guru menyajikan materi sesuai topic, misalnya guru menyajikan materi pelajaran tentang “Tata Surya”&lt;br /&gt;2. Setelah selesai menjelaskan tentang Tata Surya, guru membagikan lembar kerja dengan jawaban yang diacak susunannya.&lt;br /&gt;3. Media yang digunakan dalam model pembelajaran scramble :&lt;br /&gt;4. Buat pertanyaan yang sesuai dengan TPK&lt;br /&gt;5. Buat jawaban yang diacak hurufnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media :&lt;br /&gt;Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai&lt;br /&gt;Buat jawaban yang diacak hurufnya&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;Membagikan lembar kerja sesuai contoh.&lt;br /&gt;Susunlah huruf-huruf pada kolom B sehingga merupakan kata kunci (jawaban) dari pertanyaan pada kolom A!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom A&lt;br /&gt;1.  Sebelum mengenal uang orang melakukan pertukaran dengan cara …&lt;br /&gt;2.  … digunakan sebagai alat pembayaran yang sah&lt;br /&gt;3.  Uang … saat ini banyak dipalsukan&lt;br /&gt;4.  Nilai bahan pembuatan uang disebut nilai …&lt;br /&gt;5.  Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa disebut nilai …&lt;br /&gt;6.  Nilai perbandingan uang dalam negeri dengan mata uang asing disebut …&lt;br /&gt;7.  Nilai yang tertulis pada uang disebut nilai …&lt;br /&gt;8.  dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut …&lt;br /&gt;9.  perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di    bank untuk membayar sejumlah uang disebut …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom B&lt;br /&gt;1. TARREB ……………………………. ( Contoh : jawaban yang benar……BARTER )&lt;br /&gt;2.  GANU …………………………………&lt;br /&gt;3.  TRASEK ………………………………&lt;br /&gt;4.  KISTRINI ………………………………&lt;br /&gt;5.  LIRI ………………………………………&lt;br /&gt;6.  SRUK …………………………………&lt;br /&gt;7.  MINALON ………………………….&lt;br /&gt;8.  SAKSITRAN …………………………&lt;br /&gt;9.  KEC ……………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber referensi  dari beberapa blog pendidikan, semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-9051671415134019382?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Model Pembelajaran Scramble'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/9051671415134019382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-scramble.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/9051671415134019382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/9051671415134019382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-scramble.html' title='Model Pembelajaran Scramble'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UL-yzoU9reo/Th16aR4ULlI/AAAAAAAAAdY/04V5KaQtBSg/s72-c/bu-guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-9082906260616508475</id><published>2011-07-13T03:42:00.001-07:00</published><updated>2011-07-13T03:46:20.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Kuliah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Matematika'/><title type='text'>Model Pembelajaran Think Pair and Share  (TPS)</title><content type='html'>Model Pembelajaran Think Pair and Share menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-J1pSLd6uqOA/Th13CLqXZaI/AAAAAAAAAdQ/d43pwmb8keI/s1600/thinkpairshare.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="143" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-J1pSLd6uqOA/Th13CLqXZaI/AAAAAAAAAdQ/d43pwmb8keI/s320/thinkpairshare.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah-Langkah Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Guru menyampaikan inti materi&lt;br /&gt;2) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru&lt;br /&gt;3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya&lt;br /&gt;4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum diungkap siswa&lt;br /&gt;5) kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan yang ditemukan selama proses pembelajaran antara lain berasal dari segi siswa, yakni: siswa-siswa yang pasif, dengan metode ini mereka akan ramai dan mengganggu teman-temannnya. Tahap pair siswa yang seharusnya menyelesaikan soal dengan berdiskusi bersama pasangan satu bangku dengannya tetapi masih suka memanfaatkan kegiatan ini untuk berbicara di luar materi pelajaran, menggantungkan pada pasangan dan kurang berperan aktif dalam menemukan penyelesaian serta menanyakan jawaban dari soal tersebut pada&lt;br /&gt;pasangan yang lain. Jumlah siswa di kelas juga berpengaruh terhadap pelaksanaan metode think pair share ini. Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok. Akibatnya terdapat kelompok yang beranggotakan lebih dari 2 (dua) siswa. Hal ini akan memperlambat proses diskusi pada tahap pair, karena pasangan lain telah menyelesaikan sementara satu siswa tidak mempunyai pasangan. Hambatan lain yang ditemukan yaitu dari segi waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan lain yang terjadi pada tahap think adalah ketidaksesuaian antara waktu yang direncanakan dengan pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan siswa yang suka mengulur-ulur waktu dengan alasan pekerjaan belum diselesaikan. Hal ini berdampak pada hasil belajar ranah kognitif, yaitu siswa kurang menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya. Metode ini membutuhkan banyak waktu karena terdiri dari 3 (tiga) langkah yang harus dilaksanakan oleh seluruh siswa yang meliputi tahap think, pair, share. Untuk mengatasi hambatan dalam penerapan metode kooperatif think pair share yaitu guru akan berkeliling kelas dengan mengingatkan kembali tahap-tahap yang harus siswa lalui. Hal tersebut dilakukan agar siswa tertib dalam melalui setiap tahapnya dalam proses pembelajaran ini. Guru akan memberikan point pada&lt;br /&gt;siswa, jika siswa tersebut mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan atau memberikan sanggahan pada tahap share.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memiliki prosedur secara eksplisit sehingga model pembelajaran Think-Pair-Share dapat disosialisasikan dan &lt;br /&gt;digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Keunggulan lain dari pembelajaran ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tipe Think-Pair-Share ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, &lt;br /&gt;2004:57). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping mempunyai keunggulan, model pembelajaran Think-Pair-Share juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah: (1) metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah, (2) sangat memerlukan kemampuan dan ketrampilan guru, waktu pembelajaran berlangsung guru melakukan intervensi secara maksimal, (3) menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak dan, (4) mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa (Lie : 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran Think-Pair- Share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan &lt;br /&gt;orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57). Model pembelajaran Think-Pair-Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. &lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair- Share adalah: (1) guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok, (2) setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri, (3) siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok &lt;br /&gt;dan berdiskusi dengan pasangannya, (4) kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004: 58). Think-Pair-Share memiliki prosedur ynag ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru &lt;br /&gt;saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut. &lt;br /&gt;Langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair-Share sederhana, namun penting trutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok (http: // home. att-net/_clnetwork/think ps.htm). Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 1 : Thingking (berpikir) &lt;br /&gt;Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 2 : Pairing &lt;br /&gt;Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. &lt;br /&gt;Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 3 : Sharing (berbagi) &lt;br /&gt;Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah atau alur pembelajaran dalam model Think-Pair-Share adalah: &lt;br /&gt;Langkah ke 1 : Guru menyampaikan pertanyaan&lt;br /&gt;Aktifitas : Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ke 2 : Siswa berpikir secara individual &lt;br /&gt;Aktifitas : Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah ke 3: Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas : Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ke 4 : Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas &lt;br /&gt;Aktifitas : Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ke 5 : Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah &lt;br /&gt;Aktifitas : Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah ang telah mereka diskusikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share &lt;br /&gt;memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara didepan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya. &lt;br /&gt;Menurut Spencer Kagan ( dalam Maesuri, 2002:37) manfaat Think-Pair-Share adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin &lt;br /&gt;mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share&lt;br /&gt;Model Think-Pair-Share tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model Think-Pair-Share dapat juga disebut sebagai model belajar-mengajar berpasangan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985 (Think-Pair-Share) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royaong. Model ini memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think-Pair-Share sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu model pembelajaran Think-Pair-Share memiliki langkah-langkah tertentu. Menurut Muslimin (2001: 26) langkah-langkah Think-Pair-Share ada tiga yaitu : Berpikir (Thinking), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahap 1 : Thinking (berpikir)&lt;br /&gt;Kegiatan pertama dalam Think-Pair-Share yakni guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara untuk beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 2 : Pairing (berpasangan)&lt;br /&gt;Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap 3 : Share (berbagi)&lt;br /&gt;Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari Think-Pair-Share ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, model Think-Pair-Share ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan anak didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPS&lt;br /&gt;Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah: a) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan b) siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, c) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12). Senada dengan pendapat Hartina, Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah 1) akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah: 1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor, 2) lebih sedikit ide yang muncul, dan 3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan-tahapan dalam pembelajaran think-pair-share sederhana, namun penting terutama dalam menghindari kesalahan dalam kerja kelompok. Dalam model ini guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Adanya kegiatan berpikir-berpasangan-berbagi dalam metode thinkpair-share memberi banyak keuntungan. Siswa secara individual dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time) sehingga kualitas jawaban siswa juga dapat meningkat. Menurut Nurhadi (2003: 65), akuntabilitas berkembang karena setiap siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di depan kelas paling tidak memberi ide atau jawaban kepada pasangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelebihan metode pembelajaran TPS menurut Ibrahim, dkk. (2000:6):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan metode pembelajaran TPS menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru di awal pertemuan sehingga diharapkan siswa mampu memahami materi dengan baik sebelum guru menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan&lt;br /&gt;mempengaruhi hasil belajar mereka.&lt;br /&gt;3. Angka putus sekolah berkurang. Model pembelajaran TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik daripada pembelajaran dengan model konvensional.&lt;br /&gt;4. Sikap apatis berkurang. Sebelum pembelajaran dimulai, kencenderungan siswa merasa malas karena proses belajar di kelas hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru dan menjawab semua yang ditanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan metode konvensional. &lt;br /&gt;5. Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif di dalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang disampaikan oleh guru. Dengan pembelajaran TPS hal ini&lt;br /&gt;dapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang diberikan oleh guru.&lt;br /&gt;6. Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam PBM adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa. Dengan pembelajaran TPS perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi secara bertahap. Sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat lebih optimal.&lt;br /&gt;7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerjasama yang diterapkan dalam model pembelajaran TPS menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan metode TPS adalah pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang dapat timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian kehilangan rasa percaya diri, saling mengganggu antar siswa (Ibrahim,2000:18).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-9082906260616508475?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Model Pembelajaran Think Pair and Share  (TPS)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/9082906260616508475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and-share.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/9082906260616508475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/9082906260616508475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and-share.html' title='Model Pembelajaran Think Pair and Share  (TPS)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-J1pSLd6uqOA/Th13CLqXZaI/AAAAAAAAAdQ/d43pwmb8keI/s72-c/thinkpairshare.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2482350509303543931</id><published>2011-06-05T01:48:00.001-07:00</published><updated>2011-10-20T01:43:20.667-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)</title><content type='html'>Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagan  dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Herdian, 2009).&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembelajaran NHT (Numbered Head Together)&lt;br /&gt;Menurut Suyatno (2009 : 53) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran NHT  (Numbered Head Together) yaitu :&lt;br /&gt;1) Mengarahkan&lt;br /&gt;2) Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu&lt;br /&gt;3) Memberikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok.&lt;br /&gt;4) Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas.&lt;br /&gt;5) Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa.&lt;br /&gt;6) Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto tahapan pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pdOlxGZz1JQ/TeswHE8fQ6I/AAAAAAAAAV8/guXLAWyarYg/s1600/100_2600.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-pdOlxGZz1JQ/TeswHE8fQ6I/AAAAAAAAAV8/guXLAWyarYg/s320/100_2600.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Guru sedang memberikan penjelasan materi pelajaran dengan menggunakan media pembelajaran sederhana&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rBUeGb9Rkxw/Tp_eRSnHTyI/AAAAAAAAAjc/YrAueLvzkoE/s1600/ptk1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-rBUeGb9Rkxw/Tp_eRSnHTyI/AAAAAAAAAjc/YrAueLvzkoE/s320/ptk1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VBlHtiAYjlc/Tp_eXb5zqvI/AAAAAAAAAjo/ZHN_KkodSUM/s1600/ptk2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-VBlHtiAYjlc/Tp_eXb5zqvI/AAAAAAAAAjo/ZHN_KkodSUM/s320/ptk2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara heterogen dan guru membimbing siswa dalam kegiatan kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wwXyjPFgJFM/Tet09s920-I/AAAAAAAAAWM/I1KNweEKBEk/s1600/100_2617.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-wwXyjPFgJFM/Tet09s920-I/AAAAAAAAAWM/I1KNweEKBEk/s320/100_2617.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-iAh_QaQJnzk/Tet1FOX6YrI/AAAAAAAAAWU/Xmr_GqnaT0Q/s1600/100_2623.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-iAh_QaQJnzk/Tet1FOX6YrI/AAAAAAAAAWU/Xmr_GqnaT0Q/s320/100_2623.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mengadakan kuis individual&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8nNOr84a71k/Tet1LkczJoI/AAAAAAAAAWc/J_YvXieGw9g/s1600/100_2625.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-8nNOr84a71k/Tet1LkczJoI/AAAAAAAAAWc/J_YvXieGw9g/s320/100_2625.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qwgJURuLflA/Tet1RZnSpUI/AAAAAAAAAWk/ag40hdV6_ec/s1600/100_2626.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-qwgJURuLflA/Tet1RZnSpUI/AAAAAAAAAWk/ag40hdV6_ec/s320/100_2626.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mengumumkan hasil kuis dan memberikan penghargaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2482350509303543931?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2482350509303543931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/06/model-pembelajaran-nht-numbered-head.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2482350509303543931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2482350509303543931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/06/model-pembelajaran-nht-numbered-head.html' title='Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pdOlxGZz1JQ/TeswHE8fQ6I/AAAAAAAAAV8/guXLAWyarYg/s72-c/100_2600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7118118885100274546</id><published>2011-05-18T06:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T06:41:05.289-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw</title><content type='html'>Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperloleh, hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak nya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalakan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpulang pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah kooperatif tipe jigsaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan kooperatif tipe jigsaw meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.Meningkatkan  bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Disini, peran guru adalah mefasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli.Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakuakn diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal.  Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang biberikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7118118885100274546?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7118118885100274546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7118118885100274546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7118118885100274546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw.html' title='Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4724291192286307547</id><published>2011-05-14T17:27:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T17:27:10.824-07:00</updated><title type='text'>Supervisi Akademik (part 1)</title><content type='html'>1. Konsep Supervisi Akademik&lt;br /&gt;Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja  guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan dan fungsi supervisi akademik&lt;br /&gt;Tujuan supervisi akademik adalah: &lt;br /&gt;a. membantu guru mengembangkan kompetensinya,&lt;br /&gt;b. mengembangkan kurikulum,&lt;br /&gt;c. mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987). &lt;br /&gt;Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jKpNifXZr-w/Tc8doFs2owI/AAAAAAAAAVs/eXHl2a9VAUM/s1600/ss.bmp" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="206" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-jKpNifXZr-w/Tc8doFs2owI/AAAAAAAAAVs/eXHl2a9VAUM/s320/ss.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar (essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Prinsip-prinsip supervisi akademik&lt;br /&gt;a. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.&lt;br /&gt;b. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.&lt;br /&gt;d. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.     &lt;br /&gt;e. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.&lt;br /&gt;f. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;g. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.&lt;br /&gt;h. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.&lt;br /&gt;i. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.&lt;br /&gt;j. Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.&lt;br /&gt;k. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor &lt;br /&gt;l. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).&lt;br /&gt;m. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan. &lt;br /&gt;n. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd, 1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dimensi-dimensi subtansi supervisi akademik&lt;br /&gt;a. Kompetensi kepribadian.&lt;br /&gt;b. Kompetensi pedagogik.&lt;br /&gt;c. Kompotensi profesional.&lt;br /&gt;d. Kompetensi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Contoh &lt;br /&gt;Sering dijumpai adanya kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik hanya datang ke sekolah dengan membawa instrumen pengukuran kinerja. Kemudian masuk ke kelas melakukan pengukuran terhadap kinerja guru yang sedang mengajar. Setelah itu, selesailah tugasnya, seakan-akan supervisi akademik sama dengan pengukuran kinerja guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Perilaku supervisi akademik sebagaimana diuraikan di atas merupakan salah satu contoh perilaku supervisi akademik belum baik. Perilaku supervisi akademik yang demikian tidak akan memberikan banyak pengaruh terhadap tujuan dan fungsi supervisi akademik. Seandainya memberikan pengaruh, pengaruhnya relatif sangat kecil artinya bagi peningkatan mutu  guru dalam mengelola proses pembelajaran. Supervisi akademik sama sekali bukan penilaian unjuk kerja guru. Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka.&lt;br /&gt;Hal ini sangat berbeda dengan konsep supervisi akademik. Secara konseptual, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu  kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Agar supervisi akademik dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4724291192286307547?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4724291192286307547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/supervisi-akademik-part-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4724291192286307547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4724291192286307547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/supervisi-akademik-part-1.html' title='Supervisi Akademik (part 1)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jKpNifXZr-w/Tc8doFs2owI/AAAAAAAAAVs/eXHl2a9VAUM/s72-c/ss.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8342155461053875922</id><published>2011-05-11T21:52:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:45:42.310-07:00</updated><title type='text'>KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH</title><content type='html'>Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah dan pengelolaan sekolah/madrasah, kepala sekolah dapat melakukan PTS sekaligus sebagai sarana pengembangan profesinya  (Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru), PTS merupakan penelitian yang berawal dari permasalahan sekolah, diselesaikan melalui tindakan spesifik dari gagasan peneliti untuk mengatasi permasalahan sekolah. Dengan  demikian, yang pertama harus ada dalam setiap penelitian termasuk PTS bukanlah diawali dengan membuat judul tetapi diawali dengan menemukan adanya masalah.  &lt;br /&gt;Masalah-masalah yang akan dirumuskan adalah masalah-masalah aktual  dan sangat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan. Jika masalah-masalah itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap sekolah.  Oleh karena itu, diperlukan tindakan spesifik yang diyakini benar-benar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. &lt;br /&gt; Saat ini, penelitian paling banyak dilakukan oleh guru, kepala sekolah/madrasah    dan pengawas sekolah/madrasah    adalah penelitian tindakan. Penelitian tindakan yang dilakukan guru disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah    dan pengawas sekolah/madrasah    disebut PTS. PTK bertujuan memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas, sedangkan  PTS bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Definisi PTS    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  PTS adalah tindakan ilmiah  yang dilakukan kepala sekolah/madrasah    untuk memecahkan masalah di sekolah/madrasah yang dibinanya &lt;br /&gt;        (Mills, 2003;  Stringer, 2004; Glickman etr al., 2007; Hopkins,2008). Berdasarkan definisi tersebut, maka ciri utama PTS adalah melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan sekolah yang berfokus pada  peningkatkan mutu pembelajaran oleh guru yang mampu menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan PTS&lt;br /&gt;Tujuan PTS adalah untuk:&lt;br /&gt;1. Memperbaiki kondisi saat ini yang terjadi di sekolah (ini yang paling utama),&lt;br /&gt;2. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, hasil pendidikan, manajemen dan pembelajaran termasuk mutu guru khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran yang mampu menciptakan siswa yang kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan;&lt;br /&gt;3. Meningkatkan kemampuan profesional sebagai kepala sekolah/madrasah;&lt;br /&gt;4. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sehingga tercipta sikap kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan kewirausahaan di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;5. Membimbing guru dalam membuat proposal, melaksanakan, dan melaporkan hasil PTS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ciri-ciri PTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ciri utama  PTS adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Adanya tindakan nyata untuk mengatasi masalah (ini ciri yang paling utama). &lt;br /&gt;2. Didasarkan pada masalah yang dihadapi kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;3. Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya.&lt;br /&gt;4. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi.&lt;br /&gt;5. Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan praktik manajemen sekolah yang berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran. &lt;br /&gt;6. Dilaksanakan minimal dua siklus. Setiap siklus ada empat tahap yaitu  perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (Basuki Wibawa,2004).&lt;br /&gt;D. Etika dalam Melaksanakan PTS&lt;br /&gt;Ketika melaksanakn PTS perlu memperhatikan etika antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Bersikap jujur misalnya tidak plagiat, tidak fiktif, dan tidak merubah data, menuliskan sumber referensi yang dikutip.&lt;br /&gt;2. Tidak boleh mengganggu tugas pokok dan fungsi kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;3. Tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru dan kegiatan pendidikan yang sedang berlangsung di sekolah.&lt;br /&gt;4. Jangan terlalu banyak menyita waktu dalam pengambilan data, dan lain-lain.&lt;br /&gt;5. Meminta ijin kapada orang-orang yang diteliti.&lt;br /&gt;6. Menjamin kerahasiaan data responden yang diteliti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8342155461053875922?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8342155461053875922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/konsep-penelitian-tindakan-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8342155461053875922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8342155461053875922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/konsep-penelitian-tindakan-sekolah.html' title='KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2067287643814607500</id><published>2011-05-06T06:17:00.001-07:00</published><updated>2011-05-06T06:17:51.561-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA MELALUI MATA PELAJARAN, MUATAN LOKAL, KEPRIBADIAN, DAN BUDAYA SEKOLAH</title><content type='html'>A. Pendekatan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa:&lt;br /&gt;1. berkelanjutan&lt;br /&gt;2. melalui semua mata pelajaran (saling menguatkan), muatan lokal, kepribadian, dan budaya sekolah&lt;br /&gt;3. nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan&lt;br /&gt;4. dilaksanakan melalui proses belajar aktif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa adalah sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. Sejatinya, proses tersebut dimulai dari kelas satu SD atau tahun pertama dan berlangsung paling tidak sampai kelas 9 atau kelas terakhir SMP. Pendidikan budaya dan karakter bangsa di SMA adalah kelanjutan dari proses yang telah terjadi selama 9 tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui semua mata pelajaran, muatan lokal, kepribadian, dan budaya sekolah mensyaratkan bahwa proses pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui setiap mata pelajaran, dan dalam setiap kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. Gambar 1 berikut ini memperlihatkan pengembangan nilai-nilai tersebut melalui keempat jalur tadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa melalui berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Isi (SI), diambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 2: Pengembangan Nilai-nilai Budaya dan  Karakter Bangsa Melalui Setiap Mata Pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan mengandung makna bahwa materi nilai-nilai budaya dan karakter  bangsa bukanlah bahan ajar biasa. Artinya, nilai-nilai tersebut tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta seperti dalam mata pelajaran agama, bahasa Indonesia, PKn, IPA, IPS, matematika, pendidikan jasmani  dan kesehatan, seni, ketrampilan, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Oleh karena itu guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari prinsip ini nilai-nilai budaya dan karakter bangsa tidak ditanyakan dalam ulangan ataupun ujian. Walaupun demikian, peserta didik perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna sebuah nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dilakukan oleh peserta didik  bukan oleh guru. Guru menerapkan prinsip ”tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan perkenalan terhadap pengertian nilai yang dikembangkan maka guru menuntun peserta didik agar secara aktif (tanpa mengatakan hal ini kepada peserta didik) menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perencanaan Pengembangan Pendidikan Nilai-nilai Budaya dan Karakter Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa dikembangkan dalam setiap pokok bahasan dalam mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus. Pengembangan nilai-nilai tersebut dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. mengkaji SK dan KD untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang tercantum di atas sudah tercakup didalamnya&lt;br /&gt;2. menggunakan tabel yang memperlihatkan keterkaitan antara SK/KD dengan nilai dan indikator&lt;br /&gt;3. mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam tabel tersebut ke dalam silabus&lt;br /&gt;4. mengembangkan RPP berdasarkan silabus yang sudah disusun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengembangan Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui berbagai kegiatan belajar di :&lt;br /&gt;1. kelas&lt;br /&gt;2. sekolah&lt;br /&gt;3. luar sekolah melalui kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan lain yang dirancang sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penilaian Hasil Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian pencapaian nilai-nilai budaya dan karakter didasarkan pada indikator. Sebagai contoh, indikator untuk nilai jujur di suatu semester dirumuskan dengan “mengatakan dengan sesungguhnya perasaan dirinya mengenai apa yang dilihat/diamati/ dipelajari/dirasakan”  maka guru mengamati (melalui berbagai cara) apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja peserta didik menyatakan perasaannya itu secara lisan tetapi dapat juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh. Perasaan yang dinyatakan itu mungkin saja memiliki gradasi dari perasaan yang tidak berbeda dengan perasaan umum teman sekelasnya sampai bahkan kepada yang bertentangan dengan perasaan umum teman sekelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada di kelas atau di sekolah. Model yang dinamakan anecdotal record (catatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan) selalu dapat digunakan guru. Selain itu guru dapat pula memberikan tugas yang berisikan suatu persoalan atau hal yang menuntut peserta didik mengemukakan posisi dirinya atau kesesuaian/ketidaksesuaian sikap dirinya terhadap persoalan tersebut.   Sebagai contoh, peserta didik dimintakan sikapnya terhadap upaya menolong pemalas, memberikan bantuan terhadap orang kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, laporan, dan sebagainya guru dapat memberikan kesimpulannya/pertimbangan tentang pencapaian suatu indikator atau bahkan suatu nilai. Kesimpulan/pertimbangan tersebut dapat dinyatakan dalam  pernyataan kualitatif sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BT =  Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda- tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).&lt;br /&gt;MT =  Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten)&lt;br /&gt;MB  =  Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten)&lt;br /&gt;MK =  Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara  konsisten)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2067287643814607500?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2067287643814607500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/pengembangan-pendidikan-budaya-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2067287643814607500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2067287643814607500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/pengembangan-pendidikan-budaya-dan.html' title='PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA MELALUI MATA PELAJARAN, MUATAN LOKAL, KEPRIBADIAN, DAN BUDAYA SEKOLAH'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7692100006772765898</id><published>2011-05-03T06:35:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T06:35:34.184-07:00</updated><title type='text'>Contoh RPP Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT</title><content type='html'>&lt;b&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;(RPP)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah  :  SDN Tambak Sirang Baru Kec. gambut&lt;br /&gt;Kelas  :  V ( Lima )&lt;br /&gt;Semester :  2 (Dua)&lt;br /&gt;Alokasi Waktu :  2 x 35 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;6. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya atau model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Kompetensi Dasar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;6.1. Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Indikator &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Mendemonstrasikan sifat cahaya yang mengenai berbagai benda (bening, berwarna, dan gelap)&lt;br /&gt;2. Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya yang mengenai cermin datar dan cermin lengkung (cembung atau cekung).&lt;br /&gt;D. Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;Melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran NHT, siswa dapat :&lt;br /&gt;1. mengetahui sifat-sifat cahaya yang mengenai berbagai benda.&lt;br /&gt;2. Mencari informasi tentang sifat-sifat cahaya yang mengenai cermin datar dan cermin lengkung.&lt;br /&gt;3. Melakukan percobaan untuk mengenal sifat bayangan pada cermin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;E. Materi Ajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       Cahaya dan sifat-sifatnya&lt;br /&gt;Cahaya membuat kita dapat melihat benda-benda di sekitar kita. Bagaimana cahaya dapat membantu kita dalam melihat suatu benda? Marilah kita mencari jawabannya dalam bab ini!&lt;br /&gt;A. Sifat-Sifat Cahaya&lt;br /&gt;Cahaya mempunyai sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat cahaya banyak manfaatnya bagi kehidupan. Apa sajakah sifat-sifat cahaya itu?&lt;br /&gt;1. Cahaya Merambat Lurus&lt;br /&gt;2. Cahaya Dapat Dipantulkan&lt;br /&gt;3. Cahaya Dapat Dibiaska&lt;br /&gt;4. Cahaya Dapat Diuraikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Model dan Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;1. Model Pembelajaran  NHT (Numbered Head Together)&lt;br /&gt;2. Metode : Ceramah, Tanya Jawab, penugasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;G. Skenario Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Kegiatan Awal&lt;br /&gt;a. Guru mengajak semua siswa berdo’a bersama-sama&lt;br /&gt;b. Mengkondisikan kelas&lt;br /&gt;c. Mengecek kehadiran siswa&lt;br /&gt;d. Menuliskan tujuan pelajaran tentang materi cahaya dan alat optik&lt;br /&gt;e. Melakukan appersepsi yaitu dengan mengajak siswa bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kegiatan Inti&lt;br /&gt;a. Guru menuliskan judul pembahasan di papan tulis yaitu cahaya dan alat optik&lt;br /&gt;b. Guru menjelaskan materi tentang materi cahaya dan alat optik dengan menggunakan media yang telah disiapkan guru, kemudian melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi pelajaran yang disampaikan&lt;br /&gt;c. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok dibagi secara heterogen dan setiap siswa dalam kelompok diberikan nomor yang berbeda, dan setiap anggota kelompok dibagikan Lembar Kerja Siswa (LKS)&lt;br /&gt;d. Dengan bimbingan guru setiap kelompok mendiskusikan LKS bersama anggota kelompoknya.&lt;br /&gt;e. Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.&lt;br /&gt;f. Guru dan siswa mengadakan tanya jawab &lt;br /&gt;g. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok mendapatkan nila tertinggi dan siswa yang berhasil menjawab soal yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kegiatan Akhir&lt;br /&gt;a. Guru melakukan kegiatan refleksi&lt;br /&gt;b. Guru dan siswa menyimpulkan pelajaran bersama-sama&lt;br /&gt;c. Siswa mengerjakan soal evaluasi yang diberikan guru, soal evaluasi tersebut dikerjakan secara individu&lt;br /&gt;d. Guru memberikan saran dan nasihat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;H. ALAT DAN SUMBER BELAJAR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Buku Sekolah Elektronik “ SAINS” untuk kelas V SD/MI Penerbit Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)&lt;br /&gt;3. Silabus Mata Pelajaran IPA Kelas V SD&lt;br /&gt;4. Gambar-Gambar&lt;br /&gt;5. Nomor  siswa&lt;br /&gt;6. Soal Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I. PENILAIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.  Teknik Penilaian  :  tes tertulis dan lisan&lt;br /&gt;2.  Instrumen penilaian  :  Soal evaluasi &lt;br /&gt;3.  Rumusan tes dan Kunci jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Evaluasi&lt;br /&gt;1. Peristiwa yang merupakan bukti cahaya merambat lurus yaitu . . . .&lt;br /&gt;a.  Memantulnya cahaya pada cermin&lt;br /&gt;b.  Rambatan cahaya matahari yang lurus ketika melewati genting kaca&lt;br /&gt;c.  Cahaya menembus benda bening&lt;br /&gt;d.  Terbentuknya pelangi pada saat hujan&lt;br /&gt;2.  Kita dapat melihat benda di balik kaca jendela, karena . . . .&lt;br /&gt;a.  Kaca jendela tipis&lt;br /&gt;b.  Kaca jendela mengilap&lt;br /&gt;c.  Cahaya dapat melewati kaca&lt;br /&gt;d.  Benda memancarkan cahaya&lt;br /&gt;3. Di bawah ini yang termasuk benda tembus cahaya yaitu . . . .&lt;br /&gt;a.  Kertas  c.  Air jernih&lt;br /&gt;b. Tripleks  d.  Kayu&lt;br /&gt;4. Di antara jenis benda berikut yang biasa digunakan untuk bercermin yaitu . . . .&lt;br /&gt;a.  Cermin datar&lt;br /&gt;b.   Cermin cembung&lt;br /&gt;c.   Cermin cekung&lt;br /&gt;d.   Lensa cembung&lt;br /&gt;5.  Bayangan yang dibentuk oleh cermin datar mempunyai sifat . . . .&lt;br /&gt;a.  Jarak benda ke cermin sama dengan jarak bayangan ke cermin&lt;br /&gt;b.  Bayangan bersifat nyata&lt;br /&gt;c.  Bayangan terbalik&lt;br /&gt;d.  Bayangan lebih kecil daripada benda aslinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Jawaban&lt;br /&gt;1. c.  Cahaya menembus benda bening&lt;br /&gt;2. c.  Cahaya dapat melewati kaca&lt;br /&gt;3. c.  Air jernih&lt;br /&gt;4. a.  Cermin datar&lt;br /&gt;5. c.  Bayangan terbalik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7692100006772765898?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7692100006772765898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/contoh-rpp-model-pembelajaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7692100006772765898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7692100006772765898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/05/contoh-rpp-model-pembelajaran.html' title='Contoh RPP Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6914961792386753237</id><published>2011-04-23T22:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T22:49:12.868-07:00</updated><title type='text'>Sejarah kurikulum di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SBzwrOoY474/TbO5LzSqbXI/AAAAAAAAAVU/55dCK2B3qmM/s1600/kurikulum.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="253" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-SBzwrOoY474/TbO5LzSqbXI/AAAAAAAAAVU/55dCK2B3qmM/s320/kurikulum.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;BANGSA yang besar adalah bangsa yang mempunyai kurikulum pendidikan yang bagus dan stabil (tidak berubah-ubah) serta memberi motivasi pelajarnya agar bisa meningkatkan standar mutu pendidikannya di kemudian hari.&lt;br /&gt;Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.&lt;br /&gt;Tahun 1950 ada kurikulum SD yang disebut “Rencana Pelajaran Terurai”. Pada tahun 1960 muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”. Tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968″ pengganti “Kurikulum 1950″. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung” diganti dengan pelajaran matematika modern.&lt;br /&gt;Tahun 1975 disebut “Kurikulum 1975″ yang fokus pada pelajaran matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan Kewarnegaraan. Pada tahun 1984 menyempurnakan Kurikulum 1975 dengan “Cara Belajar Siswa Aktif” (CBSA).&lt;br /&gt;Tahun 1991 CBSA dihentikan lalu muncul “Kurikulum 1994″. Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK), yang dipelesetkan jadi Kurikulum Berbasis Kebingungan.&lt;br /&gt;Terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP), entah berapa tahun lagi ada kurikulum baru yang membuat bingung semua pihak. Siswa kita jangan dijadikan “kelinci percobaan”. Majulah pendidikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejarah Kurikulum Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a.  Rencana Pelajaran 1947&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.&lt;br /&gt;Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Rencana Pelajaran Terurai 1952&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau.&lt;br /&gt;Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Kurikulum 1968&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.&lt;br /&gt;Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.&lt;br /&gt;Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.&lt;br /&gt;Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.&lt;br /&gt;Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d. Kurikulum 1975&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.&lt;br /&gt;Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;e. Kurikulum 1984&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).&lt;br /&gt;Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;f. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.&lt;br /&gt;Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;g. Kurikulum 2004&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.&lt;br /&gt;Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;h. KTSP 2006&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. (TIAR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6914961792386753237?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6914961792386753237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/sejarah-kurikulum-di-indonesia.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6914961792386753237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6914961792386753237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/sejarah-kurikulum-di-indonesia.html' title='Sejarah kurikulum di Indonesia'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-SBzwrOoY474/TbO5LzSqbXI/AAAAAAAAAVU/55dCK2B3qmM/s72-c/kurikulum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7039433922528583121</id><published>2011-04-23T22:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T22:10:22.887-07:00</updated><title type='text'>Facebook sebagai media pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0WG8pInX2RE/TbOwoNLU2xI/AAAAAAAAAVM/jkQe5S6dSn8/s1600/Facebook.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="184" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-0WG8pInX2RE/TbOwoNLU2xI/AAAAAAAAAVM/jkQe5S6dSn8/s320/Facebook.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Media internet tidak lagi hanya sekedar menjadi media berkomunikasi semata, namun juga sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia bisnis, industri, pendidikan dan pergaulan sosial. Khusus mengenai jejaring pergaulan sosial atau pertemanan melalui dunia internet, atau dikenal dengan social network, pertumbuhannya cukup mencengangkan. Sebagai contoh, situs Facebook kini telah memiliki sekitar 200 juta pengguna dengan sekitar 2 juta penggunanya ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren pemanfaatan social network ini sebenarnya menjadi peluang yang cukup menarik untuk dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu media pembelajaran. Dalam facebook kita sebagai pelajar atau siswa tidak haya dapat bertegur sapa di chat facebook tapi juga bisa bertukar informasi. Atau bisa juga membuat grup perkumpulan sekolah untuk sekedar bertukar ilmu dan berkomunikasi secara luas dengan anggota lainnya. Jadi media social network tidak hanya berfungsi untuk forum untuk berkomunikasi saja tapi juga menjadi media untuk bertukar informasi antar anggota penggunanya.&lt;br /&gt;Tahukah Anda bahwa Indonesia termasuk pengguna Facebook tertinggi di ASEAN ?. Jika Anda belum mengetahuinya,  Sebagaimana kita ketahui Facebook merupakan media jejaring sosial paling banyak digemari di seluruh dunia bahkan kini sudah merambah Indonesia. Tak terkecuali orang Tua, muda, pegawai, pejabat, pendidik dan semua kalangan menjadi penggemar Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengindahkan fatwa MUI yang telah mengharamkan facebook, sebagian orang masih asyik menggunakan facebook sebagai media untuk mencari teman sebanyak-banyaknya atau pun untuk berkomunikasi dengan teman lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua atau pendidik tentunya kita merasakan kekhawatiran akan dampak adanya Facebook. Bisa jadi anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan facebooknya ketimbang belajar. Karena kita ketahui bahwa kebanyakan siswa SD, SLTP, SLTA, maupun Mahasiswa telah mengenal dan banyak yang telah memiliki facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengarahkan pengunaan facebook kearah yang positif, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua atau pun pendidik menjadikan facebook sebagai sarana pembelajaran yang kemungkinan banyak mendatangkan manfaat daripada mudharatnya sebagai penangkal hal-hal yang bersifat negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang bisa kita lakukan dengan menjadikan facebook sebagai media pembelajaran ? tentu saja kita sebagai pendidik yang terutama harus melek IPTEK dulu. Jika kita bisa memahami perkembangan IPTEK tentu kita mudah untuk mengikutinya. Dan kita tidak akan kalah dengan siswa-siswi kita yang nota bene sudah canggih dalam soal teknologi informasi dan komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang bisa dilakukan dengan facebook sebagai media pendidikan, misalnya :&lt;br /&gt;• Membuat forum diskusi dengan anak didik kita dan memberikan umpan materi diskusi yang berkaitan dengan materi pelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;• Memberikan alamat URL/Web yang berhubungan dengan materi pelajaran di sekolah, selanjutnya siswa di tugaskan untuk mempelajari materi tersebut yang kemudian bisa di bahas di sekolah.&lt;br /&gt;• Memberikan pekerjaan rumah (PR) melalui facebook, sehingga siswa tidak hanya menggunakan facebook untuk hal-hal yang kurang bermanfaat tetapi sebagai wadah komukasi antara guru dan siswa di luar jam sekolah.&lt;br /&gt;• Sebagai tempat tukar pendapat antara siswa dan guru dengan memberikan suatu masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih banyak ide-ide lain yang lebih bagus bermunculan di pikiran Anda. Yang pasti, kita tentunya tidak ingin anak-anak kita di sesatkan oleh keberadaan facebook yang sewaktu-waktu bisa saja memerosotkan mental anak bangsa. Hal yang demikian perlu kita hindari dengan turut serta memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan mereka dari arus globalisasi yang merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kutipan :&lt;br /&gt;http://entussuhendar.blogspot.com/2010/11/new-media-facebook-sebagai-media.html&lt;br /&gt;http://gallerypendidikan.blogspot.com/.../facebook-sebagai-media-pembelajaran.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7039433922528583121?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7039433922528583121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/facebook-sebagai-media-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7039433922528583121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7039433922528583121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/facebook-sebagai-media-pembelajaran.html' title='Facebook sebagai media pembelajaran'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0WG8pInX2RE/TbOwoNLU2xI/AAAAAAAAAVM/jkQe5S6dSn8/s72-c/Facebook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-277983929373579769</id><published>2011-04-20T02:07:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T22:53:58.665-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Perhitungan Nilai Ijazah dan Format Ijazah 2011</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Format ijasah tahun pelajaran 2010/2011 mempunyai bentuk yang baru. Dimana dalam blangko penilaian terdapat dua bagian, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NeyePbd5t5k/Ta6rMGBDGeI/AAAAAAAAAVE/j76LPteyJHY/s1600/tanpa+nama.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-NeyePbd5t5k/Ta6rMGBDGeI/AAAAAAAAAVE/j76LPteyJHY/s320/tanpa+nama.JPG" width="228" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I&lt;br /&gt;Berisi nilai rata-rata raport, nilai Ujian Sekolah, dan nilai sekolah untuk semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;Berisi nilai sekolah, nilai ujian nasional, dan nilai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Downloads format ijasah tahun pelajaran 2010/2011 untuk kurikulum KTSP silakan klik link berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14362910/SD2011.pdf.html"&gt;1. SD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14362908/SMP2011KURIKULUMKTSP.pdf.html"&gt;2. SMP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14362909/SMAIPA2011KURIKULUMKTSP.pdf.html"&gt;3. SMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14362907/SMK3TH2011.pdf.html"&gt;4. SMK&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Contoh perhitungan ijazah Sekolah Dasar dapat anda &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14673098/contohperhitungannilaiijazah.xls.html"&gt;download disini&lt;/a&gt;, sehingga bagi pendidik tidak perlu lagi repot menghitung Nilai Sekolah dan Akhir pada ijazah.atau bisa juga &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14673098/contohperhitungannilaiijazah.xls.html"&gt;download disini&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mudah-mudahan berguna bagi dunia pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-277983929373579769?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s1pgsd.blogspot.com' title='Perhitungan Nilai Ijazah dan Format Ijazah 2011'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/277983929373579769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/perhitungan-nilai-ijazah-dan-format.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/277983929373579769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/277983929373579769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/04/perhitungan-nilai-ijazah-dan-format.html' title='Perhitungan Nilai Ijazah dan Format Ijazah 2011'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NeyePbd5t5k/Ta6rMGBDGeI/AAAAAAAAAVE/j76LPteyJHY/s72-c/tanpa+nama.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2423528258952916762</id><published>2011-03-24T09:54:00.001-07:00</published><updated>2011-03-24T09:54:37.844-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Pembelajaran  kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk  mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk  meningkatkan penguasaan isi akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen  dalam Ibrahim (2000 : 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah  bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka  terhadap isi pelajaran tersebut.&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Penerapan  pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen  dalam Ibrahim (2000 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam  menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek  pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti  pertanyaan lansung kepada seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah  sebagai berikut : (a) Penomoran, (b) Pengajuan pertanyaan, (c) Berpikir  bersama, (d) Pemberian jawaban. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah-langkah  tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan  kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah  sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 1. Persiapan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana  Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai  dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 2. Pembentukan kelompok&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif  tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang  beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Guru  memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang  berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari  latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu,  dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes &lt;i&gt;(pre-test) &lt;/i&gt;sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Sebelum  kegiatan belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan keterampilan  kooperatif dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran  kooperatif yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;1. Tetap berada dalam kelas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;2. Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;3. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 3. Diskusi masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam  kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan  meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang  telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.  Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok  dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada  siswa di kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 5. Memberi kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Langkah 6. Memberikan penghargaan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12pt;"&gt;Pada  tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada  siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil  belajarnya lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2423528258952916762?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2423528258952916762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/03/langkah-langkah-pembelajaran-kooperatif.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2423528258952916762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2423528258952916762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/03/langkah-langkah-pembelajaran-kooperatif.html' title='Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2491441580933639906</id><published>2011-03-24T09:40:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T09:43:54.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu model yang saat ini populer dalam pembelajaran adalah MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE model ini merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Gambar ini sangat cocok untuk pembelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika. Tetapi model ini tepat dapat digunakan dalam mata pelajaran yang lain dengan kemasan dan kreatifitas guru.&lt;br /&gt;Sejak di populerkan sekitar tahun 2002, model pembelajaran mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu maka pembelajaran menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai actor di depan kelas, dan seolah-olah guru-lah sebagai satu-satunya sumber belajar.&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian rupa, dimana setiap orang dapat memperoleh informasi dari seluruh dunia hanya di dalam kamar saja dengan layanan internet, maraknya penerbitan guru dan sumber-sumber lain yang tidak kita duga.&lt;br /&gt;Pembelajaran modern memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajarna harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Model Picture And Picture untuk kalangan SMA memang paling cocok untuk pembelajaran tiga mata pelajaran yang telah disebutkan di atas, sedangkan di tingkat SD dan SMP hampir semua mata pelajaran dapat menggunakan model ini.&lt;br /&gt;Setiap model harus kita persiapkan dengan baik agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif, tanpa persiapan yang matang pembelajaran apapun akan menjadikan siswa menjadi jenuh. Model pun harus berganti-ganti dalam beberapa pertemuan agar PBM tidak monoton.&lt;br /&gt;Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau software yang lain.&lt;br /&gt;Langkah-langkah dalam PICTURE AND PICTURE adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai&lt;br /&gt;Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampai apaka yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyajikan materi sebagai pengantar&lt;br /&gt;Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi&lt;br /&gt;Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dalam pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa Indonesia siswa dapat mencerikan kronologi, jalan cerita atau maksud dari gambar yang ditunjukan. Dalam Pelajaran Matematika dapat digambarkan tentang kubus, segitiga atau lainnya dari sini dapat digambarkan mengenai diagonal, diagonal ruang, tinggi atau luas bidang.&lt;br /&gt;Dalam pelajaran Geografi dapat ditunjukan bagaimana dengan proses terjadinya batuan. Ingatlah bahwa JIKA DAPAT DI VISUALKAN kenapa harus pakai kata-kata. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan.&lt;br /&gt;Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru Anda dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu seperti membuat kopi, menggoreng tempe dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.&lt;br /&gt;Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan.&lt;br /&gt;Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi. Jika menyusunan bagaiaman susunananya. Jika melengkapi gambar mana gambar atau bentuknya, panjangnya, tingginya atau sudutnya.&lt;br /&gt;Perlu di ingat uratan dalam pembuatan harus benar sebagai contoh dalam matematikan untuk menggambar diagonal ruang adalah langkah yang harus dilakukan dengan benar sampai ditemukan diagonal ruangnya.&lt;br /&gt;Untuk menceritakan gambar dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia ada urutan-urutan yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut&lt;br /&gt;Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai&lt;br /&gt;Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kesimpulan/rangkuman&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dikutip dari http://sadiman2007.blogspot.com/2010/02/model-pembelajaran-picture-and-picture.html &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2491441580933639906?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2491441580933639906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/03/model-pembelajaran-picture-and-picture.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2491441580933639906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2491441580933639906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/03/model-pembelajaran-picture-and-picture.html' title='MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7643754321735185607</id><published>2011-02-17T20:56:00.001-08:00</published><updated>2011-02-17T20:56:14.996-08:00</updated><title type='text'>Ciri-ciri Kepala Sekolah yang Efektif</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam  mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya  pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah dituntut mempunyai  kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar  mampu mengambil  inisiatif  dan prakarsa   untuk meningkatkan mutu sekolah (Mulyasa,  2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang  mempengaruhi kualitas pendidikan. Hal ini disebabkan karena manajemen  sekolah secara langsung akan mempengaruhi dan menentukan efektif  tidaknya kurikulum, berbagai peralatan belajar, waktu mengajar dan  proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah efektif dalam perspektif manajemen,  manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya  sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik  (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengerahan tindakan dan  pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.  Darling-Hammond, L (1992) menyatakan dimensi sekolah efektif meliputi :  1) layanan belajar bagi siswa, 2) pengelolaan dan layanan siswa, 3)  sarana dan pra sarana sekolah, 4) program dan pembiayaan, 5) partisipasi  masyarakat, dan 6) budaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang efektif berada  dalam lapangan manajemen sekolah yang ciri/karakteristiknya menurut  Edmonds (dalam Syafaruddin, 2002) meliputi (a) Kepala sekolah dan  guru-guru memiliki komitmen dan perhatian yang tinggi terhadap perbaikan  mutu pengajaran, (b) Guru-guru memiliki harapan yang tinggi untuk  mendukung pencapaian prestasi siswa, (c) Iklim sekolah yang tidak kaku,  sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalam seluruh proses pengajaran, (d)  Sekolah mempunyai pemahaman yang luas tentang fokus pengajaran dan  mengusahakan keefektifan sekolah dengan mendayagunakan seluruh sumber  daya sekolah untuk mencapai tujuan secara maksimal, (e) Sekolah efektif  dapat menjamin kemajuan siswa yang dimonitor secara periodik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan  dengan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kepala  sekolah yang memiliki kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen  meliputi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perencanaan meliputi (1) Kepala  sekolah dapat menetapkan program-program sekolah, (2) Kepala sekolah  dapat merumuskan kebijakan-kebijakan sekolah, (3) Kepala sekolah dapat  menyusun program kerja sekolah, dan (4) Kepala sekolah dapat merumuskan  langkah-langkah pelaksanaan program.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengorganisasian  meliputi (1) Kepala sekolah dapat menempatkan guru sesuai dengan potensi  dan kemampuan yang dimiliki dalam KBM, (2) Kepala sekolah dapat  mengatur penggunaan sarana dan prasarana yang ada sesuai dengan  kebutuhan siswa, guru dan personel lain sehingga terjalin kerjasama yang  baik, (3) Kepala sekolah dapat memberikan solusi terhadap berbagai  masalah yang dihadapi oleh guru dan personel sekolah lainnya, (4) Kepala  sekolah dapat mengatur kerjasama dengan pihak atau instansi lain untuk  menyukseskan program-program sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penggerakan  meliputi  (1) Kepala sekolah dapat memotivasi guru sehingga guru merasa mampu dan  yakin untuk melaksanakan program- program sekolah, (2) Kepala sekolah  dapat memimpin dan mengarahkan guru-guru dengan baik, (3) Kepala sekolah  dapat mendorong guru-guru untuk mengembangkan profesionalisme sesuai  dengan bidangnya, (4) Kepala sekolah dapat mendorong guru bekerja    dengan tujuan untuk pencapaian prestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengendalian  meliputi (1)Kepala   sekolah   dapat   mengevaluasi   pelaksanaan    program-program sekolah seperti yang telah ditetapkan dalam tahap  perencanaan, (2) Kepala sekolah dapat mengevaluasi kinerja guru dan  personel sekolah lainnya, (3) Kepala sekolah dapat memberikan penguatan  terhadap keberhasilan yang telah dicapai oleh guru, (4) Kepala sekolah  dapat memperbaiki kesalahan/kelemahan yang telah dibuat oleh guru dan  personel lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7643754321735185607?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7643754321735185607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/02/ciri-ciri-kepala-sekolah-yang-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7643754321735185607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7643754321735185607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/02/ciri-ciri-kepala-sekolah-yang-efektif.html' title='Ciri-ciri Kepala Sekolah yang Efektif'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3314254586604507275</id><published>2011-02-17T20:54:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T20:54:23.368-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; Pengertian Pembelajaran Terpadu&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;dikutip dari http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/pengertian-pembelajaran-terpadu.html &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;&lt;/div&gt;Beberapa pengertian dari pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga  kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan  pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu  kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated  day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu  adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran  melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang  bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau  boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan  siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau  mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu,  pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang  terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema  tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core /  center of interest);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran  terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan /  mengkaitkan berbagai bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu  dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pembelajaran  terpadu di atas, yaitu konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar  mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar  mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang  bermakna kepada anak didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam  pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap  konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung  dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran  terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan  menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally  Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori  pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan  pengetahuan dan struktur intelektual anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal dalam  melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/ pengembangan topik  atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak anak didiknya untuk  bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan  demikian anak didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan  pembuatan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan  terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar,  terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses  pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan  berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan  dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi  kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk  belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan  kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik  dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran  abstrak (Prabowo, 2000:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran terpadu sebagai suatu  proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat pada anak (student  centered), proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman  langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas.  Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan konsep dari berbagai  bidang studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat  luwes, pembelajaran terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang  sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.&lt;br /&gt;2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.&lt;br /&gt;3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.&lt;br /&gt;4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.&lt;br /&gt;5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.&lt;br /&gt;6.  Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.  Keterampilan sosial ini antara lain adalah : kerja sama, komunikasi, dan  mau mendengarkan pendapat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah  disebutkan di atas, bahwa pembelajaran terpadu mempunyai kelebihan yang  dapat dimanfaatkan oleh guru dalam membantu anak didiknya berkembang  sesuai dengan taraf perkembangan intelektualnya. Meskipun demikian  pendekatan pembelajaran terpadu ini masih mengandung  keterbatasan-keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keterbatasan yang menonjol  dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran  terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi  juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi  pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada  proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan  demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang  banyak ragamnya. Oleh karenanya tugas guru menjadi lebih banyak  (Prabowo, 2000:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Prabowo (2000:5) dikatakan bahwa dari  kalangan pendidik terdapat berbagai pendapat yang intinya menyatakan  bahwa penerapan pendekatan pembelajaran terpadu akan banyak menimbulkan  masalah dan tugas guru menjadi semakin membengkak. Masalah yang menonjol  adalah tentang penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran  terpadu dikaitkan dengan kurikulum yang sedang berlaku. Dalam mengatasi  masalah ini, pada tahap awal dapat dilakukan dengan memeriksa isi  kurikulum dalam satu catur wulan secara fleksibel. Artinya materi dalam  satu catur wulan tersebut dapat diatur urutan pembelajarannya, asal  cakupannya tetap tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pokok pemikiran  tersebut di atas, maka sebelum merancang pembelajaran terpadu, hendaknya  guru mengumpulkan dan menyusun seluruh pokok bahasan dari semua bidang  studi dalam satu catur wulan, kemudian dilanjutkan dengan proses  perancangan pembelajaran terpadu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3314254586604507275?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3314254586604507275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/02/pengertian-pembelajaran-terpadu-dikutip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3314254586604507275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3314254586604507275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/02/pengertian-pembelajaran-terpadu-dikutip.html' title=''/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5296421738578655580</id><published>2011-01-30T21:29:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T21:29:22.127-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Pembelajaran Tematik</title><content type='html'>&lt;h2 class="date-header"&gt; &lt;/h2&gt;&lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a href="" name="4769096937071245265"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;span class="awal"&gt;P&lt;/span&gt;ada topik sebelumnya &lt;a href="http://defantri.blogspot.com/2009/05/pembelajaran-matematika-di-sekolah.html" target="_blank"&gt;Pembelajaran Matematika di Sekolah&lt;/a&gt; sudah di jelaskan beberapa jenis pembelajaran dan teori-teori belajar, saya coba menyampaikan tentang pembelajaran tematik.&lt;br /&gt;Pembelajaran  Tematik merupakan pembelajaran bermakna bagi siswa. Pembelajaran  tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan  sesuatu. Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang  akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar  menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual yang menjadikan proses  pembelajaran lebih efektif. &lt;br /&gt;Kaitan konseptual antar mata pelajaran  yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa memperoleh keutuhan  dan kebulatan pengetahuan, selain itu, dengan penerapan pembelajaran  tematik disekolah dasar akan sangat membantu siswa, hal ini dilihat dari  tahap perkembangan siswa yang, masih melihat segala sesuatu sebagai  satu keutuhan.&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang  menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa, Tema adalah pokok  pikiran atau gagasan pokok yang emnjadi pembicaraan, Dengan tema  diharapkan akan memberikan keuntungan, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Siswa mudah memusatkan perhatian  pada suatu tema tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan maka belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siswa  lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,  untuk memgembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus  mempelajari mata pelajaran lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Guru dapat menghemat waktu  karena mata pelajaran yang disajikan dapat dipersiapkan sekaligus  diberikan dalam dua atau tiga kali pertemuan, sedangkan selebihnya dapat  digunakan untuk kegiatan remedial dan pengayaan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kelebihan dan kelemahan pembelajaran tematik &lt;br /&gt;Menurut Kunandar (2007) pembelajaran tematik memiliki kelebihan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Selain  memiliki kelebihan pembelajaran tematik juga memilki kelemahan, adapun  kelemahan pembelajaran tematik terjadi jika dilakukan oleh guru tunggal,  Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran  tema sehingga pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan  tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan  pembelajaran tematik ada hal-hal yang perlu dilakukan, beberapa hal  yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Pemetaan Kompetensi Dasar&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Kegiatan  ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh  semua standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai  mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang  dilakukan adalah : &lt;br /&gt;1. Penjabaran standart kompetensi dan kompetensi dasar kedalam indikator&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam  mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal berikut :Indikator  dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat diamati.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;2. Menentukan tema&lt;br /&gt;Dalam  menentukan tema yang bermakna, kita harus memperhatikan dan  mempertimbangkan pemikiran konseptual, pengembangan keterampilan dan  sikap, sumber belajar, hasil belajar yang terukur dan terbukti,  kesinambungan tema, kebutuhan siswa, keseimbangan pemilihan tema, serta  aksi nyata, antara lain : &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Pemikiran konseptual&lt;/i&gt;, tema  yang baik tidak hanya memberikan fakta-fakta kepada siswa. Tema yang  baik bisa mengajak siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir yang  lebih tinggi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Pengembangan keterampilan dan sikap&lt;/i&gt;. apakah  tema yang sudah disepakati bisa mengembangkan keterampilan siswa.  Misalnya, keterampilan berfikir, berkomunikasi, sosial, eksplorasi,  mengorganisasi, dan pengembangan diri. Pembentukan sikap juga harus bisa  di akomodasi dalam pilihan tema, seperti sikap menghargai, percaya  diri, kerja sama, komitmen, kreativitas, rasa ingin tahu, berempati,  antusias, mandiri, jujur, menghormati dan toleransi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kesinambungan Tema. &lt;/i&gt;Kath  Murdock (1998) dalam bukunya Clasroom Connection-Strategies for  Integrated Learning menjelaskan bahwa tema yang baik bisa mengakomodasi  pengetahuan awal yang dimiliki siswa sebelum belajar tentang sesuatu  yang baru. Pengetahuan awal itu tentu sudah dipelajari siswa sebelumnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Materi Belajar Utama dan Tambahan. &lt;/i&gt;Materi  dan sumber pembelajaran tematik biasa kita bagi menjadi dua sumber dan  materi, yaitu utama dan tambahan. Contoh sumber atau materi belajar  utama adalah para ahli atau orang-orang yang mempunyai profesi atau  kompetensi dasar dalam bidang terentu, tempat-tempat yang bisa  dipelajari, suasana belajar didalam kelas, lingkungan, komunitas, dan  kesenian. Sedangkan musik, materi audio visual, literature, progam  computer, dan internet adalah sumber materi pembelajaran tambahan bagi  siswa. Dengan demikian, pemlihan tema  harus juga memperhatikan  kesediaan kedua sumber belajar itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Terukur dan Terbukti, &lt;/i&gt;Guru  juga perlu memperhatikan hasil pembelajaran apa yang akan siswa capai  dalam pembelajaran tematik. Apa yang bisa siswa kerjakan dalam proses  pembelajaran tematik. Perlu juga menunujukkan bukti-bukti itulah yang  dinilai guru dan dicatat sebagai bukti bagaimana siswa menguasai tema  yang diajarkan. Yang pada akhirnya akan dijadikan bahan evaluasi dan  laporan kepada orang tua siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kebutuhan Siswa,&lt;/i&gt; dalam  memilih tema, guru perlu memperhatikan kebutuhan siswa. Apakah tema yang  kita pilih bisa menjawab kebutuhan siswa. secara kognitif, Gardner  (2007 ) dalam bukunya Five Minds For The Future menyebutkan bahwa  manusia pada era informasi ini harus dibekali lima cara berfikir, yaitu :  pikiran yang terlatih, terampil, dan disiplin, pikir mensintesis;  pikiran mencipta; pikiran merespek, dan pikiran etis. Apakah tema yang  dipilih sudah bisa membekali siswa dengan lima cara berfikir untuk masa  depan. Kebutuhan siswa yang lain bisa juga dilihat melalui perkembangan  psikologi (imajinasi), perkembangan motorik, dan perkembangan kebahasaan  siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Keseimbangan Pemilihan Tema. S&lt;/i&gt;eperti telah  dijelaskan diatas bahwa pembelajaran yang cocok dengan pembelajaran  terpadu adalah pembelajaran tematik. Dalam satu tahun pembelajaran  biasanya siswa bisa mempelajari 5-6 tema. Para guru hendaknya bisa  memilih tema yang bisa mengakomodasi mata pelajaran bahasa, ilmu sosial,  lingkungan, kesehatan, dan sains saja, tetapi tema-tema lain yang  bervariasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Aksi Nyata. &lt;/i&gt;Pembelajaran tematik hendaknya  tidak hanya mengembangkan pengetahuhan dan sikap siswa, namun juga bisa  membimbing siswa untuk melakukan aksi  yang bermanfaat. Aksi yang  dilakukan siswa akan memperkaya siswa dengan pengetahuan lain serta  memberikan dampak bagi kehidupan orang lain  dan lingkungan dimana siswa  hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;3. Identifikasi dan analisis standart kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator.&lt;br /&gt;Lakukan  identifikasi dan analisis untuk setiap standar kompetensi, kompetensi  dasar dan indicator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua  kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Menetapkan Jaringan Tema&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Penyusunan Silabus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil seluruh proses yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D. Penyusunan Rencana Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;Setelah  tahap persiapan dilakukan, maka selanjutnya akan dipaparkan tahap  pelaksanaan pembalajaran terpadu. Adapun tahap pelaksanaan  pembelajarannya meliputi :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;a. Kegiatan Pendahuluan / awal&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahap ini dapat dilakukan panggilan terhadap anak tentang tema yang  disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah,  bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan dan menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;b. Kegiatan inti&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan  inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk  pengembangan kemampuan baca, tulis hitung. Penyajian bahan pembelajaran  dialakukan dengan menggunakan strategi / metode yang bervariasi dan  dapat dilakuakn secara klaksikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;c. Kegiatan penutup&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sifat  dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatn  penutup yang dapat dilakukan  adalah menyimpulkan atau mengungkapkan  hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita  dari buku, pantomime, pesan-pesan moral, musik / apresiasi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan jadwal pelajaran &lt;br /&gt;Untuk  memudahkan administrasi disekolah terutama dalam penjadwalan. Guru  bersama dengan guru mata pelajaran lain ( yang tidak dipadukan ) perlu  bersama-sama menyusun jadwal pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Implikasi Pembelajaran Tematik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam implementasi pembelajaran tematik disekolah dasar mempunyai implikasi yang mencakup :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Implikasi bagi guru&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pembelajaran  tematik memerlukan guru yang kreaktif baik dalam menyiapkan pengalaman  belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata  pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna,  menarik, menyenangkan, dan utuh.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Implikasi bagi siswa&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;1.Siswa  harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam    pelaksanaannya  yang dimungkinkan untuk bekerja, baik secara individual, pasangan  kelompok kecil, maupun klasikal.&lt;br /&gt;2.Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi dan aktif.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Implikasi terhadap sarana, prasarana,sumber balajar dan media.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;1.Pelaksanaan pembelajaran ini memerlukan berbagai prasarana dan            prasarana belajar,&lt;br /&gt;2.Pembelajaran  ini perlu memanfaatkan bebagai sumber balajar, baik yang didesain  secara khusus maupun yang tersedia dilingkungan,&lt;br /&gt;3.Pembeajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran bervariasi dan&lt;br /&gt;4.Pembelajaran  ini masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada atau bila  memungkinkan untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan  ajar terintegrasi. &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Implikasi terhadap pengaturan ruangan.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;1.Ruang perlu ditata sesuai tema yang dilaksanakan.&lt;br /&gt;2.Susunan bangku bisa berubah-ubah.&lt;br /&gt;3.Perta didik tidak harus selalu harya duduk dikursi, tetapi dapat duduk ditikar atu dikarpet.&lt;br /&gt;4.Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik didalam maupun diruangan.&lt;br /&gt;5.Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber balajar.&lt;br /&gt;6.Alat, sarana, sumber belajar hendaknya dikelola dengan baik.  &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Implikasi terhadap pemilihan metode&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pembelajaran  yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan  menggunakan multi metode, misalnya percobaan, bermain peran, tanya  jawab, demonstrasi, dan bercakap-cakap.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5296421738578655580?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5296421738578655580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/01/pembelajaran-tematik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5296421738578655580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5296421738578655580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2011/01/pembelajaran-tematik.html' title='Pembelajaran Tematik'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5237270066344332177</id><published>2010-12-30T22:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T23:01:15.389-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>PERANAN INTERNET DALAM  PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TR1_r-dJLnI/AAAAAAAAAUE/Eabk-5p67CM/s1600/p10507235.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 212px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TR1_r-dJLnI/AAAAAAAAAUE/Eabk-5p67CM/s320/p10507235.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556737908721397362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;  Indonesia terdiri dari 17,000 lebih pulau dan kira-kira ada 300 bahasa  daerah yang masih digunakan. Krisis Ekonomi &amp;amp; Korupsi (Krisis  Kepercayaan) sekarang semakin menunjukkan   betapa   pentingnya suatu    komunikasi baik secara lokal maupun global. Komputer dan Internet sudah    diterima   sebagai alat yang penting untuk komunikasi dan bisnis di  Indonesia, sehingga sekarang menjadi hal yang penting pula untuk  pendidikan Indonesia yang sedang mengalami reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal dari  milenium baru dan reformasi menjanjikan harapan untuk mempercepat  perkembangan sektor pendidikan di Indonesia. Kunci utama yang memicu  akan timbulnya harapan baru tersebut berjalan kearah desentralisasi,  manajemen berbasis sekolah, dan pemberdayaan sekolah serta masyarakat  untuk mempengaruhi hasil (outcomes) sekolah, juga kesatuan tujuan-tujuan  dari semua sektor pendidikan.Dimasa lalu telah dibentuk sistem  komunikasi yang efisien dan efektif untuk menyebarkan informasi ke  berbagai semua sektor di kalangan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desentralisasi  pendidikan akan membutuhkan paradigma dan peran baru untuk administrasi  pendidikan. Komponen utama dalam peran baru ini yaitu meliputi ;  monitoring yang efisien, pengidentifikasian kebutuhan dan menempatkan  sumber daya manusia dan sumber daya yang lain untuk menghadapi  kebutuhannya. Pada umumnya masalah-masalah utama pendidikan berdasarkan  sistemnya, dan sekarang potensi sumber daya manusia disemua sektor tidak  dimanfaatkan secara penuh. Kebanyakkan penelitian dan pengembangan yang  dimulai pada masa transisi baru ini seharusnya diarahkan pada  pengembangan sitem komunikasi yang memberdayakan beberapa sektor  pendidikan untuk membantu pengembangan dan arah masa depan pendidikan di  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan penting akan  memaksimumkan sumber daya manusia disemua sektor, berarti kita akan  membutuhkan sisitem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita  merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan  penerimaan informasi daripada penyebaran informasi. Hal ini hampir  memutarbalikan peran jika dibandingkan dengan peran komunikasi  administrasi pendidikan yang dulu.&lt;br /&gt;Penelitian mengenai pengembangan  sekolah secara jelas menunjukan salah satu cara yang paling efektif bagi  sekolah yang ingin berkembang secara mandiri yaitu lewat berbagi  (sharing) informasi dan ide-ide. Salah satu dukungan yang terbesar untuk  pengembangan pribadi dan profesi kepala sekolah yang memanfaatkan  proses pembaharuan yaitu komunikasi yang terbuka dan mendukung melalui  forum rutin kepala sekolah. Melalui penyampaian masalah secara kolektif  diantara rekan seprofesi sudah menghasilkan solusi yang efektif dan  dapat direalisasikan.&lt;br /&gt;Masukan (input) dan kontribusi langsung dari  para pemegang peran (stakeholders) yang lain; siswa, orang tua dan  anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan  meningkatkan dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika  obyektifitas utamanya adalah memaksimalkan pendidikan sumber daya  manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan komunikasi kita dengan  seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran  (stakeholders). Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi harus  terfokus pada saling berbagi komunikasi terbuka dan meningkatkan  kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala bidang.&lt;br /&gt;Tanggung  jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus  menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat  cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan  kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat  untuk memasuki lapangan kerja baik di Indonesia maupun diseluruh dunia.  Dan hanya sekitar 20-30 % lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke  tingkat pendidikan lebih tinggi, maka dengan adanya komputer yang telah  merambah disegala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung  jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan  kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran komputer ( lihat bagian  Pendaluan-Komputer )&lt;br /&gt;Oleh karena adanya prioritas yang tinggi untuk  membangun fasilitas komputer diseluruh sekolah-sekolah di Indonesia dan  adanya jarak yang cukup jauh antara sekolah provinsi di Indoesia,  sepertinya Internet pilihan yang cukup baik untuk mengembangkan  komunikasi antar sekolah, Kanwil, Kandep, dan DEPDIKNAS yaitu dapat  dilakukan lewat Internet. Beberapa sekolah telah mengambil inisiatif  untuk membangun fasilitas mereka sendiri. Berdasarkan langkah yang sudah  ada ini, dan membiarkan hal itu berkembang sendiri yaitu tetap  konsisten akan kebutuhan belajar siswa kita, maka Internet sebagai  strategi yang sesuai untuk menjadi medium komunikasi yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet Dalam Belajar Dan Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan  akan informasi yang sekarang tersedia di Internet telah lebih mencapai  harapan dan bahkan imajinasi dari para penemu system yang pertama.  Internet awalnya diciptakan untuk kebutuhan system pertahanan militer  supaya dapat didesentralisasikan sehingga dapat mengurangi resiko  kerusakkan total, mungkin saja hal inibisa terjadi apabila sistem  sentral komputer utama dimusnahkan.&lt;br /&gt;Internet juga dapat  didesentralisasikan dan diberdayakan. Dengan menggunakan internet kita  dapat mengakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan sedang  berkembang secara cepat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara  masing-masing atau secara massa yang dapat dilakukan dimana saja  diseluruh dunia hanya dalam waktu beberapa detik saja. Kita dapat  menyebarkan (publish) informasi yang bisa di akses dari mana saja di  seluruh dunia dalam waktu singkat sekali. Kita dapat berkomunikasi  secara langsung (real time) melalui telepon dan unit video processing.  Kita bisa melakukan "chat" melalui jaringan gratis "chat" yang sangat  luas yaitu mIRC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para guru internet menawarkan beberapa sempatan untuk diraih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Profesional&lt;br /&gt;(a) Meningkatkan pengetahuan&lt;br /&gt;(b) Berbagi sumber diantara rekan sejawat/ sedepartemen&lt;br /&gt;(c) Bekerjasama dengan guru-guru dari luar negeri&lt;br /&gt;(d) Kesempatan untuk menerbitkan /mengumumkan secra&lt;br /&gt;langsung&lt;br /&gt;(e) Mengatur komunikasi secara teratur&lt;br /&gt;(f) Berpatisipasi dalam forum dengan rekan sejawat baik&lt;br /&gt;local maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bahan mengajar :&lt;br /&gt;(a) Mengakses rencana belajar mengajar &amp;amp; metodologi baru&lt;br /&gt;(b) Bahan baku &amp;amp; bahan jadi cocok untuk segala bidang pelajaran&lt;br /&gt;(c) Mengumumkan dan berbagi sumber. Sangat tingginya popularitas/sangat tingginya&lt;br /&gt;minat untuk meningkatkan siswa lebih terfokus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siswa Internet menawarkan kesempatan untuk;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar sendiri secara cepat :&lt;br /&gt;a) Meningkatkan pengetahuan&lt;br /&gt;b) Belajar berinteraktif&lt;br /&gt;c) Mengembangkan kemampuan di bidang penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperkaya diri :&lt;br /&gt;(a) Meningkatkan komunikasi dengan siswa lain&lt;br /&gt;(b) Meningkatkan kepekaan akan permasalahan yang ada diseluruh dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun  Internet berpotensi untuk menyampaikan. keuntungan-keuntungan tersebut  bagi para guru maupun para siswa, pemakaian Internet di kelas hendaknya  harus disusun sedemikian rupa dengan belajar mendefisinasikan secara  obyektif. Kegiatan siswa juga harus dimonitor dengan baik. Seperti mana  yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Internet itu berisi berbagai macam  informasi dan sumber-sumber informasi lain, meskipun didalamnya juga  terkandung hal-hal yang tidak berguna dan menghabiskan waktu sehingga  mengganggu pelajaran siswa dengan mudahnya. Padahal keikutsertaan dalam  kegiatan ini diluar jam belajar siswa, mungkin saja dapat memberi  keuntungan bagi pengetahuan mereka atau mengembangkan kemampuan lainnya.  Waktu belajar di kelas harus tetap difokuskan pada pelajaran utama.  Rencana belajar mengajar yang efektif untuk menggunakn Internet akan  memerlukan beberapa kemampuan baru guru untuk dapat lebih mengefektifkan  waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari keuntungan yang sangat potensial dari Internet  selain untuk para administrator dan kepentingan sekolah, yaitu mungkin  adalah untuk memudahkan pengoleksian lembaran data-data sekolah yang  dapat langsung terkirim ketujuannya baik ke perorangan maupun ke  masyarakat luas. Guru, terutama guru bahasa dan guru pelajaran ilmu  sosial, dapat mengambil (down-load) berita dan kejadian terkini yang  bisa digunakan sebagai bahan mengajar di kelas pada hari yang sama saat  itu juga. Semua guru dapat menggunakan Internet baik untuk keperluan  pengembangan pribadi maupun secara profesional bekerjasama dalam wilayah  regional maupun diseluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  kita ingin mengajar, kita perlu memperhatikan hal-hal utama yaitu  rencana dan strateginya. Sama dengan Internet. Kalau kita ingin membuat  sistem komunikasi yang baik dan hemat, dan meningkatkan pendidikan  siswa/i dalam ilmu komputer yang sesuai dengan dana sekolah, yang  penting rencana (program) yang baik, dan strategi-strategi yang terbaik  sesuai dengan keadaan sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Open Source Telkom Speedy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5237270066344332177?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5237270066344332177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/12/peranan-internet-dalam-ini.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5237270066344332177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5237270066344332177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/12/peranan-internet-dalam-ini.html' title='PERANAN INTERNET DALAM  PENDIDIKAN'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TR1_r-dJLnI/AAAAAAAAAUE/Eabk-5p67CM/s72-c/p10507235.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6447509561445850443</id><published>2010-10-31T23:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-31T23:33:44.119-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran dan metode'/><title type='text'>METODE PEMBELAJARAN YANG LEBIH BERPUSAT PADA SISWA</title><content type='html'>Pembahasan tentang metode pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa meliputi : kerja kelompok, karya wisata, penemuan, eksperimen, pengajaran unit, dan pengajaran dengan modul ini dikembangkan berdasarkan tulisan Kartawisastra, dkk (1980), Sumantri dan Permana (1998/1999), Tareja, dkk (1980), Mainuddin dan Gunawan (1980), dan Sagala (2000). Metode-metode pembelajaran itu secara rinci dapat Anda kaji dalam uraian berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk Strategi Pembelajaran 7-3 &lt;br /&gt;mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama. Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tujuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode kerja kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran bertujuan untuk : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) mengembangkan kemampuan bekerjasama di dalam kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Alasan Penggunaaan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa guru memilih kerja kelompok sebagai metode pembelajaran? Guru menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran karena: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kerja kelompok tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar diluar kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari buku di perpustakaan umum, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kekuatan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. &lt;br /&gt;7-4 Unit 7 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada para ketua kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kelemahan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi maupun intelegensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengatasi kelemahan Metode Kerja Kelompok? Kelemahan metode kerja kelompok dapat diatasi dengan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mengkaji lebih dulu materi pelajaran dengan cermat, lalu buat garis besar rincian tugasnya untuk setiap kelompok agar bobot tugas tersebut sama beratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Adakan tes sosiometri dan hasilnya digunakan untuk pembentukan kelompok yang mereka kehendaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok harus dilakukan terus menerus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan antar kelompok yang kurang sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kegiatan Persiapan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi tersebut kedalam tugas-tugas kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan kerja kelompok. &lt;br /&gt;Strategi Pembelajaran 7-5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kegiatan Pelaksanaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Kegiatan Membuka Pelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Kegiatan Inti Pelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Kegiatan Mengakhiri Pelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan evaluasi hasil dan proses &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari :&lt;br /&gt;Abimanyu, Soli dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6447509561445850443?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6447509561445850443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/metode-pembelajaran-yang-lebih-berpusat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6447509561445850443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6447509561445850443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/metode-pembelajaran-yang-lebih-berpusat.html' title='METODE PEMBELAJARAN YANG LEBIH BERPUSAT PADA SISWA'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3136447530061304622</id><published>2010-10-30T05:29:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T05:40:20.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pembelajaran  Untuk  Mewujudkan Visi dan Misi Pendidikan</title><content type='html'>Perancangan  dan  pelaksanaan  setiap  proses  pembelajaran seyogyanya  tidak hanya  mempertimbangkan  pencapaian  tujuan  pembelajaran  saja  tetapi  juga  tujuan pendidikan  yang  lebih  umum,  demi  keutuhan  tujuan  pendidikan.  Oleh  karena  itu, pemilihan strategi pembelajaran di samping dampak instruksional, diperhatikan pula dampak   pengiring   agar   dapat   diupayakan   suatu   pembelajaran   yang   mendidik. Dengan demikian murid akan menghayati  suatu pengalaman belajar yang bermanfaat, baik segi penguasaan  IPTEKS maupun segi pengembangan  pribadinya sebagai  manusia  Indonesia,  sebagai  suatu  upaya  mewujudkan  Manusia  Indonesia Seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://s540.photobucket.com/albums/gg355/sriudin/?action=view&amp;current=nisn.png" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i540.photobucket.com/albums/gg355/sriudin/pembelajaran4.jpg" border="0" alt="Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti  diketahui,  pengembangan  pribadi  seyogyanya  diarahkan  pada pembentukan  jati  diri  yang  menyadari  harkat  dan  martabatnya  sebagai  manusia. Melalui   pembelajaran   yang   mendidik,   murid   dibantu   sedemikian   rupa   agar potensinya  berkembang  menjadi  kompetensi,  prilaku  naluriah  (instinktif)  berubah menjadi  prilaku  nuraniah  (prilaku  yang  dituntun  oleh  hati  nurani),  dan  dengan demikian   secara   keseluruhan   murid   akan mampu   berubah   dari makhluk “hewaniah”  (yang  sekadar  mempertahankan  diri  dan  jenisnya)  menjadi  makhluk yang  ”insaniah”  (yang  ingin  mengaktualisasikan  dirinya  ditengah  masyarakatnya yang beradab dan berbudaya). Dengan demikian secara berangsur murid dibimbing secara   bertahap   tetapi   berlanjut   dalam   proses   memanusiakan   manusia   menuju manusia  paripurna  (insanul  kamil);  dengan  catatan:  mungkin  hal  terakhir  itu  sulit tercapai, tetapi harus ada usaha untuk mendekatinya.&lt;br /&gt;Pembelajaran yang mendidik mengisyaratkan betapa pentingnya pembelajaran&lt;br /&gt;itu sebagai poros utama dalam berberbagai upaya di bidang pendidikan.  Oleh karena itu,   penerapan   kriteria pemilihan   strategi   pembelajaran   sebagai „inti‟   dari pembelajaran itu harus  diarahkan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan visi dan misi pendidikan   nasional. Seperti diketahui, visi pendidikan nasional adalah mewujudkan   suatu   sistem   pendidikan   sebagai   pranata   sosial   yang   kuat   dan&lt;br /&gt;berwibawa untuk membudayakan  dan  memberdayakan semua  warga  negara&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia  agar berkembang menjadi manusia  yang berkualitas sehingga mampu dan&lt;br /&gt;proakif menjawab tantangan zaman. Sedang misi pendidikan nasional adalah :&lt;br /&gt;1.   Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;&lt;br /&gt;2.   Meningkatkan mutu  pendidikan yang  memiliki  daya  saing  di  tingkat nasional, regional, dan internasional;&lt;br /&gt;3.   Meningkatkan   relevansi   pendidikan   dengan   kebutuhan   masyarakat   dan tantangan global;&lt;br /&gt;4.   Membantu  dan  memfasilitasi pengembangan  potensi  anak  bangsa  secara utuh sejak   usia  dini   sampai  akhir   hayat dalam  rangka  mewujudkan masyarakat belajar;&lt;br /&gt;5.   Meningkatkan  kesiapan  masukan  dan  kualitas  proses  pendidikan untuk mengoptimalkan  pembentukan kepribadian yang bermoral;&lt;br /&gt;6.   Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat  pembudayaan ilmu pengetahuan,  ketrampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global;  dan&lt;br /&gt;7.   Mendorong   peran   serta   masyarakat   dalam   penyelenggaraan   pendidikan berdasarkan   prinsip   otonomi   dalam   konteks   Negara   Kesatuan   Republik Indonesia   (Undang-Undang  R.I  No.  20  Tahun  2003,  dalam  Penjelasan  jo. Peraturan Pemerintah RI  No. 19 tahun 2005, dalam Penjelasan:)..&lt;br /&gt;Visi  dan  misi  pendidikan  tersebut  diatas,  utamanya  misi  butir  4,  5, dan 6  yang relevan  dengan  pembelajaran  di  SD-MI, haruslah  menjadi  bahan  pertimbangan dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran  di sekolah. Selanjutnya, perlu pula  diperhatikan  ketentuan  dalam   Peraturan  Pemerintah  RI   No   19  Tahun  2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang tercantum dalam Bab IV Standar Proses, telah ditetapkan pada Pasal 19 ayat (1) sbb:&lt;br /&gt;Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,  inspiratif,  menyenangkan,  menantang,  memotivasi  peserta  didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis  peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para guru dalam memilih dan menetapkan strategi pembelajarannya tidak  sekadar  bermaksud  membelajarkan  muridnya  sesuai  pesan  kurikulum  untuk mencapai  tujuan  pembelajaran,  indikator,   bahkan  kompetensi,  tetapi  juga  serentak dengan itu,  berupaya mencapai tujuan yang lebih luas yakni ikut merealisasikan  visi&lt;br /&gt;dan  misi  pendidikan  nasional.  Kontribusi  setiap  guru  dalam  mewujudkan  visi  dan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misi tersebut haruslah dipandang sebagai satu mata rantai dalam rantaian perwujudan&lt;br /&gt;visi  dan  misi  itu.  Perlu  diingat,  kekuatan  suatu  rantai  ditentukan  oleh  mata  rantai yang terlemah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3136447530061304622?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3136447530061304622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/pembelajaran-untuk-mewujudkan-visi-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3136447530061304622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3136447530061304622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/pembelajaran-untuk-mewujudkan-visi-dan.html' title='Pembelajaran  Untuk  Mewujudkan Visi dan Misi Pendidikan'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4371503027372083028</id><published>2010-10-30T05:21:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T05:27:10.002-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar</title><content type='html'>A. Pengertian Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,  konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan  memberikan banyak keuntungan, di antaranya:&lt;br /&gt; 1)  Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, &lt;br /&gt;2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; &lt;br /&gt;3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; &lt;br /&gt;4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; &lt;br /&gt;5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; &lt;br /&gt;6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; &lt;br /&gt;7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan,  waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Landasan Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Landasan Pembelajaran tematik mencakup: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada  pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  Arti Penting Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan  terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan  tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  Karakteristik Pembelajaran Tematik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Berpusat pada siswa&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. &lt;br /&gt;2. Memberikan pengalaman langsung&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. &lt;br /&gt;3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.&lt;br /&gt;4. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran &lt;br /&gt;Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;5. Bersifat fleksibel&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.&lt;br /&gt;6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa&lt;br /&gt;Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.&lt;br /&gt;7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.  RAMBU-RAMBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan&lt;br /&gt;2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester&lt;br /&gt;3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.&lt;br /&gt;4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.&lt;br /&gt;5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral&lt;br /&gt;6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4371503027372083028?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4371503027372083028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/pembelajaran-tematik-di-sekolah-dasar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4371503027372083028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4371503027372083028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/pembelajaran-tematik-di-sekolah-dasar.html' title='Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4317732993795412876</id><published>2010-10-06T06:01:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T06:39:32.136-07:00</updated><title type='text'>Kegiatan Workshop Guru Sekolah Dasar (SD) KKG Gugus III Kecamatan Gambut</title><content type='html'>Kegiatan Workshop Guru Sekolah Dasar (SD) KKG Gugus III Kecamatan Gambut&lt;br /&gt;Kegiatan workshop ini dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa dari tanggal 4 Oktober 2010 – 5 Oktober 2010, &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8c-mUayQI/AAAAAAAAAS8/Wbz_G_QXbaw/s1600/SANY6232.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8c-mUayQI/AAAAAAAAAS8/Wbz_G_QXbaw/s320/SANY6232.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525667129570543874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kegiatan ini dapat terselenggara berkat kerjasama Pengurus Gugus III yang diketua oleh Ibu Hj.Ruhabjah, S.Pd dengan LPMP Propinsi Kalimantan Selatan yang telah memberikan dana block grant. Adapun kegiatan yang dilaksanakan antara lain :&lt;br /&gt;1. Teknik Penulisan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)&lt;br /&gt;2. Pemetaan SK/KD dalam tema&lt;br /&gt;3. Penyusunan silabus dan RPP Tematik&lt;br /&gt;4. Mekanisme Pengembangan silabus dan RPP&lt;br /&gt;5. Penyusunan Silabus dan RPP  Mata Pelajaran&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8YYpf3YBI/AAAAAAAAASc/rcHUcEPlqiM/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 249px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8YYpf3YBI/AAAAAAAAASc/rcHUcEPlqiM/s320/1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525662079542321170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nara sumber yang menyampaikan materi tersebut yaitu : Bapak Tarmidzi dan Bapak Saipurrahman, dalam kegiatan ini guru-guru sangat antusias dalam mengikuti materi yang disampaikan oleh narasumber/widyaswara. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan guru-guru SD yang ada di Kecamatan Gambut khususnya yang berada dalam ruang lingkup Gugus III. Sehingga dengan adanya kegiatan ini guru dapat mengetahui tentang penulisan dan penyusunan PTK, penyusunan silabus dan RPP tematik maupun mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8bEOryVpI/AAAAAAAAASs/-teOMyvnNfk/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 249px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8bEOryVpI/AAAAAAAAASs/-teOMyvnNfk/s320/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525665027282065042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya kegiatan ini diharapkan nantinya guru-guru yang mengikuti dapat menerapkannya di dalam sekolah masing-masing, selain itu guru-guru juga diminta mengimbaskannya ke rekan-rekan guru yang lain yang tidak mengikuti kegiatan ini sehingga yang lain pun dapat memahami bagaimana cara menyusun dan mengembangkan silabus dan RPP di sekolah serta penulisan PTK.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8cP6sI3FI/AAAAAAAAAS0/ci3V38z8rPY/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8cP6sI3FI/AAAAAAAAAS0/ci3V38z8rPY/s320/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525666327584889938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4317732993795412876?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4317732993795412876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/kegiatan-workshop-guru-sekolah-dasar-sd.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4317732993795412876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4317732993795412876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/10/kegiatan-workshop-guru-sekolah-dasar-sd.html' title='Kegiatan Workshop Guru Sekolah Dasar (SD) KKG Gugus III Kecamatan Gambut'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TK8c-mUayQI/AAAAAAAAAS8/Wbz_G_QXbaw/s72-c/SANY6232.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1467098760512395641</id><published>2010-09-28T23:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T04:51:58.356-07:00</updated><title type='text'>Pengelolaan Sekolah yang Efektif</title><content type='html'>1. Pengertian Sekolah Efektif&lt;br /&gt;Kajian sejumlah literatur yang membahas tentang sekolah efektif akan dijumpai rumusan pengertian yang bermacam-macam. Sekolah efektif adalah sekolah yang semua sumber dayanya diorganisasikan dan dimanfaatkan untuk menjamin semua siswa, tanpa memandang ras, jenis kelamin, maupun status sosialekonomi, dapat mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah itu.&lt;br /&gt;Rumusan pengertian ini lebih diorientasikan pada pengoptimalan pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana termuat kurikulum. Pengertian lain tentang sekolah efektif yakni sekolah efektif menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya maupun fungsi pendidikan. Fungsi ekonomis sekolah adalah memberi bekal kepada siswa agar dapat melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera. Fungsi sosial kemanusiaan sekolah adalah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Fungsi politis sekolah adalah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara. Fungsi budaya adalah media untuk melakukan transmisi dan transformasi budaya. Adapun fungsi pendidikan adalah sekolah sebagai wahana untuk proses pendewasaan dan pembentukkan kepribadian siswa.&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi tersebut ada yang menjadi fungsi umum (notice function), dalam arti berlaku bagi semua jenis dan/atau jenjang sekolah, dan ada pula yang lebih menonjol pada jenis-jenis sekolah tertentu (distinctive function), seperti pada sekolah-sekolah yang memiliki ciri keagamaan, sekolah-sekolah kejuruan, atau jenis-jenis sekolah lainnya. Oleh karena kata efektif itu sendiri mengandung pengertian tentang derajat pencapaian tujuan yang ditetapkan, maka upaya perumusan konstruk dan indikator efektivitas sekolah tidak dapat dilepaskan dari konsep tentang kemampuan (kompetensi) yang hendak dikembangkan melalui pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan di atas, berbagai kelemahan yang berkembang di masyarakat, dan dengan mempertimbangkan akar budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Agama, maka sekolah di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupannya di masa depan, yaitu:&lt;br /&gt;a. kompetensi keagamaan, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan yang diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi manusia sebagai hamba Allah Yang Maha Kuasa dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;b. kompetensi akademik, meliputi pengetahuan, sikap, kemampuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan jenjang pendidikannya&lt;br /&gt;c. kompetensi ekonomi, meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi agar dapat hidup layak di dalam masyarakat&lt;br /&gt;d. kompetensi sosial pribadi, meliputi pengetahuan, sistem nilai, sikap dan keterampilan untuk dapat hidup adaptif sebagai warga negara dan warga masyarakat internasional yang demokratis.&lt;br /&gt;Sekolah harus dipahami sebagai satu kesatuan sistem pendidikan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain. Dengan demikian, pengembangan kompetensi pada diri siswa tidak dapat diserahkan hanya pada kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas, melainkan juga pada iklim kehidupan dan budaya sekolah secara keseluruhan. Setiap sekolah sebagai suatu kesatuan diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar kepada seluruh siswanya untuk menguasai keempat kompetensi di atas sesuai dengan jenjang pendidikannya dan misi khusus yang diembannya.&lt;br /&gt;Secara teoritik, penilaian efektivitas sekolah perlu dilakukan dengan cara mengkaji bagaimana seluruh komponen sekolah itu berinteraksi satu sama lain secara terpadu dalam mendukung keempat kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Namun, pada praktiknya, pandangan yang holistik ini sulit diimplementasikan secara sempurna karena keterbatasan pendekatan penilaian yang dapat digunakan. Oleh karena itu, pengertian penilaian sekolah efektif dirumuskan sebagai penilaian terhadap keoptimalan berfungsinya setiap komponen sekolah dalam mendukung penguasaan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1467098760512395641?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1467098760512395641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/09/01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1467098760512395641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1467098760512395641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/09/01.html' title='Pengelolaan Sekolah yang Efektif'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3756232646574709043</id><published>2010-09-01T09:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T09:22:23.988-07:00</updated><title type='text'>Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)</title><content type='html'>Sejak beberapa waktu terakhir, kita dikenalkan dengan pendekatan “baru” dalam manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. Di Amerika Serikat, pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Pada 1988 American Association of School Administrators, National Association of Elementary School Principals, and National Association of Secondary School Principals, menerbitkan dokumen berjudul school based management, a strategy for better learning. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Selama ini, sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat, kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita khawatir, jangan-jangan selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional, sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBS adalah upaya serius yang rumit, yang memunculkan berbagai isu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh sebab itu, semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS, manfaat, masalah-masalah dalam penerapannya, dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan, kebijakan, kurikulum, standar, dan akuntabilitas. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan, sistematik, dan berlanjut terjadi, mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting), dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen berbasis sekolah telah dilembagakan di tempat-tempat seperti Inggris, dimana lebih dari 25.000 sekolah telah mempraktikkannya lebih dari satu dekade. Atau seperti Selandia Baru atau Victoria, Australia atau di beberapa sistem sekolah yang besar) di Kanada dan Amerika Serikat, dimana terdapat pengalaman sejenis selama lebih dari satu dekade. Praktik manajemen berbasis sekolah di tempat-tempat ini tampaknya tidak dapat dilacak mundur. Satu indikasi skala dan lingkup minat terhadap manajemen berbasis sekolah diagendakan pada Pertemuan Menteri-menteri Pendidikan dari Negara APEC di Chili pada April 2004. APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) merupakan satu jejaring 21 negara yang mengandung sepertiga dari populasi dunia. Tema dari pertemuan adalah “mutu dalam pendidikan” dan tata kelola merupakan satu dari empat sub tema. Perhatian khusus diarahkan pada desentralisasi. Para menteri sangat menyarankan (endorse) manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi dalam reformasi pendidikan, tatapi juga menyetujui aspek-aspek sentralisasi, seperti kerangka kerja bagi akuntabilitas. Mereka mengakui bahwa pengaturannya akan bervariasi di masing-masing negara, yang merefleksikan keunikan tiap-tiap setting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda, seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upaya-upaya pembuat kebijakan dan praktisi. Akan tetapi, alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah, tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah, dinas pendidikan daerah, kepala sekolah, dan dewan sekolah. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran, bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya, dan apa rencana selanjutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diadakan pelatihan dalam bidang-bidang seperti dinamika kelompok, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, penanganan konflik, teknik presentasi, manajemen stress, serta komunikasi antarpribadi dalam kelompok. Pelatihan ini ditujukan bagi semua pihak yang terlibat di sekolah dan anggota masyarakat, khususnya pada tahap awal penerapan MBS. Untuk memenuhi tantangan pekerjaan, kepala sekolah kemungkinan besar memerlukan tambahan pelatihan kepemimpinan. Dengan kata lain, penerapan MBS mensyaratkan yang berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    MBS harus mendapat dukungan staf sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya, pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah, dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Tidak Berminat Untuk Terlibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Tidak Efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Pikiran Kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   &lt;br /&gt;Memerlukan Pelatihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Kesulitan Koordinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.   Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep MBS merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Strategi apa yang diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.                                                                 &lt;br /&gt;Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Demikian De grouwe menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.                                                                  Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet, leaflet, atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.                                                                  Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Dengan kata lain, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah, termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.                                                                  Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS, yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Bekerja dengan tim manajemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3756232646574709043?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3756232646574709043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/09/penerapan-manajemen-berbasis-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3756232646574709043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3756232646574709043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/09/penerapan-manajemen-berbasis-sekolah.html' title='Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8643082570525441415</id><published>2010-08-26T23:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T23:20:12.763-07:00</updated><title type='text'>PROFIL SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/THdZA1jwBSI/AAAAAAAAAR8/ZopvPhnUmbE/s1600/DSC00570.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/THdZA1jwBSI/AAAAAAAAAR8/ZopvPhnUmbE/s320/DSC00570.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509970540022990114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nama Sekolah   : SDN TAMBAK SIRANG BARU&lt;br /&gt;2. Alamat sekolah          :&lt;br /&gt;a. Jalan    :  Bunipah &lt;br /&gt;b. Kelurahan/Desa        :  Tambak Sirang Baru   &lt;br /&gt;c. Kecamatan   :  Gambut&lt;br /&gt;d. Kabupaten/Kota          :  Banjar&lt;br /&gt;e. No telepon   :   -&lt;br /&gt;3. Tahun mulai beroperasi  :  19..&lt;br /&gt;4. Status tanah   :  Milik sendiri &lt;br /&gt;5. Bukti Kepemilikan Tanah         :  Sertifikat &lt;br /&gt;6. Luas tanah yang tersedia : ......................... m2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8643082570525441415?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8643082570525441415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/profil-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8643082570525441415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8643082570525441415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/profil-sekolah.html' title='PROFIL SEKOLAH'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/THdZA1jwBSI/AAAAAAAAAR8/ZopvPhnUmbE/s72-c/DSC00570.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3188967533501735293</id><published>2010-08-14T07:05:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T07:14:31.562-07:00</updated><title type='text'>E-LEARNING AWARD 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGake90A3HI/AAAAAAAAAQo/xWWi2CkWJgQ/s1600/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 166px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGake90A3HI/AAAAAAAAAQo/xWWi2CkWJgQ/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505268446402763890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;E-learning award 2010 mulai sejak bulan Juni 2010 dan batas akhir pendaftaran 30 September 2010. Pengumuman pemenang 28 Oktober 2010 di Jakarta. &lt;br /&gt;Anugerah e-Learning bertujuan untuk:&lt;br /&gt;•    Meningkatkan jumlah konten dan pemanfaatan Jardiknas dengan memfasilitasi hosting/mirror di data center Jardiknas.&lt;br /&gt;•    Mendorong dan meningkatkan penerapan internet di sekolah, perguruan tinggi dan kalangan guru sebagai sarana proses pembelajaran maupun berbagi sumber belajar.&lt;br /&gt;Kategori:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan e-Learning terdiri dari tiga kategori sebagai berikut:&lt;br /&gt;•    e-Learning Perguruan Tinggi&lt;br /&gt;Suatu bentuk pemberian penghargaan kepada Perguruan Tinggi atau komunitas yang  sedang berupaya memanfaatkan internet sebagai sarana pembelajaran dan sumber belajar.&lt;br /&gt;•    e-Learning Sekolah&lt;br /&gt;Suatu bentuk pemberian penghargaan kepada sekolah SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK yang  sedang berupaya memanfaatkan internet sebagai sarana pembelajaran dan sumber belajar.&lt;br /&gt;•    e-Learning Blog Guru&lt;br /&gt;Suatu bentuk pemberian penghargaan kepada guru yang  sedang berupaya memanfaatkan internet sebagai sarana pembelajaran dan atau sumber belajar.&lt;br /&gt;Syaratnya utama yaitumemiliki blog baik wordpres, blogspot, blogdetik atau sebangsanya dan mendaftarkan di &lt;a href="http://jardiknas.kemdiknas.go.id/e-pendidikan/index.php/e-learning-id.html"&gt;situs Festival e-Pendidikan 2010.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kriteria penilaian Penghargaan e-Learning sebagai berikut (seperti yg saya kutip dari mas urip):&lt;br /&gt;1. Materi: Kelengkapan materi, jumlah materi, inovasi, orisinalitas, ada materi baru yang berkesinambungan, kebenaran isi, kedalaman dan keluasan isi, kesesuaian dengan kurikulum.&lt;br /&gt;2. Interface: Kemudahan mencari menu, kemudahan mencari fitur, kemudahan penggunaan,  kecepatan akses dan interaktifitas.&lt;br /&gt;3. Kemampuan akses secara Online: Kemudahan pencarian dengan beberapa jenis mesin pencari (search engine: Yahoo, Google, Bing), Kemudahan penggunaan dengan beberapa jenis browser (Firefox, Internet Explorer, Safari, Crome).&lt;br /&gt;4. Desain grafis/desain komunikasi visual: Tampilan sesuai dengan prinsip desain, ikon, inovasi, kreatifitas,  dan media pendukung: gambar/ilustrasi, animasi, audio, video, simulasi, dan game.&lt;br /&gt;5. Pemanfaatan: Kemudahan penggunaan, bebas error, jumlah pengguna, frekuensi, dan hasil evaluasi pemanfaatan.&lt;br /&gt;6. Penggunaan Bahasa: Bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;Aku juga telah coba daftar, moga keberuntungan berpihak….ayo semua rekan-rekan guru kita daftar, bagi yang belum punya blog bias membuat dulu mumpung waktunya masih ada…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3188967533501735293?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3188967533501735293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/e-learning-award-2010.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3188967533501735293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3188967533501735293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/e-learning-award-2010.html' title='E-LEARNING AWARD 2010'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGake90A3HI/AAAAAAAAAQo/xWWi2CkWJgQ/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8849468434165960722</id><published>2010-08-11T02:32:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T02:41:31.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Model pembelajaran Make a Match (Lorna Curran,1994)</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembelajaran Make a Match adalah sebagi berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.&lt;br /&gt;   2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu.&lt;br /&gt;   3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.&lt;br /&gt;   4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Artinya siswa yang kebetulan mendapat kartu ‘soal’ maka harus mencari pasangan yang memegang kartu ‘ jawaban soal’ secepat mungkin. Demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;   5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.&lt;br /&gt;   6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;   7. Demikian seterusnya sampai semua kartu soal dan jawaban jatuh ke semua siswa.&lt;br /&gt;   8. Kesimpulan/penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.&lt;br /&gt;dikutip dari : http://wyw1d.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8849468434165960722?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8849468434165960722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/model-pembelajaran-make-match-lorna.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8849468434165960722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8849468434165960722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/model-pembelajaran-make-match-lorna.html' title='Model pembelajaran Make a Match (Lorna Curran,1994)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-394020717461096394</id><published>2010-08-01T05:45:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T15:59:02.494-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFVvorRQnZI/AAAAAAAAAPc/fuR_NDM2e_c/s1600/picture-069.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFVvorRQnZI/AAAAAAAAAPc/fuR_NDM2e_c/s320/picture-069.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500425264503496082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen  dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hasil belajar akademik stuktural&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengakuan adanya keragaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengembangan keterampilan social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)      Pembentukan kelompok;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)      Diskusi masalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)      Tukar jawaban antar kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1. Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2. Pembentukan kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 4. Diskusi masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 6. Memberi kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi&lt;br /&gt;   2. Memperbaiki kehadiran&lt;br /&gt;   3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar&lt;br /&gt;   4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil&lt;br /&gt;   5. Konflik antara pribadi berkurang&lt;br /&gt;   6. Pemahaman yang lebih mendalam&lt;br /&gt;   7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi&lt;br /&gt;   8. Hasil belajar lebih tinggi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-394020717461096394?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/394020717461096394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-nht.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/394020717461096394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/394020717461096394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/08/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-nht.html' title='Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFVvorRQnZI/AAAAAAAAAPc/fuR_NDM2e_c/s72-c/picture-069.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-331702366667963377</id><published>2010-07-31T10:51:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T10:57:24.402-07:00</updated><title type='text'>MODEL MBS DI AUSTRALIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFRjpYHXAuI/AAAAAAAAAPU/SORwlujdgqA/s1600/image.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 299px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFRjpYHXAuI/AAAAAAAAAPU/SORwlujdgqA/s320/image.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500130607425323746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Australia lebih seratus tahun hinga awal 1970-an pengelolaan pendidikan ditangani oleh pemerintah pusat. Sebagian besar kurikulum ditentukan oleh pusat yang dikontrol secara ketat oleh sistem inspektorat dan melalui ujian nasional secara menyeluruh pada akhir sekolah menengah atas (secondary school). Sebagian besar dana pendidikan berasal dari pemerintah pusat dengan pengakolasian sumber daya yang sentralistis.&lt;br /&gt;Namun, sejak awal tahun 1970-an telah terjadi perubahan dramatis dalam pengelolaan pendidikan di Negara kanguru itu. Perubahan yang nyata adalah pemerintah federal mulai memiliki keterlibatan peran yang penting dalam pengelolaan pendidikan melalui Australian Commonwealth School Commision yang dibentuk tahun 1973.&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1970-an itu juga ditandai adanya desentralisasi administratif Departemen Pendidikan melalui pembentukan unit-unit regional di beberapa Negara bagian. Diawali  di Negara Australia Selatan dan Australia Capital Territory mulai memberikan kebebasan dan otonomi yang lebih besar kepada sekolah. Proses ini berlanjut hingga tahun 1980-an di beberapa bagian seperti Victoria, Australia Barat (Western Australia), Australia Utara (Northern Territory), Tasmania, dan Queenland.&lt;br /&gt;Karakteristik MBS di Australia dapat dilihat dari aspek kewenangan sekolah yang meliputi :&lt;br /&gt;1. Menyusun dan mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar.&lt;br /&gt;2. Melakukan pengelolaan sekolah yang dapat dipilih diantara tiga kemungkinan, yaitu Standard Flexibility Option (SO), Enchanced Flexibility Option -1 (EO 1), dan Enchanced Flexibility Option -2 (EO 2).&lt;br /&gt;3. Membuat perencanaan, melaksanakan dan mempertanggung jawabkannya.&lt;br /&gt;4. Adanya akuntabilitas dalam pelaksanaan MBS.&lt;br /&gt;5. Menjamin dan mengusahakan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan&lt;br /&gt;6. Adanya fleksibilitas dalam penggunaan sumber daya sekolah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-331702366667963377?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/331702366667963377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/model-mbs-di-australia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/331702366667963377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/331702366667963377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/model-mbs-di-australia.html' title='MODEL MBS DI AUSTRALIA'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TFRjpYHXAuI/AAAAAAAAAPU/SORwlujdgqA/s72-c/image.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2874306508974456356</id><published>2010-07-12T03:16:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T00:18:11.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='download'/><title type='text'>SURAT EDARAN MENPAN NOMOR 5 TAHUN 2010 (PENGANGKATAN TENAGA HONORER)</title><content type='html'>MENTERI NEGARA&lt;br /&gt;PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA&lt;br /&gt;DAN REFORMASI BIROKRASI&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Yth.&lt;br /&gt;Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat&lt;br /&gt;Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;Tempat&lt;br /&gt;SURAT EDARAN&lt;br /&gt;NOMOR 05 TAHUN 2010&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENDATAAN TENAGA HONORER&lt;br /&gt;YANG BEKERJA DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007, Pemerintah telah melakukan pemrosesan tenaga honorer sejumlah 920.702. Menurut laporan dari berbagai daerah dan pengaduan tenaga honorer yang disampaikan kepada Badan Kepegawaian Negara dan Kementerian PAN &amp; RB serta kepada Anggota DPR-RI khususnya Komisi II, Komisi VIII dan Komisi X, masih terdapat tenaga honorer yang memenuhi syarat Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adapun tenaga honorer dimaksud terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Kategori I&lt;br /&gt;Tenaga honorer yang penghasilannya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan kriteria :&lt;br /&gt;Diangkat oleh pejabat yang berwenang;&lt;br /&gt;Bekerja di instansi pemerintah;&lt;br /&gt;Masa kerja minimal 1 (satu) tahun pada 31 Desember 2005 dan sampai saat ini masih bekerja secara terus menerus;&lt;br /&gt;Berusia sekurang-kurangnya 19 tahun dan tidak boleh lebih dari 46 tahun per 1 Januari 2006&lt;br /&gt;2. Kategori II&lt;br /&gt;Tenaga honorer yang penghasilannya dibiayai bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan kriteria :&lt;br /&gt;Diangkat oleh pejabat yang berwenang;&lt;br /&gt;Bekerja di instansi pemerintah;&lt;br /&gt;Masa kerja minimal 1 (satu) tahun pada 31 Desember 2005 dan sampai saat ini masih bekerja secara terus menerus;&lt;br /&gt;Berusia sekurang-kurangnya 19 tahun dan tidak boleh lebih dari 46 tahun per 1 Januari 2006&lt;br /&gt;3. Untuk menyelesaikan tenaga honorer tersebut di atas dan sambil menunggu Peraturan Pemerintah Tentang Persyaratan dan Tata Cara Penyelesaian Tenaga Honorer;&lt;br /&gt;Tenaga honorer kategori I diminta kepada Pejabat Pembina Kepegawaian agar:&lt;br /&gt;Melakukan pendataan tenaga honorer sebagaimana kriteria di atas berdasarkan formulir yang telah diisi oleh tenaga honorer dan disahkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk dan pejabat yang bertanggung jawab di bidang pengawasan sebagaiman tersebut dalam lampiran &lt;br /&gt;Perekaman data tenaga honorer harus menggunakan aplikasi yang telah disiapkan oleh BKN. Aplikasi dan formulir pendataan dapat diunduh di www.bkn.go.id atau menghubungi BKN / Kantor Regional BKN di wilayah kerjanya. &lt;br /&gt;Menyampaikan formulir pendataan tenaga honorer yang telah ditandatangani oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk dan pejabat yang bertanggungjawab di bidang pengawasan, daftar nominatif beserta softcopy (compact disk) data tenaga honorer hasil inventarisasi tersebut telah diterima di Badan Kepegawaian Negara paling lambat tanggal 31 Agustus 2010 sebagai bahan persiapan untuk melakukan verifikasi dan validasi data tenaga honorer oleh tim verifikasi dan validasi nasional yang jadwal pelaksanaan akan disampaikan kemudian oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara. &lt;br /&gt;Pejabat Pembina Kepegawaian Kabupaten/Kota agar menyampaikan tembusan sebagaimana tersebut pada angka 3 di atas kepada Gubernur &lt;br /&gt;Tenaga honorer kategori II diminta kepada Pejabat Pembina kepegawaian agar:&lt;br /&gt;Melakukan inventarisasi data tenaga honorer sebagaimana kriteria di atas berdasarkan formulir sebagaimana tersebut dalam lampiran II.a dan II.b.&lt;br /&gt;Menyampaikan hasil inventarisasi tersebut kepada Kementerian PAN &amp; RB tembusan BKN paling lambat 31 Desember 2010&lt;br /&gt;4. Selain hal tersebut di atas Pejabat Pembina Kepegawaian perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;Data Tenaga Honorer yang memenuhi persyaratan sebagaimana kategori I yang disampaikan kepada Kepala BKN setelah tanggal 30 Juni 2006 sampai dengan tanggal dikeluarkan Surat Edaran ini dinyatakan tidak berlaku dan agar diusulkan kembali dengan formulir sebagaimana dimaksud pada lampiran I.&lt;br /&gt;Pelaksanaan pendataan (proses dan hasil) harus dilakukan secara transparan, tidak dipungut biaya, cermat, akurat, tepat dan diumumkan melalui media selama 14 (empat belas hari) kepada publik sehingga tidak menimbulkan permasalahan data tenaga honorer dikemudian hari. &lt;br /&gt;Pejabat yang menandatangani formulir akan dikenai sanksi administrasi maupun pidana, apabila dikemudian hari ternyata data tenaga honorer yang disampaikan tersebut tidak benar dan tidak sah.&lt;br /&gt;Biaya pelaksanaan pendataan tenaga honorer dibebankan pada APBN/APBD di masing-masing instansi pemerintah yang bersangkutan&lt;br /&gt;Apabila sampai tanggal 31 Agustus 2010 formulir pendataan tenaga honorer, daftar nomonatif beserta softcopy (compact disk) dan formulir data belum diterima oleh BKN, maka instansi tersebut dinyatakan tidak memiliki tenaga honorer dan tidak dapat mengusulkan tenaga honorer kembali.&lt;br /&gt;5. Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 28 Juni 2010&lt;br /&gt;Menteri Negara&lt;br /&gt;Pendayagunaan Aparatur Negara dan&lt;br /&gt;Reformasi Birokrasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. E. Mangindaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembusan :&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia&lt;br /&gt;Wakil Presiden Republik Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : bkn.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;versi hemat dan alternatifnya bisa anda download disini&lt;br /&gt;Surat Edaran Menpan No. 5 tahun 2010 (815kb)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/10678113/LAMPIRAN_FORMULIR_PEMETAAN_TENAGA_HONORER_2010.pdf.html"&gt;Download Lampiran/ Formulir Pemetaan Tenaga Honorer 2010 (37kb)&lt;/a&gt;klik disini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2874306508974456356?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2874306508974456356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/surat-edaran-menpan-nomor-5-tahun-2010.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2874306508974456356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2874306508974456356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/surat-edaran-menpan-nomor-5-tahun-2010.html' title='SURAT EDARAN MENPAN NOMOR 5 TAHUN 2010 (PENGANGKATAN TENAGA HONORER)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8808759830552706730</id><published>2010-07-03T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T23:54:15.290-07:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Terpadu</title><content type='html'>DALAM buku Belajar Aktif dan Terpadu, Apa, Mengapa, dan Bagaimana? karangan Ujang Sukandi dan kawan-kawan yang diterbitkan The British Council (2001), pembelajaran terpadu dimaksudkan sebagai kegiatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, pemaduan materi pelajaran dalam satu tema disebut tematik. Dengan demikian maka pembelajaran terpadu adalah mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik, setiap tema yang disajikan akan memerlukan durasi kurang lebih tiga sampai enam pekan, bergantung pada materi yang ada pada setiap caturwulan dan keterpaduan dari tema. Berikut adalah gambaran sebuah kelas yang sedang melakukan pembelajaran dengan tema Pasar. Mudah-mudahan gambaran ini dapat mengikat pengertian kita terhadap diskusi selanjutnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Beni adalah guru kelas tiga SD. Dia bersama tiga guru paralel lainnya mempersiapkan pembelajaran yang bertema Pasar dalam durasi waktu empat pekan. Keempat guru kelas tiga itu telah membagi tugas masing-masing dalam menyiapkan bahan, alat, dan materi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Karim akan menyiapkan segala keperluan belajar untuk mata pelajaran Matematika. Pada mata pelajaran ini, materi pelajaran yang akan dibahas adalah uang serta penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Bu Nani akan menyiapkan segala perangkat pembelajaran untuk topik makanan sehat dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Bu Marni menyiapkan segala hal untuk mata pelajaran Bahasa Indone-sia dengan topik menulis kreatif. Pak Beni sendiri menyiapkan untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan topik kelurahan dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada topik tenggang rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal belajar yang bertema pasar ini, seluruh kelas telah mengadakan survei. Survei dilakukan dengan cara siswa mengamati pasar yang dikunjunginya saat liburan dengan membuat chek-list pada lembar pengamatan yang disiapkan guru. Dalam pengamatan ini, anak melakukannya saat menemani orangtua mereka berbelanja di pasar. Selain pengamatan, siswa kelas tiga juga mengundang tukang siomay yang biasa mangkal di jalan masuk menuju sekolah. Mereka bergiliran mengajukan pertanyaan, seperti: Kapan mulai berjualan? Mengapa jualan siomay dan bukan yang lain? Mengapa menjadi penjual dan bukan menjadi pegawai? Berapa untung setiap hari? Apa rencana masa depannya? Apa obsesinya? Milih partai apa kalau pemilu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil akhir dari pembelajaran ini nantinya adalah aktivitas sebuah pasar tradisional yang rencananya akan "dibangun" di sepanjang koridor sekolah mereka, kolaborasi keempat kelas paralel tersebut. Seluruh siswa akan berprofesi sebagai pedagang berbagai macam makanan dan kebutuhan lainnya, sedangkan para pembelinya adalah semua komunitas sekolah, siswa tingkat kelas lain, guru, karyawan sekolah, dan para orangtua murid yang secara khusus mereka undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan tema pembelajaran itu, setiap anak bekerja dalam kelompok. Masing-masing kelompok menentukan sendiri apa jualan yang akan mereka gelar dan berapa kira-kira untung yang akan mereka ambil dari dagangannya. Mereka menyiapkan sendiri di saat-saat pelajaran dengan arahan guru.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran tersebut, penulis akan menunjukkan adanya beberapa sisi positif mengapa kita menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu atau pendekatan tematik. Keuntungan tersebut didasari oleh beberapa alasan. Pertama, materi pelajaran menjadi dekat dengan kehidupan anak sehingga anak dengan mudah memahami sekaligus melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, siswa juga dengan mudah dapat mengaitkan hubungan materi pelajaran di mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya. Ketiga, dengan bekerja dalam kelompok, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan belajarnya dalam aspek afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif. Keempat, pembelajaran terpadu mengakomodir jenis kecerdasan siswa. Kelima, dengan pendekatan pembelajaran terpadu guru dapat dengan mudah menggunakan belajar siswa aktif sebagai metode pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berharap agar tulisan ini menjadi inspirasi untuk terus memperjuangkan pembaruan di sekolah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8808759830552706730?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8808759830552706730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/pembelajaran-terpadu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8808759830552706730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8808759830552706730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/pembelajaran-terpadu.html' title='Pembelajaran Terpadu'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5596257067653006165</id><published>2010-07-03T23:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T23:50:44.015-07:00</updated><title type='text'>10 ciri guru profesional</title><content type='html'>dikutip dari : http://gurukreatif.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selalu punya energi untuk siswanya&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pengetahuan tentang Kurikulum&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan&lt;br /&gt;Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5596257067653006165?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5596257067653006165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/10-ciri-guru-profesional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5596257067653006165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5596257067653006165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/07/10-ciri-guru-profesional.html' title='10 ciri guru profesional'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1346459138828493747</id><published>2010-06-30T20:46:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T20:54:56.465-07:00</updated><title type='text'>Menggunakan Daya Ingat secara Efektif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCwRZA2_oQI/AAAAAAAAAPI/K8G5NqpzRXM/s1600/berpikir-21.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCwRZA2_oQI/AAAAAAAAAPI/K8G5NqpzRXM/s320/berpikir-21.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488781167282856194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik berikut digunakan secara bersama-sama dengan huruf, imej, peta, yang membantu ingatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga dapat memperoleh melalui teknik-teknik ini, yang mencoba memikirkan strategi yang akan berguna bagi Anda!&lt;br /&gt;Beberapa orang menggunakan sejumlah huruf, imej, atau lagu.&lt;br /&gt;Masing-masing tergantung pada apakah cocok dengan Anda, atau apakah berguna terhadap cara Anda berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akronim&lt;br /&gt;Akronim adalah suatu temuan gabungan huruf. Setiap huruf mengisyaratkan atau menyarankan sesuatu, sebagai pokok yang perlu Anda ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    PEMDAS, rangkaian pemecahan atau pengevaluasian persamaan matematika.&lt;br /&gt;    Tanda kurung | Eksponen (pangkat dalam matematika)| Perkalian| Pembagian| Penambahan| Pengurangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ROY G. BIV, aneka warna yang kelihatan&lt;br /&gt;    Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    IPMAT, tingkatan pembagian sel&lt;br /&gt;    Interphase, Prophase, Metaphase, Anaphase, Telephase&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sanjak (huruf awal/akhir setiap kata di dalam sajak) adalah temuan kalimat atau puisi dengan huruf pertama sebagai kunci:&lt;br /&gt;Huruf pertama setiap kata adalah isyarat ke arah suatu ide yang Anda perlukan untuk mengingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Please Excuse My Dear Aunt Sally (PEMDAS, above)&lt;br /&gt;    rangkaian pemecahan atau pengevaluasian persamaan matematika&lt;br /&gt;    Parenthesis | Exponents | Multiplication | Division | Addition | Subtraction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Every Good Boy Dererves Fun Sanjak untuk mengingat rangkaian (tangga) nada musik (G-kunci nada musik bidang permusikan)--E, G, B, D, F&lt;br /&gt;    Lihat juga:  Silva Rhetoricae; Acrostics for Children;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kunci Persajakan: ( untuk daftar perintah atau tanpa perintah)&lt;br /&gt;Pertama, hafal kata kunci yang dapat digabungkan dengan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Contoh:  bun (kue, sanggul) = one (satu); shoe (sepatu) = two (dua), tree (pohon) = three (tiga), door (pintu) = , hive (sarang) = five (lima), dsb.&lt;br /&gt;    Ciptakan suatu imej tentang pokok-pokok ini yang Anda perlukan untuk mengingat dengan kata kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Empat kelompok makanan dasar ? produksi harian; daging, ikan, unggas, beras, buah dan sayuran. Pikirkan keju dengan kue (satu), persediaan hidup dengan sepatu (dua),&lt;br /&gt;    satu karung beras tergantung di sebuah pohon (tiga), sebuah pintu ke ruangan persediaan buah dan sayuran (empat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Metode Loci: (untuk kira-kira 20 pokok atau item)&lt;br /&gt;Pilih suatu lokasi yang Anda kenal dengan baik.&lt;br /&gt;Baik untuk pelajar-pelajar ilmu gerak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bayangkan Anda sendiri berjalan melalui lokasi itu, memilih dengan jelas tempat-tempat secara pasti?pintu, sofa, pendingin, rak, dsb. Bayangkan diri Anda meletakkan obyek-obyek yang Anda perlukan ke setiap tempat ini dengan berjalan langsung melalui lokasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekali lagi, Anda memerlukan patokan arah secara jelas ke lokasi obyek-obyek untuk memudahkan obyek-obyek tersebut ditemukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    George Washington, Thomas Jefferson, dan Richard Nixon, Anda dapat bayangkan berjalan ke pintu lokasi Anda dan melihat selembar uang dollar di pintu, ketika Anda membuka pintu Jefferson sedang berbaring di sofa dan Nixon sedang makan tanpa alat pendingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Metode Kata Kunci (untuk kosa kata bahasa asing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertama, sesudah memutuskan kata asing yang Anda perlukan untuk mengingat, pilihlah kata kunci dalam bahasa Inggris yang berbunyi seperti kata asing.&lt;br /&gt;    Kemudian, bayangkan suatu imej yang mengandung kata kunci bahasa asing dengan makna bahasa Inggris.&lt;br /&gt;    Sebagai contoh, Menurut bahasa Spanyol kata "cabina" berarti "phone booth" (tempat tilpon) Untuk kata kunci bahasa Inggris, Anda boleh memikirkan "cab in a ... ." Anda kemudian akan menemukan suatu imej ?a cab trying to fit in a phone booth?. Apabila Anda melihat kata ?cabina" saat ujian, Anda harus mungkin mengembalikan imej tentang ?cab? dan Anda harus menemukan kembali definisi ?phone booth?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imej -Teknik Penamaan: (untuk mengingat nama-nama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Temuan yang sederhana dalam hubungan apa saja antara nama dan sifat-sifat fisik seseorang. Sebagai contoh, kalau Anda mengingat nama Shirley Temple, Anda boleh melekatkan nama itu dengan kenangan bahwa ia mempunyai rambut keriting sekitar pelipisnya. ?curly?(bersajak dengan Sherly).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Merangkai : (untuk daftar perintah dan yang bukan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ciptakan sebuah cerita di mana setiap kata atau ide memungkinkan Anda mengingat kembali ide berikutnya yang Anda perlukan. Kalau Anda ingat kata Napoleon, telinga, pintu, dan Jerman, Anda akan menemukan cerita Napoleon dengan telinganya ke pintu untuk mendengar orang berbicara bahasa Jerman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1346459138828493747?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1346459138828493747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/menggunakan-daya-ingat-secara-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1346459138828493747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1346459138828493747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/menggunakan-daya-ingat-secara-efektif.html' title='Menggunakan Daya Ingat secara Efektif'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCwRZA2_oQI/AAAAAAAAAPI/K8G5NqpzRXM/s72-c/berpikir-21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7448057053537900613</id><published>2010-06-30T20:41:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T20:43:28.653-07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Cek Data Sisa Honorer, CPNS 2010 untuk Umum</title><content type='html'>JAKARTA (RP) – Pemerintah baru akan menyusun formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2010, pada pertengahan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dipastikan, formasi yang dibuat hanya dikhususkan untuk pelamar umum. Kebijakan ini berbeda dengan formasi penerimaan CPNS beberapa tahun belakangan ini yang formasinya nyaris ?dikuasai? oleh tenaga honorer.&lt;br /&gt;Deputi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN &amp; RB) Bidang SDM Aparatur Ramli Naibaho, menjelaskan, perubahan formasi ini dibuat dengan dua alasan. Pertama, memang untuk pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS sudah selesai 2009 lalu. Kalau pun masih ada yang belum menjadi CPNS, itu hanya sisa-sisa tenaga honorer. Kalau pun DPR memutuskan sisa tenaga honorer itu harus juga diangkat menjadi CPNS, itu pun tidak bisa dilakukan tahun ini. Pasalnya, menurut Ramli, pemerintah perlu mengecek akurasi data sisa tenaga honorer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Dan itu prosesnya panjang,?? ucapnya. Alasan kedua, dengan formasi yang dibatasi hanya untuk pelamar umum, maka diharapkan ada mendapatkan PNS yang berkualitas. ??Untuk mendapatkan PNS berkualitas baik butuh seleksi yang baik juga. Salah satunya dengan membuka lama&lt;br /&gt;ran yang terbuka untuk umum dan tidak dijatah. Kalau tenaga honorer kan, dia berkualitas atau tidak tetap akan diangkat dan hanya menunggu waktu pengangkatan saja. Ini yang akan diubah pemerintah. Seleksi CPNS murni dibuka untuk umum,?? tegas Ramli yang dihubungi JPNN, Ahad (17/1).&lt;br /&gt;Ditanya prediksi jumlah kebutuhan CPNS 2010, dia mengatakan, masih menunggu data dari pemerintah daerah maupun pusat. Setelah semua data masuk, tim yang terdiri dari Departemen Keuangan (Depkeu), MenPAN &amp; RB, BKN, Depdagri, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan Departemen Agama (Depag) akan merumuskannya.&lt;br /&gt;Ramli hanya menjelaskan, jumlah formasi disesuaikan dengen kebutuhan ril. Dengan kata lain, jumlahnya tidak banyak. ??Usulan data CPNS harus benar-benar sesuai kebutuhan. Misalnya, yang pensiun atau berhenti berapa, itu yang diusulkan untuk diisi,?? ujarnya.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk daerah pemekaran, usulannya bisa lebih tapi harus sesuai kebutuhan juga. Pemda pun tidak sembarangan mengusulkan karena ada tim yang menganalisa kebenarnya.&lt;br /&gt;Pemerintah Cek Data Sisa Tenaga Honorer&lt;br /&gt;Pemerintah masih menunggu sikap DPR terkait nasib para tenaga honorer yang belum diangkat menjadi CPNS. Jika DPR memutuskan sisa tenaga honorer itu harus terakomodasi dalam formasi penerimaan CPNS tahun ini, maka pemerintah siap melaksanakan. Hanya saja, pemerintah akan mengecek secara cermat agar sisa tenaga honorer yang dimaksud benar-benar tenaga honorer sudah bekerja sebelum 1 Januari 2005.&lt;br /&gt;??Pemerintah hanya mengikuti keputusan DPR RI saja. Kan DPR itu sebagai wakil rakyat. Kalau mereka bilang, sisa honorer harus diprioritaskan tahun ini ya, harus kami ikuti,?? ujar Ramli.&lt;br /&gt;Meski demikian, lanjut Ramli, pemerintah akan memberikan beberapa opsi kepada DPR. Salah satunya, jika DPR memberikan rekomendasi agar sisa tenaga honorer diprioritaskan dalam seleksi CPNS 2010, maka pemerintah harus menurunkan tim ke lapangan. Tim yang terdiri dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Kepegawaian Nasional (BKN), Kementrian PAN&amp;RB, Depdagri, Departemen Keuangan (Depkeu), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag) itu, akan mebegcek secara cermat apakah benar honorer tersebut benar-benar sisa honorer yang tidak sempat terdata.&lt;br /&gt;??Harus benar-benar diteliti, kalau tidak, masalah honorer tak akan pernah tuntas. Sebab, bisa saja ada oknum yang melakukan manipulasi data. Misalnya, tahun honorernya diubah menjadi di bawah 2005, dan modus-modus lainnya,?? ujarnya.&lt;br /&gt;Lantas apa indikator sisa tenaga honorer yang dimaksud pemerintah? Dijelaskan Ramli, disebut tenaga honorer yang tertinggal jika tenaga honorer itu diangkat oleh pejabat berwenang, bekerja sebelum 1 Januari 2005 dan masih berlaku SK honorernya, digaji oleh APBN atau APBD, serta bekerja di instansi pemerintah. ??Untuk membuktikan hal tersebut, butuh proses panjang dan memakan biaya besar. Namun, mau tak mau itu harus dilakukan agar masalah honorer bisa tuntas. Apalagi, penerimaan honorer sudah dihentikan sejak 2005,??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7448057053537900613?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7448057053537900613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/pemerintah-cek-data-sisa-honorer-cpns.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7448057053537900613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7448057053537900613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/pemerintah-cek-data-sisa-honorer-cpns.html' title='Pemerintah Cek Data Sisa Honorer, CPNS 2010 untuk Umum'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-8117016326688744631</id><published>2010-06-24T07:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T00:09:21.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Model Pembelajaran'/><title type='text'>PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)</title><content type='html'>Awal mula kata-kata PAKEM dikembangkan dari istilah AJEL (Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 1999 dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring dengan perkembangan MBS di Indonesia pada tahun 2002 istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.&lt;br /&gt;Namun demikian jika dicermati dalam modul-modul pelatihan PAKEM, landasan-landasan teori yang digunakan di dalamnya pada hakekatnya adalah mengambil dari teori-teori tentang active learning atau pembelajaran aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan belajar siswa aktif sebenarnya sudah sejak lama dikembangkan. Konsep ini didasari pada keyakinan bahwa hakekat belajar adalah proses membangun makna/pemahaman, oleh si pembelajar, terhadap pengalaman dan informasi yang disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan yang dimiliki) dan perasaannya. Dengan demikian siswalah yang harus aktif untuk mencari informasi, pengalaman maupun keterampilan dalam rangka membangun sebuah makna dari hasil proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian pembelajaran aktif sedikit membingungkan. Hal tersebut dikarenakan setiap orang memberikan pengertian yang berbeda-beda. Terlebih jika melihat hakekat belajar sebagaimana disebutkan di atas yaitu proses membangun makna oleh si pembelajar. Jadi mustahil siswa dikatakan belajar tetapi dia pasif sama sekali.&lt;br /&gt;Barangkali istilah pembelajaran aktif di sini lebih tepat merupakan lawan dari pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran konvensional gurulah yang mendominasi semenatara pada pembelajaran aktif siswalah yang lebih banyak melakukan aktivitas belajar. Kedua pendekatan pembelajaran masih tetap ada keaktifan siswa, namun dalam kadar yang berbeda. Secara kuantitatif depdiknas pernah menetapkan dengan perbandingan 30% : 70%. Jika pendekatan konvensional (implementasi kurikulum 1994 dan sebelumnya) teknik pembelajarannya adalah 70% guru ceramah dan 30% siswa aktif melakukan kegiatan. Sedangkan pada pembelajaran aktif (imlementasi dari kurikulum 2006) teknik pembelajaran dilakukan dengan 70% siswa yang aktif melakukan kegiatan dan guru hanya 30% saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran aktif adalah suatu istilah yang memayungi beberapa model pembelajaran yang memfokuskan tanggung jawab proses pembelajaran pada si pelajar. Bonwell dan Eison ( 1991) mempopulerkan pendekatan ini ke dalam pembelajaran. Istilah active learning ini sudah dikenal pada tahun 1980-an. Kemudian pada tahun 1990-an Association for the Study of Higher Education (ASHE) memberikan laporan yang lebih lengkap tentang active learning. Dalam laporannya tersebut mereka telah mendiskusikan berbagai metode pembelajaran untuk memperkenalkan aktive learning.&lt;br /&gt;Berikut pandangan dari para ahli mengenai kegiatan, siswa, dan lingkungan belajar active learning yang dipaparkan oleh Missouri Department of Elementary and Secondary Education Missouri Department of Elementary and Secondary Educationdalam http://schoolweb.missouri.edu/stoutland/elementary/active_learning.htm, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Silberman, M (1996) menggambarkan saat belajar aktif, para siswa melakukan banyak kegiatan. Mereka menggunakan otak untuk mempelajari ide-ide, memecahkan permasalahan, dan menerapkan apa yang mereka belajar. belajar aktif adalah mempelajari dengan cepat, menyenangkan, penuh semangat, dan keterlibatan secara pribadi…untuk mempelajari sesuatu dengan baik, harus mendengar, melihat, menjawab pertanyaan, dan mendiskusikannya dengan orang lain. Semua itu diperlukan oleh siswa untuk melakukan kegiatan – menggambarkannya sendiri, mencontohkan, mencoba keterampilan, dan melaksanakan tugas sesuai dengan pengetahuan yang telah mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Glasgow (1996) siswa aktif adalah siswa yang bekerja keras untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam proses belajarnya sendiri. Mereka mengambil suatu peran yang lebih dinamis dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka harus mengetahui, apa yang harus mereka lakukan, dan bagaimana mereka akan melakukan itu. Peran mereka kemudian semakin luas untuk self-management, dan memotivasi diri untuk menjadi suatu kekuatan lebih besar di yang dimiliki siswa.&lt;br /&gt;c. Modell dan Michael (1993) Menggambarkan suatu lingkungan belajar aktif adalah lingkungan belajar di mana para siswa secara individu didukung untuk terlibat aktif dalam proses membangun model mentalnya sendiri dari informasi yang telah mereka peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. UC Davis TAC Handbook, Active Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk menjadi guru bagi mereka sendiri. Active learning adalah suatu pendekatan bukan metode.&lt;br /&gt;Menurut Joel Wein (1997:1) mendefinisikan active learning adalah nama suatu pendekatan untuk mendidik para siswa dengan memberikan peran yang lebih aktip di dalam proses pembelajaran. unsur umum di dalam pendekatan ini adalah bahwa guru dipindahkan peran kedudukannya dari yang paling berperan depan suatu kelas dan mempresentasikan materia pelajaran; menjadi para siswa lah yang berada pada posisi pengajaran diri mereka sendiri, dan guru diubah menjadi seorang pelatih dan penolong di dalam proses itu.&lt;br /&gt;Akhirnya pada tahun 2004 sebagaimana dikatakan oleh Mayer (2004) dalam wikipedia di http://en.wikipedia.org/wiki/active_learning#column-one strategi seperti “active learning” sudah berkembang luas &lt;br /&gt;hampir pada semua kelompok teori yang mengenalkan tentang pembelajaran yang mana siswa dapat menemukan sendiri. Bruner pada tahun 1961 pernah menjelaskan bahwa asalkan siswa sudah terlibat dalam proses pembelajaran, kemudian dapat mengingat kembali informasi yang telah diberikan sebelumnya, itu sudah dikatakan siswa aktif. Tetapi penjelasan itu ditentang oleh Mayer (2004); Kirschner, Sweller, and Clark, (2006) yang pada intinya mengatakan bahwa aktif menjelaskan bahwa siswa aktif tidak hanya sekedar hadir di kelas, menghafalkan dan akhirnya mengerjakan soal-soal di akhir pelajaran. Siswa harus terlibat aktif baik secara fisik maupun mental. Siswa semestinya juga aktif melakukan praktik dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonwell dan Eison (1991) dalam wikipedia di http://en.wikipedia.org/wiki/active_learning#column-one memberikan beberapa contoh pembelajaran aktif seperti pembelajaran berpasang-pasangan, berdiskusi, bermain peran, debat, studi kasus, terlibat aktif dalam kerja kelompok, atau membuat laporan singkat dan sebagainya. Disarankan agar guru menjadi pemandu sepanjang tahap awal pembelajaran, kemudian biarkan anak melakukan praktik keterampilan baru kemudian memberikan informasi-informasi baru yang belum diketahui siswa selama pembelajaran. Disarankan penggunaan active learning pada saat siswa telah mengenal materi sebelumnya, dan mereka telah memiliki suatu pemahaman yang baik manyangkut materi sebelumnya.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa active learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran (mencari informasi, mengolah informasi, dan menyimpulkannya untuk kemudian diterapkan/ dipraktikkan) dengan menyediakan lingkungan belajar yang membuat siswa tidak tertekan dan senang melaksanakan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;PAKEM dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si siswa dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakekat belajar (Sediono, dkk. 2003: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Kreatif yaitu pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan proses pembelajaran yang kreatif. Jerry Wennstrom (2005) mengatakan proses kreatif adalah suatu format explorasi yang berbeda dari yang lain, yaitu proses yang dihubungkan dalam pengalaman hidup dan bukan merupakan suatu model umum. Proses pembelajaran yang kreatif adalah adalah suatu tindakan untuk penemuan terus menerus, penggalian yang mendalam dengan hati, pikiran dan semangat untuk mendapatkan keindahan dan pengalaman baru yang dapat ia rasakan (http://www.handsofalchemy.com). Menurut Jerry Wennstrom ini, proses belajar dikatakan kreatif bukan dilihat dari orang lain, namun lebih dilihat dari si-pelaku belajar sendiri. Dalam proses belajar apakah siswa telah menggunakan seluruh kemampuannya untuk memperoleh keindahan dan pengalaman baru. Keindahan dan pengalaman baru tersebut hanya bisa dirasakan oleh siswa itu sendiri. Dengan demikian proses kreatif antara siswa yang satu dengan yang lainnya berada pada takaran yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa PAKEM adalah akronim dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.&lt;br /&gt;Menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti menaingkatkan hasil belajar. Seperti dikatakan oleh Muhhammad Rasyid Dimas bahwa memetik senar kegembiraan pada anak akan memunculkan keriangan dan vitalitas dalam jiwanya. Hal itu juga akan menjadikan si anak selalu siap untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apapun. Menabur kegembiraan dan keceriaan pada anak akan membuatnya mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam bentuk yang sempurna (Tate Qomaruddin. 2005:19).&lt;br /&gt;Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup bila proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Pembelajaran yang menyenangkan ditandai dengan besarnya perhatian siswa terhadap tugas sehingga hasil belajar (tujuan pembelajaran) meningkat. Selain itu dalam jangka panjang diharapkan siswa menjadi senang belajar untuk menciptakan sikap belajar mandiri sepanjang hayat (life long learn).&lt;br /&gt;Secara garis besar PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCNqpdgq_1I/AAAAAAAAAO4/OJVKuOwoh7g/s1600/1111.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCNqpdgq_1I/AAAAAAAAAO4/OJVKuOwoh7g/s320/1111.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486346031596240722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-8117016326688744631?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/8117016326688744631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/pakem-pembelajaran-aktif-kreatif.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8117016326688744631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/8117016326688744631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/pakem-pembelajaran-aktif-kreatif.html' title='PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TCNqpdgq_1I/AAAAAAAAAO4/OJVKuOwoh7g/s72-c/1111.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-711784860336425390</id><published>2010-06-24T07:06:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T16:09:56.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>PROFESIONALISME GURU</title><content type='html'>Pada bagian ini kita akan melihat sedikit tentang arti profesionalisme dan juga mata pencaharian. Namun sebelumnya saya ingin mengajak Anda untuk mengerti arti kata guru. Guru, berasal dari kata Sansekerta “gur-u” yang berarti “mulia, bermutu dan juga memiliki kemuliaan” (Racmat Sugito dalam Kompas, 1 September 2007). Gelar yang diberikan kepada “guru” memang sangat mendalam jika dilihat dari arti kata aslinya. Jika demikian, maka benar bahwa seorang guru yang mulia, bermutu dan memiliki kemuliaan seharusnya juga memiliki profesionalisme dan tidak sebatas pada hanya sekedar tempat untuk mencari sesuap nasi, demi mendapatkan gaji untuk mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua konsep yang berkaitan dengan kata profesi jika ditinjau dari aspek sosiologi, yaitu: yang berdasarkan pada sifat-sifat yang dilekatkan pada pribadi dan berdasarkan pada teori struktural-fungsional. Jika profesi guru dilihat dari sifat-sifat yang melekat pada pribadinya, maka seorang guru harus memiliki standar profesi seperti yang ada pada dokter dan ahli hukum. Kedua profesi, dokter dan ahli hukum, disebut sebagai profesi karena mereka memiliki standar seperti harus mengikuti pendidikan dan latihan, stratifikasi, organisasi formal, pelayanan kepada publik dan juga memiliki kode etik yang mengatur mereka secara jelas dan tegas. Karena itu, dalam arti pertama ini, profesi ialah sifat khusus yang dilekatkan pada pribadi seseorang, entah dia sebagai dokter, ahli hukum dan juga guru. Sedangkan jika profesi dilihat berdasarkan teori struktural-fungsional, maka profesi dilihat sebagai suatu bentuk pelayanan yang melindungi masyarakat umum. Sejak tahun 1960-an, profesi ini hanya dikenakan kepada dokter karena merekalah yang memiliki kapasitas melayani dan melindungi masyarakat umum. Hal ini tentu berkaitan dengan tugas mereka dalam dunia kedokteran, yang berusaha membuat manusia hidup terutama dalam soal kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEKERJAAN GURU: SEBAGAI PROFESI&lt;br /&gt;Pertanyaan lebih lanjut, apakah pekerjaan guru adalah sebagai profesi? Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengafirmasi bahwa memang menjadi guru adalah sebuah profesi. Tetapi profesionalitas seorang guru harus dikaitkan dengan apa yang menjadi profesi (telah dihidupi dan dijalankan), dalam dunia kedokteran dan hukum (bandingkan di atas). Orang yang berprofesi sebagai guru seharusnya memiliki dan mengikuti sebuah jenjang pendidikan dan pelatihan yang panjang, memiliki stratifikasi, termasuk dalam sebuah organisasi formal, demi pelayanan kepada publik, memiliki kode etik yang mengatur secara jelas serta juga memilki keahlian di bidang pekerjaan sebagai guru.&lt;br /&gt;Apakah para guru (atau juga dosen) di Indonesia telah memiliki standar seperti yang dituntut secara profesional? Di satu sisi kita dapat mengaakan ya dan di sini lain kita dapat mengatakan belum. Kita dapat mengatakan ya, karena jika dilihat dari sejarah proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah, banyak guru yang telah menghayati perannya dalam mengajar sebagai sebuah pelayanan dan pengabdiannya kepada negara dan kepada masyarakat. Mengajar dengan sepenuh hati, dengan penuh semangat, dengan penuh perhatian dan tanggung jawab. Setiap pagi mereka telah lebih dulu datang ke sekolah, mempersiapkan pelajaran dan menunggu siswa-siswi di pintu masuk sekolah. Mereka berusaha mengenal siswa-siswinya dengan baik, dan malah mereka juga berusaha meengenal orangtua dan lingkungan di mana siswa itu hidup atau berada. Ada semacam relasi dekat antara sekolah, guru, siswa, orangtua dan lingkungan. Walaupun dengan gaji di bawah standar, tetapi mereka menampakkan dan menghayati tanggung jawab mereka sebagai guru yang sungguh-sungguh profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas di atas mulai terasa berbeda dengan para guru sejak sepuluh tahun terakhir. Nampaknya jurang antara peran guru sebagai profesi dan peran guru sebagai tenaga kerja atua buruh semakin tajam. Orang-orang mendaftar diri untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan dengan motivasi menjadi seorang profesi (karena latar belakang pendidikan bukan terarah kepada profesionalisme) tetapi demi mendapatkan pekerjaan. Banyak guru yang hampir selalu menuntut kenaikan gaji banana. Jika tidak dipenuhi oleh sekolah atau negara, maka mereka akan gambek, tidak mengajar dan malah menuntut secara hukum. Proses hukum adalah jalan yang benar untuk menyelesaikan masalah tetapi terkadang para guru mencurahkan tenaga untuk hal ini dan melupakan tanggung jawab untuk mengajar. Memang kita sadari juga bahwa seorang pekerja harus mendapat upah secara adil. Kita dapat mengatakan bahwa jika ada seorang guru yang jatuh pada konsep ini, maka seorang guru dapat disebut sebagai buruh yang bekerja di sekolah untuk mendapatkan upah. Karena itu, seorang gurupun harus ada pembagian yang jelas antara jam kerja, lamanya kerja, jenis kerja dengan gaji yang harus didapat. Pertanyaan kita adalah apa bedanya antara guru dengan buruh bangunan atau buruh yang kerja di jalan raya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan para guru sebelumnya selalu ingin agar anak didiknya menjadi manusia, menjadi orang hebat yang lebih tinggi tinggi jenjang studi dan pangkatnya dari mereka sendiri. Walaupun mereka tidak mengenal kata profesi tetapi mereka telah melaksanakan itu dengan penuh disiplin. yang bertujuan untuk Peranan guru dalam mengajar di sekolah dihadapkan pada dua hal yang di satu sisi bertentangan tetapi di sisi lain saling menyatu di dalam pribadi sang guru, yaitu: antara pengabdian dan pekerjaan. Pengabdian mereka lebih kepada suatu usaha melayani, malah melayani tanpa menuntut imbalan. Pengabdian selalu tertuju kepada kemajuan orang lain (atau masyarakat) tanpa mementingkan apakah ada nilai tambahan berupa gaji kepada diri sendiri atau tidak. Pengabdian selalu bersifat sosial, pelayanan dan tidak menuntut upah maksimal sedangkan pekerjaan lebih kepada kewajiban dan perhitungan ketat tentang upah kerja. Pengabdian bagi mereka adalah suatu ciri khas dari profesionalisme ddan yang dapat memperkaya atau menjadi nilai tambah dari profesi sedangkan pekerjaan mengajar dilihat hanya karena demi gaji dan upah justru mengurangi arti dari proffesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat muatan yang ada dalam kata profesionalisme, maka seorang guru seharusnya mempunyai kemampuan dalam bidang pengajaran, memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang yang diajarkan (aspek cogniti dan skill) serta memiliki semangat pengabdian murni kepada masyarakat, bukan karena demi mendapatkan gaji atau upah, tetapi penngabdian demi cinta dan belas kasih kepada perkembangan dan kemajuan masyarakat. Guru yang mengajar hanya demi mendapatkan gaji di akhir bulan akan tidak utuh pengabdiannya kepada maasyarakat melalu sekolah. Apalagi jika itu didukung oleh tuntutan kenaikan gaji secara terus menerus yang belum dikabulkan. Tidak heran jika guru hanya ke sekolah untuk tanda tangan kehadirannya dan juga tidak mempersiapkan bahan pengajarannya. Atau guru memasuki kelas, tetapi kepada siswa, mereka hanya memberikan buku dan menyuruh seorang siswa menulis di papan tulis, dan siswa yang lainnya mencatatnya di buku tulis masing-masing. Ada juga guru yang tidak mencari bentuk-bentuk pengajaran yang membuat siswa aktif belajar. Mereka at home pada metode lama, bahwa mereka adalah sumber pengetahuan dan siswa tidak tahu apa-apa dan siap menerima apa yang mereka ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menutup mata kepada banyak guru yang mengajar penuh semangat dan selalu membuat suasana kelas menjadi hidup. Banyak dari mereka yang ahli dalam menerapkan metode belajar dan mengajar tanpa mempelajari sebelumnya. Bagi mereka, ini adalah suatu bentuk pengabdian yang baik dan mendukung ciri profesionalisme mereka sebagai guru. Mereka sungguh-sungguh sebagai guru yang berprofesi sebagai guru, dan bukan bekerja sebagai guru yang berprofesi sebagai tukang bisnis, atau mencari nafkah. Ada juga satu hal yang sungguh memprihatinkan: terdapat di antara para guru yang ditugaskan oleh negara mengajar di sekolah, tetapi lebih 70 % dia bekerja di ladang bisnis, di toko miliknya, di galon minyak dan lain. Bagaimana mungkin tenaganya akan dicurahkan kepada profesinya sebagai guru, jika lebih banyak waktu dan tenaga dicurahkan untuk kepentingan bakat dan hoby pribadi dan keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU YANG PROFESIONAL&lt;br /&gt;Untuk menjawab tentang tantangan ketidakprofesionalan seorang guru, maka pemerintah bersama masyarakat seharusnya berusaha menjamin pendidikan bagi para calon guru. Ini sangat penting karena dengan mendidik guru yang baik, kita akan mendapat hasil yang baik pula dari lulusan siswa akan sangat berguna bagi masyarakat dan negara. Perguruan tinggi yang “mencetak” para calon guru seharusnya mendidik mereka untuk sungguh profesional dan menjadi pengabdi-pengabdi unggul kepada masyarakat. Nampaknya aspek ini masih kurang diperhatikan di Perguruan Tinggi. Mereka lebih menfokuskan kepada perluasan wawasan dari mahasiswanya tanpa melatih mereka untuk sungguh mengabdi sebagai seorang yang berprofesi dalam tugas mereka.&lt;br /&gt;Untuk bisa menghasilkan seorang guru yang berprofesional ke masa depan, pemerintah, masayarakat dan pihak universitas seharusnya memperhatikan beberapa aspek seperti: kualifikasi akademik – sebuah gelar doktor atau hukum – yakni, universitas – akademi / lembaga, ahli dalam pengetahuan khusus di bidang yang satu dan profesional serta tidak juga meninggalkan pengetahuan pada bidang-bidang kehidupan yang lainnya, memiliki ketrampilan praktis dan sastra dalam kaitannya dengan profesi, berkualitas tinggi dalam bekerja (contoh): ciptaan, produk, layanan, presentasi, konsultasi, sumber daya serta mampu melakukan penelitian, penguasaan administrasi, pemasaran atau lainnya, punya standar etika profesional, tingkah laku dan bekerja sambil melakukan kegiatan-kegiatan dari satu profesi (sebagai karyawan, wiraswasta orang, karir, perusahaan, bisnis, perusahaan, atau kemitraan / persekutukan / kolega, dll)&lt;br /&gt;Rasanya bukan lagi jamannya untuk menerima para calon guru yang tidak punya keahlian dalam mendidik (dan juga sekaligus membina). Perpaduan antara keahlian dan juga pengabdian yang tulus dan murni demi kemajuan masyarakat dan pribadi siswa adalah hal yang sangat penting. Sebaiknya guru yang mengajar hanya semata-mata demi mendapatkan gaji atau upah, atau hanya demi tempat mencari nafkah, lebih baik tidak akan pernah diterima untuk mengajar karena hanya akan menjadi halangan dan kerugian besar bagi kemajuan siswa dan kemajuan dalam dunia pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-711784860336425390?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/711784860336425390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/profesionalisme-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/711784860336425390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/711784860336425390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/profesionalisme-guru.html' title='PROFESIONALISME GURU'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6517751854120529426</id><published>2010-06-17T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-17T23:55:21.947-07:00</updated><title type='text'>MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya, telah dilakukan Depdiknas. Baik sebelum otonomi daerah maupun sesudah otonomi daerah. Pada era otonomi daerah muncul program pemberdayaan sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah     (M B S ).&lt;br /&gt;MBS akan terlaksana apabila didukung oleh sumber daya manusia ( SDM ) yang memiliki kemampuan, integritas dan kemauan yang tinggi. Salah satu unsur SDM dimaksud adalah guru, di mana guru merupakan faktor kunci keberhasilan peningkatan mutu pendidikan karena sebagai pengelola proses belajar mengajar bagi siswa.&lt;br /&gt;Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional khususnya pendidikan dasaar dan menengah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan pewningkatan mutu manajemen sekolah. Namun berbagai indikator mewujudkan bahwa, mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Sebagian kecil saja sekolah menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan &lt;br /&gt;1. Meningkatkan pemahaman tentang Manajemen Berbasis Sekolah dan manfaatannya&lt;br /&gt;2. Mewujudkan perubahan pada sekolah dengan menerapkan MBS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian dan Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)&lt;br /&gt;Pengertian dan tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan. &lt;br /&gt;Pada sistem MBS sekolah dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah. &lt;br /&gt;MBS juga merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi siswa. Hal ini juga berpotensi untuk meningkatkan kinerja staf, menawarkan partidipasi langsung kepada kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman kepada masyarakat terhadap pendidikan. &lt;br /&gt;Pengertian MBS “Suatu konsep yang menempatkan kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan proses belajar mengajar “ Tujuan MBS Tujuan utama penerapan MBS pada intinya adalah untuk penyeimbangan struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah pelaksanaan proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien. Kewenangan terhadap pembelajaran di serahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah. Disamping itu untuk memberdayakan sekolah agar sekolah dapat melayani masyarakat secara maksimal sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. &lt;br /&gt;Tujuan penerapan MBS adalah untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui kewenangan (otonomi) kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Lebih rincinya MBS bertujuan untuk:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia&lt;br /&gt;2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;&lt;br /&gt;3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya; dan&lt;br /&gt;4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dan Implementasi MBS Prinsip utama pelaksanaan MBS ada 5 (lima) hal yaitu:&lt;br /&gt;1. Fokus pada mutu&lt;br /&gt;2. Bottom-up planning and decision making&lt;br /&gt;3. Manajemen yang transparaN&lt;br /&gt;4. Pemberdayaan masyarakat&lt;br /&gt;5. Peningkatan mutu secara berkelanjutan&lt;br /&gt;Prinsip MBS Dalam mengimplementasikan MBS terdapat 4 (empat) prinsip yang harus difahami yaitu: kekuasaan; pengetahuan; sistem informasi; dan sistem penghargaan.&lt;br /&gt;Kekuasaan Kepala sekolah memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk mengambil keputusan berkaitan dengan kebijakan pengelolaan sekolah dibandingkan dengan sistem pendidikan sebelumnya. Kekuasaan ini dimaksudkan untuk memungkinkan sekolah berjalan dengan efektif dan efisien. Kekuasaan yang dimiliki kepala sekolah akan efektif apabila mendapat dukungan partisipasi dari berbagai pihak, terutama guru dan orangtua siswa. Seberapa besar kekuasaan sekolah tergantung seberapa jauh MBS dapat diimplementasikan. Pemberian kekuasaan secara utuh sebagaimana dalam teori MBS tidak mungkin dilaksanakan dalam seketika, melainkan ada proses transisi dari manajemen yang dikontrol pusat ke MBS. Kekuasaan yang lebih besar yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam pengambilan keputusan perlu dilaksanakan dengan demokratis antara lain dengan :&lt;br /&gt;1. Melibatkan semua fihak, khususnya guru dan orangtua siswa&lt;br /&gt;2. Membentuk tim-tim kecil di level sekolah yang diberi kewenangan untuk mengambil keputusan yang relevan dengan tugasnya&lt;br /&gt;3. Menjalin kerjasama dengan organisasi di luar sekolah.&lt;br /&gt;Pengetahuan Kepala sekolah dan seluruh warga sekolah harus menjadi seseorang yang berusaha secara terus menerus menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Untuk itu, sekolah harus memiliki sistem pengembangan sumber daya manusia (SDM) lewat berbagai pelatihan atau workshop guna membekali guru dengan berbagai kemampuan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Pengetahuan yang penting harus dimiliki oleh seluruh staf adalah :&lt;br /&gt;1. Pengetahuan untuk meningkatkan kinerja sekolah,&lt;br /&gt;2. Memahami dan dapat melaksanakan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan quality assurance, quality control, self assessment, school review, bencmarking, SWOT, dll).&lt;br /&gt;3. Sistem Informasi Sekolah yang melakukan MBS perlu memiliki informasi yang jelas berkaitan dengan program sekolah. Informasi ini diperlukan agar semua warga sekolah serta masyarakat sekitar bisa dengan mudah memperoleh gambaran kondisi sekolah. Dengan informasi tersebut warga sekolah dapat mengambil peran dan partisipasi. Disamping itu ketersediaan informasi sekolah akan memudahkan pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas sekolah. Infornasi yang amat penting untuk dimiliki sekolah antara lain yang berkaitan dengan: kemampuan guru dan Prestasi siswa.&lt;br /&gt;4. Sistem Penghargaan Sekolah yang melaksanakan MBS perlu menyusun sistem penghargaan untuk memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang berprestasi. Sistem penghargaan ini diperlukan untuk mendorong karier warga sekolah, yaitu guru, karyawan dan siswa. Dengan sistem ini diharapkan akan muncul motivasi dan ethos kerja dari kalangan sekolah. Sistem penghargaan yang dikembangkan harus bersifat adil dan merata.&lt;br /&gt;Kewenangan yang Didesentralisasikan&lt;br /&gt;1. Perencanaan dan Evaluasi Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sekolah sesuai dengan kebutuhannya (school-based plan). Oleh karena itu, sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan mutu inilah kemudian sekolah membuat rencana peningkatan mutu. Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;2. Pengelolaan Kurikulum Kurikulum yang dibuat oleh Pemerintah Pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Oleh karena itu, dalam impelentasinya sekolah dapat mengembangkan (memperdalam, memperkaya, dan memodifikasi), namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. Selain itu, sekolah diberi kebebasan untuk mengembanhgkan kurikulum muatan lokal.&lt;br /&gt;3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan penagjaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, karakteristik guru, dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Secara umum, strategi/metode/teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa.&lt;br /&gt;4. Pengelolaan Ketenagaan Pengelolaan ketenagaaan, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, rekrutmen, pengembangan, hadiah dan sanksi (reward and punishment), hubungan kerja, sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru, tenaga administrasi, laboran, dan sebagainya) dapat dilakukan oleh sekolah, kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh Pemerintah Pusat/Daerah.&lt;br /&gt;5. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemutakhirannya.&lt;br /&gt;6. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan, terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga desentraslisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities) sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.&lt;br /&gt;7. Pelayanan Siswa Pelayanan siswa, mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan/pembinaan/ pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga sampai pada pengurusan alumni, sebenarnya dari dahulu sudah didesentralisasikan. Karena itu, yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.&lt;br /&gt;8. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. Dalam arti yang sebenarnya, hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentraslisasikan. Oleh karena itu, sekali lagi yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pengelolaan Iklim Sekolah Iklim sekolah (fisik dan non fisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan/espektasi yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (student-centered activities) adalah contoh-contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Iklmi sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah&lt;br /&gt;Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)&lt;br /&gt;Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah, maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS, bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya. Dengan demikian, MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. &lt;br /&gt;Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang berkepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders). Diharapkan dengan menerapkan manajemen pola MBS, sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal berikut:&lt;br /&gt;• Menyadari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi sekolah tersebut&lt;br /&gt;• Mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan &lt;br /&gt;• Mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya bertanggungjawab terhadap orangtua, masyarakat, lembaga terkait, dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah&lt;br /&gt;• Persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;Ciri-ciri Sekolah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), misalnya:&lt;br /&gt;• Upaya meningkatkan peran serta Komite Sekolah, masyarakat, DUDI (dunia usaha dan dunia industri) untuk mendukung kinerja sekolah.&lt;br /&gt;• Program sekolah disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administratif saja.&lt;br /&gt;• Menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personil dan fasilitas)&lt;br /&gt;• Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi lingkungan sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.&lt;br /&gt;• Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.&lt;br /&gt;• Meningkatkan profesionalisme personil sekolah.&lt;br /&gt;• Meningkatnya kemandirian sekolah di segala bidang.&lt;br /&gt;• Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah (misal: KS, guru, Komite Sekolah, tokoh masyarakat,dll).&lt;br /&gt;• Adanya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran pendidikan sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Pengertian MBS “Suatu konsep yang menempatkan kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan proses belajar mengajar “ Tujuan MBS Tujuan utama penerapan MBS pada intinya adalah untuk penyeimbangan struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah pelaksanaan proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien. Kewenangan terhadap pembelajaran di serahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah.&lt;br /&gt;Prinsip MBS dalam mengimplementasikan MBS terdapat 4 (empat) prinsip yang harus difahami yaitu: kekuasaan; pengetahuan; sistem informasi; dan sistem penghargaan. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang berkepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran &lt;br /&gt;Sekolah sebagai penyelenggara utama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dalam penyelenggaraannya sebaik lebih ditingkatkan lagi terutama bertindak secara kreatif dalam mengelola sekolah sehingga menciptakan sekolah yang bermutu dan berkualitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6517751854120529426?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6517751854120529426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/manajemen-berbasis-sekolah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6517751854120529426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6517751854120529426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/manajemen-berbasis-sekolah.html' title='MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-6814298356833963125</id><published>2010-06-07T03:38:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T00:35:48.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>TUPOKSI KEPALA SEKOLAH (SD/MI/SMP/MTs)</title><content type='html'>Konsepnya adalah EMASLIM ( Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader,&lt;br /&gt;Inovator, Motivator)&lt;br /&gt;A. Sebagai Edukator&lt;br /&gt;1. membimbing Guru&lt;br /&gt;2. membimbing Karyawan&lt;br /&gt;3. membimbing Siswa&lt;br /&gt;4. membimbing Staf&lt;br /&gt;B. Sebagai Manager&lt;br /&gt;1. menyusun program&lt;br /&gt;2. menyusun personal dalam organisasi sekolah&lt;br /&gt;3. menggerakkan staf, guru, dan karyawan&lt;br /&gt;4. mengoptimalkan sumber daya sekolah&lt;br /&gt;C. Sebagai Administrator&lt;br /&gt;1. mengelola administrasi KBM dan Bimbingan dan Konseling (BK)&lt;br /&gt;2. mengelola administrasi kesiswaan&lt;br /&gt;3. mengelola administrasi ketenagaan&lt;br /&gt;4. mengelola administrasi keuangan&lt;br /&gt;5. mengelola administrasi sarana prasarana&lt;br /&gt;D. Sebagai Supervisor&lt;br /&gt;1. menyusun program supervisi&lt;br /&gt;2. melaksanakan program supervisi&lt;br /&gt;3. menggunakan hasil supervisi&lt;br /&gt;E. Sebagai Leader&lt;br /&gt;1. memiliki kepribadian yang kuat&lt;br /&gt;2. memahami kondisi anak buah yang baik&lt;br /&gt;3. memiliki Visi dan memahami Misi sekolah&lt;br /&gt;4. memiliki kemampuan mengambil keputusan&lt;br /&gt;5. memiliki kemampuan berkomunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Sebagai Inovator&lt;br /&gt;1. kemampuan mencari dan menemukan gagasan baru untuk pembaharuan&lt;br /&gt;sekolah&lt;br /&gt;2. kemampuan melakukan pembaharuan di sekolah&lt;br /&gt;G. Sebagai Motivator&lt;br /&gt;1. kemampuan mengatur lingkungan kerja (Fisik)&lt;br /&gt;2. kemampuan mengatur suasana kerja (Non-fisik)&lt;br /&gt;3. kemampuan menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUPOKSI Pengawas (SD/MI/SMP/MTs)&lt;br /&gt;Konsepnya adalah SEM&lt;br /&gt;A. Supervisor&lt;br /&gt;1. menyusun program supervisi untuk Kepala Sekolah dan guru baik fisik maupun&lt;br /&gt;non fisik yang meliputi administrasi, sarana dan prasarana (sapras),&lt;br /&gt;KBM, kesiswaan, ketenagaan, penerimaan siswa baru, evaluasi dan lingkungan&lt;br /&gt;sekolah&lt;br /&gt;2. melaksanakan program supervisi&lt;br /&gt;3. mengelola hasil supervisi&lt;br /&gt;4. melaporkan hasil supervisi kepada Korwas, Diknas, dan LPMP&lt;br /&gt;B. Edukator&lt;br /&gt;1. membimbing, mengarahkan dan memberi saran-saran kepada kepala sekolah,&lt;br /&gt;guru, siswa dan staf&lt;br /&gt;2. mendampingi kegiatan KKKS dan KKG, MKKKS dan MGMP&lt;br /&gt;C. Motivator&lt;br /&gt;1. mengusulkan kepala sekolah, guru dan staf untuk mengikuti pelatihan untuk&lt;br /&gt;meningkatkan profesionalisme&lt;br /&gt;2. mengadakan seleksi peserta untuk mengikuti lomba kepala sekolah, guru,&lt;br /&gt;dan siswa berprestasi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-6814298356833963125?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/6814298356833963125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/tupoksi-kepala-sekolah-sdmismpmts.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6814298356833963125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/6814298356833963125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/06/tupoksi-kepala-sekolah-sdmismpmts.html' title='TUPOKSI KEPALA SEKOLAH (SD/MI/SMP/MTs)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4683103831805255344</id><published>2010-05-01T07:38:00.001-07:00</published><updated>2010-05-01T07:38:51.693-07:00</updated><title type='text'>NEGARA DAN KONSTITUSI (bag. 2)</title><content type='html'>A.Konsitusi indonesia&lt;br /&gt;  Dalam proses reformasi hukum dewasa ini berbagai kajian ilmiah tentang UUD 1945, banyak yang melontarkan ide untuk melakukan amandemen terhadap UUD 1945. Memang amandemen tidak dimaksudkan untuk mengganti sama sekali UUD 1945, akan tetapi merupakan prosedur penyempurnaan terhadap UUD 1945 tanpa harus langsung mengubah UUD-nya itu sendiri.&lt;br /&gt;  Amandemen terhadap UUD 1945 dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak tahun 1999, dimana amandemen pertama dilakukan dengan memberikan tambahan dan perubahan terhadap pasal 9 UUD 1945.&lt;br /&gt;1.Hukum Dasar Tertulis (UUD)&lt;br /&gt; Secara umum menurut E.C.S Wade dalam bukunya Constitutional law, UUD menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu Negara dan menetukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. UUD dapat dipandang sebagai lembaga atau sekumpul asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan tersebut dibagi antara Badan Legislatif, Eksekutif dan Badan Yudikatif.&lt;br /&gt;Sifat-sifat UUD 1945 sebagai berikut :&lt;br /&gt;a)Oleh karena sifatnya tertulis maka rumusannya jelas, &lt;br /&gt;b)Penjelasan UUD 1945 bersifat singkat dan simple,&lt;br /&gt;c)Memuat norma-norma, aturan-aturan serta ketentuan yang dapat dan harus dilaksanakan secara konstitusional.&lt;br /&gt;d)UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia merupakan hukum positif dan tinggi.&lt;br /&gt;2.Hukum Dasar Yang Tidak Tertulis (Convensi)&lt;br /&gt;Convensi adalah hukum dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun sifatnya tidak tertulis.&lt;br /&gt;Sifat convensi adalah :&lt;br /&gt;a)Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek penyelenggara Negara.&lt;br /&gt;b)Tidak bertentangan dengan UUD dan berjalan sejajar.&lt;br /&gt;c)Diterima oleh seluruh rakyat.&lt;br /&gt;d)Bersifat sebagai pelengkap, sehingga memungkinkan sebagai aturan-aturan dasar yang tidak terdapat dalam UUD.&lt;br /&gt;3.Konstitusi&lt;br /&gt; Disamping pengertian UUD, dipergunakan juga istilah lain yaitu ”Konstitusi”. Istilah berasal dari bahasa Inggris ”Contitution”. Terjemahan dari istilah tersebut UUD.&lt;br /&gt; Pengertian konstitusi dalam praktek ketatanegaraan umumnya dapat mempunyai arti lebih luas dari pada pengertian UUD, karena pengertian UUD hanya meliputi konstitusi tertulis saja, dan selain itu masih terdapat konstitusi tidak tertulis yang tidak tercakup dalam UUD.&lt;br /&gt;4.Sistem Pemerintahan Negara Menurut UUD 1945 Hasil Amandemen 2002&lt;br /&gt; Sistem pemerintahan Indonesia ini dibagi atas tujuh secara sistematis merupakan kedaulatan rakyat, oleh karena itu sistem pemerintahan Negara ini dikenal dengan tujuh kunci pokok sistem pemerintahan Negara yang dirinci sbb:&lt;br /&gt;a)Indonesia ialah Negara Yang Berdasarkan Atas Hukum (Rechtstaat)&lt;br /&gt;b)Sistem Kostitusional&lt;br /&gt;c)Kekuasaan Negara yang Tertinggi di Tangan Rakyat&lt;br /&gt;d)Presiden ialah Penyelenggara Pemerintahan Negara yang Tertinggi di Samping MPR dan DPR&lt;br /&gt;e)Presiden Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR&lt;br /&gt;f)Menteri Negara ialah Pembantu Presiden, Menteri Negara tidak Bertanggungjawab Kepada Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;g)Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak-Terbatas.&lt;br /&gt;5.Negara Indonesia Adalah Negara Hukum&lt;br /&gt; Menurut penjelasan UUD 1945, Negara Indonesia adalah Negara Hukum, Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila dan bukan berdasarkan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri suatu Negara Hukum adalah :&lt;br /&gt;a.Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi dan kebudayaan.&lt;br /&gt;b.Peradilan yang bebas dari suatu pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak.&lt;br /&gt;c.Jaminan kepastian hukum, yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami dapat dilaksanakan dan aman dalam melaksanakannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ningsih Rini, 2006, ”PKN”, Jakarta : Yudistira.&lt;br /&gt;UUD 1945 Yang Diamandemen 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4683103831805255344?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4683103831805255344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/negara-dan-konstitusi-bag-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4683103831805255344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4683103831805255344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/negara-dan-konstitusi-bag-2.html' title='NEGARA DAN KONSTITUSI (bag. 2)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-7854246671194601350</id><published>2010-05-01T07:33:00.001-07:00</published><updated>2010-05-01T07:36:39.356-07:00</updated><title type='text'>NEGARA DAN KONSTITUSI (bag. 1)</title><content type='html'>A.Pengertian Negara &lt;br /&gt;Secara holistic pengertian Negara senantiasa berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu pada zaman yunani kuno para ahli filsafat Negara merumuskan pengertian Negara secara beragam. Aristoteles yang hidup pada tahun 384-322 SM, merumuskan Negara dalam bukunya Politika, yang disebutnya sebagai Negara Polis, yang pada saat itu masih difahami Negara dalam suatu wilayah yang kecil. Dalam pengertian itu Negara disebut sebagai Negara hukum, yang didalamnya terdapat sejumlan warga Negara yang ikut dalam permusyawaratan (ecclesia). Oleh karena itu menurut Areistoteles keadilan  merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya Negara yang baik, demi terwujudnya cita-cita seluruh warganya.&lt;br /&gt; Berikut ini konsep pengertian Negara modern yang dikemukakan oleh para tokoh antara lain : Roger H. Soltau, mengemukakan bahwa Negara adalah sebagai alat agency atau wewenang lauthority yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat (Soltau, 1961). Sementara itu menutut Harold J. Lasky, bahwa Negara adalah merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung dari pada invidu atau kelompok, yang merupakan bagian dari masyarakat itu.&lt;br /&gt;Negara Indonesia&lt;br /&gt; Negara Indonesia tumbuh dan berkembang dengan dilatar belakangi oleh kekuasaan dan penindasan bangsa asing seperti dijajah Belanda dan Jepang. Selain itu yang khas dari bangsa Indonesia adalah unsure etnis yang membentuk bangsa itu sangat beraneka ragam, baik budaya, seperti bahasa, adat istiadat serta nilai-nilai yang dimiliki. Dengan demikian terbentuknya bangsa Indonesia melalui suatu proses yang panjang.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Negara Indonesia dapat dikaji melalui makna yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea I menjelaskan latar belakang terbentuknya Negara dan bangsa Indonesia yaitu tentang kemerdekaan adalah hak kodrat segala bangsa di dunia dan penjajahan itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan oleh karena itu harus dihapuskan. Alinea II menjelaskan tentang perjalanan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan, Alinea III menjelaskan tentang kedudukan kodrat manusia Indonesia sebagai bangsa yang relijius yang kemudian pernyataan kemerdekaan, adapun Alenia IV menjelaskan tentang terbentuknya bangsa Indonesia yang disusun berdasarkan UUD Negara, wilayah Negara serta dasar filosofis Negara yaitu Pancasila.&lt;br /&gt;B.Konstitusionalisme&lt;br /&gt;Basis pokok konstitusionalisme adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) diantara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan berkaitan dengan Negara.&lt;br /&gt;Consensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme dizaman modern dewasa ini pada umumnya dipahami berdasarkan pada tiga elemen kesepakatan atau consensus, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama,&lt;br /&gt;2.Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan Negara,&lt;br /&gt;3.Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur ketatanegaraan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-7854246671194601350?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/7854246671194601350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/negara-dan-konstitusi-bag-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7854246671194601350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/7854246671194601350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/negara-dan-konstitusi-bag-1.html' title='NEGARA DAN KONSTITUSI (bag. 1)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-1195752884885320713</id><published>2010-05-01T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T09:53:51.044-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Pelajaran'/><title type='text'>Penggolongan Hewan Berdasarkan Makanan</title><content type='html'>Makanan hewan-hewan tersebut ada yang berasal dari tumbuhan dan ada yang berasal dari hewan. Makanan yang berasal dari tumbuhan, diantaranya rumput, buah-buahan dan biji-bijian. Adapun, makanan yang berasal dari hewan, di antaranya daging. Berdasarkan jenis makanannya tersebut, hewan-hewan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa golongan. Penggolongan tersebut, antara lain, herbivor (pemakan tumbuhan), karnivor (pemakan daging), dan omnivor (pemakan tumbuhan dan daging).&lt;br /&gt;1. Hewan Pemakan Tumbuhan (Herbivor)&lt;br /&gt;Hewan yang memakan tumbuhan disebut&lt;br /&gt;herbivor. Hewan apa saja yang termasuk herbivor ? Selain herbivor yang hidup di darat seperti kambing, kuda, dan gajah, ada pula burung yang tergolong herbivor. Burung pemakan tumbuhan ini memiliki ciri khusus, terutama pada bentuk paruhnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGwLnuiPORI/AAAAAAAAARk/ZnthScSemsM/s1600/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGwLnuiPORI/AAAAAAAAARk/ZnthScSemsM/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506789221501712658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hewan Pemakan Daging (Karnivor)&lt;br /&gt;Hewan pemakan daging (karnivor) merupakan hewan yang mencari makan dengan cara berburu hewan lain. Untuk berburu dan mencari mangsa, hewan karnivor biasanya memiliki senjata.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGwMIAjg5uI/AAAAAAAAARs/TY9FEqN7meQ/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGwMIAjg5uI/AAAAAAAAARs/TY9FEqN7meQ/s320/1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506789776094717666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hewan karnivor banyak sekali jenisnya. Selain karnivor yang hidup di darat, ada pula karnivor yang dapat terbang dan karnivor yang hidup di air. Perhatikan Gambar 3.6. Karnivor yang hidup di darat contohnya singa. Sementara itu, karnivor yang dapat terbang contohnya burung hantu dan karnivor yang hidup di air contohnya hiu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hewan Pemakan Tumbuhan&lt;br /&gt;dan Daging (Omnivor)&lt;br /&gt;Hewan pemakan tumbuhan dan daging (omnivor) terkadang disebut juga sebagai hewan pemakan segala. Hewan omnivor tidak memiliki&lt;br /&gt;ciri khusus yang menunjang untuk jenis makanannya. Contoh hewan omnivor ialah tikus dan babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan-hewan tersebut dapat memakan tumbuhan dan hewan, karena hewan omnivore memiliki organ pencernaan yang dapat digunakan untuk memakan makanan yang bersumber dari tumbuhan dan hewan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-1195752884885320713?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/1195752884885320713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/penggolongan-hewan-berdasarkan-makanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1195752884885320713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/1195752884885320713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/05/penggolongan-hewan-berdasarkan-makanan.html' title='Penggolongan Hewan Berdasarkan Makanan'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGwLnuiPORI/AAAAAAAAARk/ZnthScSemsM/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-4331047601618346708</id><published>2010-04-27T10:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T09:57:21.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Pelajaran'/><title type='text'>Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournaments (TGT)</title><content type='html'>TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing - masing.&lt;br /&gt;Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan  bersama - sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.&lt;br /&gt;Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam    meja - meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing - masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. &lt;br /&gt;Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : &lt;br /&gt;1. Tahap penyajian kelas (class precentation), &lt;br /&gt;2. Belajar dalam kelompok (teams), &lt;br /&gt;3. Permainan (geams), &lt;br /&gt;4. Pertandingan (tournament), &lt;br /&gt;5. Perhargaan kelompok ( team recognition).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-4331047601618346708?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/4331047601618346708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-tgt.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4331047601618346708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/4331047601618346708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-tgt.html' title='Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournaments (TGT)'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-3292380032556469304</id><published>2010-04-15T04:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T04:39:28.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>STANDAR PENILAIAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ( BSNP )</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Pada peraturan pemerintah diamanatkan tiga jenis penilaian yaitu : Penilaian oleh pendidik dilakukan secara berkesinambunagn untuk mencapai proses, kemajuan, dan perbaikan hasil pembelajaran.&lt;br /&gt;Penilaian oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran sesuai programnya sebagai bentuk transparansi, professional , dan akuntabel lembaga&lt;br /&gt;Penilaian oleh pemerintah bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu. Penilaian oleh pemerintah dalam pelaksanaannya diserahkan kepada BSNP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subunit 1&lt;br /&gt;Latar Belakang Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;1. Standar Penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;Standar nasional pendidikan disusun agar dapat dijadikan criteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara kesatuan Republlik Indonesia. Standar nasional pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidkan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sedang tujuan standar nasional pendidkan adalah untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan  kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.&lt;br /&gt;Dalam pasal 1 ayat 17 Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yaitu pasal 1 ayat 1 PP no.19 tahun 2005 dinyatakan bahwa lingkup dari standar nasional pendidikan meliputi 8 standar yaitu :&lt;br /&gt;a. Standar isi&lt;br /&gt;b. Standar proses&lt;br /&gt;c. Standar kompetensi lulusan&lt;br /&gt;d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan&lt;br /&gt;e. Standar sarana dan prasarana&lt;br /&gt;f. Standar pengelolaan&lt;br /&gt;g. Standar pembiayaan&lt;br /&gt;h. Standar penilaian pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Landasan Filosofis dan Yuridis Standar penilaian&lt;br /&gt;a. Landasan Filosofis&lt;br /&gt;Pernyataan tersebut mengandung pengertian bahwa setiap siswa harus diperlakukan sama dan meminimalkan semua bentuk prosedur ataupun tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu atau sekelompok siswa. Disamping itu penilaian yang adil harus tidak membedakan latar belakang sosial ekonami, budaya , bahasa dan gender.&lt;br /&gt;b. Landasan Yuridis&lt;br /&gt;Untuk memberikan penilaian pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada kelompok mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu dan teknologi menurut PP no.19 pasal 66, dinyatakan secara tegas akan dilakukan dalam bentuk ujian nasional yang dilakukan secara obyektif, berkeadilan , dan akuntabel serta diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Badan Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;Ketentuan tentang tugas dan wewenang BSNP tertuang pada ayat 3 yang menyatakan bahwa untuk melaksanakan tugas-tugasnya BSNP mempunyai wewenang untuk :&lt;br /&gt;a. Mengembangkan Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;b. Menyelenggarakan ujian nasional&lt;br /&gt;c. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan&lt;br /&gt;d. Merumuskan criteria kelulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subunit 2&lt;br /&gt;Standar Penilaian Pendidikan Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;Menurut BSNP penilaian adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja peserta didik, hasil penilaian digunakan untuk melakukan evaluasi yaitu pengambilan keputusan terhadap ketuntasan belajar siswa dan efektifitas proses pembelajaran.&lt;br /&gt;1. Prinsip penilaian menurut BSNP&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian hasil belajar pesserta didik didaasarkan pada data sahih yang diperoleh melaui prosedur dan instrument yang memenuhi persyaratan denagn mendasarkan diri pada prinsip-prinsip sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Mendidik&lt;br /&gt;b. Terbuka dan transparan&lt;br /&gt;c. Menyeluruh &lt;br /&gt;d. Terpadu denagn pembelajaran&lt;br /&gt;e. Obyektif&lt;br /&gt;f. Sistematis&lt;br /&gt;g. Berkesinambungan&lt;br /&gt;h. Adil&lt;br /&gt;i. Pelaksanaan penilaian menggunakan acuan kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pedoman penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;BSNP dalam pedoman umum penilaian mengemukakan adanya standar penilaian oleh pendidik dan standar penilaian oleh satuan pendidikan .Standar penilaian oleh pendidik merupakan standar yang mencakup&lt;br /&gt;a. Standar umum penilaian&lt;br /&gt;b. Standar perencanaan penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;c. Standar pelaksanaan penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;d. Standar pengolahan dan pelaporan hasil penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;e. Standar pemanfaatan hasil pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Standar Penilaian Oleh Satuan Pendidikan &lt;br /&gt;Dalam memberi batasan standar penilaian hasil belajar yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan BSNP mengemukakan dua standar pokok yaitu :&lt;br /&gt;a. Standar penentuan kenaikan kelas&lt;br /&gt;b. Standar penentuan kelulusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subunit 3&lt;br /&gt;Mekanisme dan Prosedur Penilaian Menurut BSNP&lt;br /&gt;1. Mekanisme dan Prosedur Penilaian &lt;br /&gt;a. Dalam proses penilaian perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut :&lt;br /&gt;b. Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi&lt;br /&gt;c. Penilaian menggunakan acuan criteria&lt;br /&gt;d. Penilaian dilakukan secara keseluruhan dan berkelanjutan&lt;br /&gt;e. Hasil penilaian digunakan untuk menentukan tindak lanjut&lt;br /&gt;f. Penilaian harus sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dengan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;2. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik &lt;br /&gt;Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil pembelajaran, sehingga secara lebih terperinci dapat dijelaskan bahwa penilaian oleh pendidik ini digunakan untuk :&lt;br /&gt;a. Menilai pencapaian kompetensi peserta dididk&lt;br /&gt;b. Sebagai bahan penyusunan laporan hasil belajar&lt;br /&gt;c. Memperbaiki proses pembelajaran&lt;br /&gt;d. Membantu siswa untuk mencapai perkembangan optimal dalam proses dan hasil pembelajaran&lt;br /&gt;e. Membantu dalam penilaian kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan&lt;br /&gt;Dijelaskan lebih jauh bahwa ada dua sistem yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mempromosikan siswanya ketingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu :&lt;br /&gt;a. Sistem kredit atau beban belajar&lt;br /&gt;b. Sistem kenaikan kelas (grade)&lt;br /&gt;4. Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah&lt;br /&gt;Dalam ayat 1 pasal 66 PP no.19 tahun 2005 dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam bentuk ujian nasional.&lt;br /&gt;Pada pasal 68 juga ditegaskan bahwa hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan :&lt;br /&gt;a. Pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan&lt;br /&gt;b. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya&lt;br /&gt;c. Penentuan kelulusan&lt;br /&gt;d. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan&lt;br /&gt;5. Teknik Penilaian Menurut BSNP&lt;br /&gt;Menurut pedoman umum BNSP, teknik penilaian yang dapat digunakan secara komplementer ataupun  sendiri-sendiri sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai antara lain :&lt;br /&gt;a. Tes kinerja&lt;br /&gt;b. Demonstrasi&lt;br /&gt;c. Observasi&lt;br /&gt;d. Penugasan &lt;br /&gt;e. Portofolio &lt;br /&gt;f. Tes tertulis&lt;br /&gt;g. Tes lisan&lt;br /&gt;h. Jurnal &lt;br /&gt;i. Wawancara&lt;br /&gt;j. Inventori&lt;br /&gt;k. Penilaian diri&lt;br /&gt;l. Penilaian antar teman (penilaian sejawat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subunit  4&lt;br /&gt;1. Evaluasi hasil Belajar oleh Pemerintah&lt;br /&gt;Tujuan penyelenggaraan UAN adalah :&lt;br /&gt;a. Untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa&lt;br /&gt;b. Mengukur tingkat pendidikan pada tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan sekolah&lt;br /&gt;c. Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, propinsi,kabupaten/kota dan sekolah kepada masyarakat&lt;br /&gt;2. Pro dan Kontra Pelaksanaan Ujian Nasional&lt;br /&gt;Upaya sosialisasi dan penyadaran kepada semua stakeholder  tentang pemahaman fungsi UNAS dan standar  kompetensi lulusan kepada siswa, orang tua guru maupun semua staf sekolah. Agar semua termotifasi untuk mengarahkan pembelajaran ke pencapaian standar kompetensi minimal yang harus dikuasai siswa ; orang tua akan memotivasi dan membimbing belajar anaknya, guru akan mengoptimalkan proses pembelajarannya untuk membelajarkan siswa mencapainya, demikian juga seluruh staf sekolah maupun berbagai pihak terkait. Bila secara nyata standar kompetensi ini telah tercapai, kapanpun di evaluasi, siapapun yang melakukan evaluasi, bentuk soal manapun, termasuk penyelenggaraan UNAS bukan lagi menjadi permasalahan yang besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-3292380032556469304?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/3292380032556469304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/standar-penilaian-badan-standar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3292380032556469304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/3292380032556469304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/standar-penilaian-badan-standar.html' title='STANDAR PENILAIAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ( BSNP )'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-5769737363853372444</id><published>2010-04-15T04:36:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T04:37:50.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>TIPE / GAYA KEPEMIMPINAN</title><content type='html'>Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.&lt;br /&gt;Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.&lt;br /&gt;1. Teori Genetis (Keturunan)&lt;br /&gt; Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.&lt;br /&gt;2. Teori Sosial&lt;br /&gt; Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teori Ekologis. &lt;br /&gt;Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.&lt;br /&gt;Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).&lt;br /&gt;Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.&lt;br /&gt;Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipologi Kepemimpinan &lt;br /&gt;Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).&lt;br /&gt;1. Tipe Otokratis. &lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.&lt;br /&gt;2. Tipe Militeristis&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari bawahannya; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.&lt;br /&gt;3. Tipe Paternalistis. &lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.&lt;br /&gt;4. Tipe Karismatik. &lt;br /&gt;Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tipe Demokratis. &lt;br /&gt;Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-5769737363853372444?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/5769737363853372444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/tipe-gaya-kepemimpinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5769737363853372444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/5769737363853372444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/04/tipe-gaya-kepemimpinan.html' title='TIPE / GAYA KEPEMIMPINAN'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2539573776948735691</id><published>2010-03-26T00:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T02:29:00.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>SDN TAMBAK SIRANG BARU KECAMATAN GAMBUT KAB. BANJAR KALSEL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/S6xsEaO-Z0I/AAAAAAAAAN4/cRBFNnrf8Zw/s1600/DDDDDDDDDDD.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 185px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/S6xsEaO-Z0I/AAAAAAAAAN4/cRBFNnrf8Zw/s320/DDDDDDDDDDD.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452852071856236354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah dan Guru SDN Tambak Sirang Baru beserta siswa kelas VI tahun ajaran 2009 -2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGj__9lFPlI/AAAAAAAAARM/F_vEDb8ZrBU/s1600/DSC00594.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGj__9lFPlI/AAAAAAAAARM/F_vEDb8ZrBU/s320/DSC00594.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505932018787368530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan setiap hari kamis dan jum'at yaitu senam kesehatan jasmani, kegiatan ini diawasi oleh guru pembina ekstrakurikuler sekaligus guru agama di SDN Tambak Sirang baru yaitu Bapak NORHADI, A.Ma.&lt;br /&gt;Walaupun sarana dan prasarana yang kurang mendukung tetapi siswa tetap antusias dalam mengikuti kegiatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGkDYyFQqNI/AAAAAAAAARU/_FSEOIA1FG0/s1600/DSC00620.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/TGkDYyFQqNI/AAAAAAAAARU/_FSEOIA1FG0/s320/DSC00620.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505935743732721874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Proses Belajar Mengajar yang dilaksanakan di kelas IV pada mata pelajaran matematika, Ibu Rabiatul Adawiah melaksanakan pembelajaran ini dengan menggunakan model PAIKEM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5966983443293136744-2539573776948735691?l=www.sriudin.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.sriudin.com/feeds/2539573776948735691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/03/sdn-tambak-sirang-baru-kecamatan-gambut.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2539573776948735691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5966983443293136744/posts/default/2539573776948735691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.sriudin.com/2010/03/sdn-tambak-sirang-baru-kecamatan-gambut.html' title='SDN TAMBAK SIRANG BARU KECAMATAN GAMBUT KAB. BANJAR KALSEL'/><author><name>sriudin  (Sahrudin &amp;amp;Sri Iriani)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-iPhPF7-SNr8/Tp6SlYLnenI/AAAAAAAAAhs/JGiiDpAuQbY/s220/ddss.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ezEauyzK0rE/S6xsEaO-Z0I/AAAAAAAAAN4/cRBFNnrf8Zw/s72-c/DDDDDDDDDDD.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5966983443293136744.post-2404209351212834817</id><published>2010-03-25T03:31:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T16:00:33.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><title type='text'>SISTEMATIKA PROPOSAL PTK</title><content type='html'>1. 1. JUDUL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 2. LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 3. PERMASALAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan  refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 4. CARA PEMECAHAN MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 5. TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian – bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan – rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 6. KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini diuraikan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternative, yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan  kajian baik pengalaman peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku – pelaku PTK lain disamping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aras  kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. 7. RENCANA PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan,tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantive permasalahan seperti Matematika kelas II SMPLB atau bahasa inggris kelas III SMLB, juga dikemukakan pada bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Variabel yang diselidiki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan titik – titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Rencana Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)                  Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat – alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain – lin yang terkait bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternative – alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen LPTK juga dikemukakan pada bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)      Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)      Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)      Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Data dan cara pengumpilannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan juranal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur ases
